Friksi Dan Ambisi
EGO dan narasi masa lalu menguji ruang ganti Timnas Prancis. Dua megabintang Les Bleus, Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele terlibat persetaruan dingin.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Bsafaat
Di atas lapangan, Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele adalah simbol kehebatan sepak bola Prancis.Di luar lapangan, mereka adalah sahabat karib yang telah bertahuntahun berbagi suka dan duka.
Namun, ketika ambisi individu bertajuk Ballon d’Or mulai diperbincangkan, ego dan narasi masa lalu sempat menguji keharmonisan hubungan mereka, menciptakan riak kecil di dalam ruang ganti Timnas Prancis.
Ketegangan bermula dari kilas balik perjalanan karier yang berbeda.
Mbappe, yang kini berseragam Real Madrid, sejak awal kariernya selalu dipandang sebagai “anak emas” yang ditakdirkan bersinar.
Sebaliknya, jalan Dembele jauh lebih terjal.
Bintang Paris Saint- Germain itu harus melewati badai cedera dan kritik tajam sebelum akhirnya bisa berdiri sejajar di level tertinggi.
Perbedaan sudut pandang tentang siapa yang lebih berdarah-darah inilah yang sempat memicu spekulasi hangat di media.
“Saya tidak pernah menjadi ‘pemain yang terpilih’,” ujar Dembele dengan jujur, merefleksikan kerja kerasnya yang baru membuahkan hasil manis musim lalu.
Namun, kedewasaan jugalah yang akhirnya menyudahi riak tersebut sebelum sempat membesar.
Menyadari pentingnya keharmonisan tim dan nilai persahabatan mereka, Mbappe langsung mengambil inisiatif untuk berbicara dari hati ke hati dengan Dembele.
Sosok ketiga di dalam tim juga kabarnya ikut turun tangan, bertindak sebagai jembatan yang mencairkan suasana dengan cepat.”Saya sudah berbicara langsung dengannya,” ungkap Mbappe, berusaha meredakan kekhawatiran publik.
“Tidak ada ketegangan sama sekali. Kami benarbenar tenang.” Pada akhirnya, Ballon d’Or mungkin adalah impian semua pesepak bola, namun bagi Mbappe dan Dembele, menjaga keutuhan persahabatan dan impian bersama negara jauh lebih berharga daripada trofi individu apa pun.
Aura Zidane Sementara itu Mbappe menyebut bahwa dilatih Zinedine Zidane di tim nasional Prancis seperti adegan dari film.
“Ya, bertahun-tahun lalu (dia membawa saya ke tempat latihan Real Madrid). Dia yang pertama menjemput saya dan membawa saya ke Real Madrid, ke kompleks latihan. Saat itu saya berusia 13 atau 14 tahun, sudah sangat lama,” ujar Mbappe.
“Dan sekarang dia menjadi pelatih tim nasional saya. Ini seperti sesuatu yang keluar dari film, ia memang kelas dunia,” katanya.
Mbappe dan Zidane akan bekerja sama untuk pertama kalinya pada jeda internasional kali ini.
Zidane kembali ke dunia kepelatihan setelah lima tahun meninggalkan Real Madrid.
Mbappe sebelumnya menyebut Zidane sebagai sosok yang paling merepresentasikan Timnas Prancis. Menurutnya, mantan gelandang tersebut telah meninggalkan jejak besar dalam sejarah sepak bola Prancis.
Zidane juga telah mengonfirmasi bahwa Mbappe tetap dipercaya sebagai kapten Les Bleus.
Penyerang berusia 27 tahun itu menjadi salah satu figur utama generasi terbaru sepak bola Prancis setelah membawa negaranya menjuarai Piala Dunia 2018 dan mencapai final pada edisi 2022.
Penunjukan Zidane sekaligus menandai berakhirnya era Didier Deschamps sebagai pelatih Prancis. Deschamps meninggalkan posisi tersebut setelah 14 tahun menangani Les Bleus dan digantikan mantan rekan setimnya di timnas.
Zidane akan menjalani pertandingan pertamanya sebagai pelatih timnas Prancis saat Les Bleus menghadapi Turki dalam UEFA Nations League, Sabtu mendatang (29/9).
Setelah itu, Prancis dijadwalkan menghadapi Belgia dan Italia. (bsf )
Editor : Inilahkoran

