Garut Targetkan Zero Stunting di 2024

Kondisi anak pendek, gagal tumbuh karena kekurangan asupan gizi kronis, atau populer disebut stunting, ternyata bukan hanya mengancam anak-anak dari kalangan keluarga miskin. Anak dari keluarga berstatus sosial ekonomi mampu pun bisa terpapar.

Garut Targetkan Zero Stunting di 2024
Foto: INILAH/Zainulmukhtar

INILAH, Garut – Kondisi anak pendek, gagal tumbuh karena kekurangan asupan gizi kronis, atau populer disebut stunting, ternyata bukan hanya mengancam anak-anak dari kalangan keluarga miskin. Anak dari keluarga berstatus sosial ekonomi mampu pun bisa terpapar.

Kendati penyebabnya multidimensi, kondisi anak stunting itu lebih merupakan akibat kesalahan dari pola asuh dan pola makan.  Penting untuk memerhatikan kebutuhan asupan gizi mencukupi bagi anak sejak masih dalam kandungan ibu.

Hal itu mengemuka pada Orientasi Komunikasi Perubahan Perilaku Melalui Komunikasi Antar-Pribadi bagi Petugas Kesehatan, selama tiga hari di Garut sejak Selasa (23/7/2019).

Pemkab Garut gencar melakukan ragam upaya pencegahan dan penanganan stunting sebagai prioritas fokus masalah kesehatan di Garut. Antara lain melalui perbaikan makanan bagi bayi dan anak (PMBA), dan Program Kesehatan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM). Dibentuk juga Satuan Tugas (Satgas) Stunting dan dibangun Rumah Gizi.

Ketua Satgas Stunting Garut yang juga Wabup Garut Helmi Budiman memastikan, di Garut tak ada lagi kasus stunting alias zero stunting pada 2024. Kendati prevalensi stunting di Garut berdasar hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 mencapai 43,2 persen tertinggi di Jawa Barat.

“Masyarakat hendaknya bisa memilih asupan bergizi termasuk kebutuhan makanan anak-anak. Perlu peningkatan pengetahuan kaum ibu. Jangan asal kenyang,” kata Helmi.

Saat ini, PMBA, dan PKGBM gencar dilakukan di 81 desa di 10 kecamatan melibatkan 14 puskesmas (PKM) setempat. Sasaran perbaikan gizi difokuskan pada ibu hamil dan bayi hingga usia dua tahun.

Secara khusus, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Garut Yeti Heryati mengatakan, pihaknya intens melakukan intervensi perbaikan gizi pada 10 desa stunting di delapan wilayah puskesmas. Di desa stunting tersebut terverifikasi sebanyak 77 balita kurus dan 169 stunting.

“Pencegahan dan penanganan stunting dapat berjalan efektif bila dilakukan secara terintegrasi. Mulai aspek ketersediaan pangan, ekonomi, pemerintah desa, masyarakat, anggaran, kesehatan, hingga pendidikan,” kata Yeti.

Stunting tak bisa dipandang sebelah mata karena dapat berdampak bukan hanya fisik anak pendek serta rentan terkena penyakit tak menular, melainkan juga berdampak pada perkembangan mental dan intelektualnya.

“Fisik anak kurang gizi dapat diperbaiki namun perkembangan otaknya tidak dapat diperbaiki. Kurang gizi pada usia dini meningkatkan resiko berbagai penyakit degeneratif  seperti jantung, dan lainnya, pada saat dewasa,” ingatnya. (Zainulmukhtar)

 

10 Kecamatan Lokasi PMBA di Garut :
Kecamatan Pamulihan (PKM Pamulihan, PKM Cisandaan), Cibalong (PKM Cibalong, PKM Maroko), Peundeuy (PKM Peundeuy), Singajaya (PKM Singajaya), Sukaresmi (PKM Sukamulya), Bayongbong (PKM Bayongbong, PKM Cilimus), Leuwigoong (PKM Leuwigoong, PKM Karangsari), Kersamanah (PKM Sukamerang), Karangtengah (PKM Karangtengah), dan Kecamatan Sucinaraja (PKM Garawangsa).

10 Desa Stunting
Desa Lembang Leles, Leuwigoong, Wanakerta Cibatu, Sukarasa Malangbong, Padamukti Sukaresmi, Simpang Maroko Cibalong, Pasirlayu Pakenjeng, Jayamekar Pakenjeng, Girimukti dan Desa Karangsewu Cisewu.

Upaya Lain Pemkab Garut Tangani Stunting;
Prosentase pemberian zat besi terhadap ibu hamil dari 71,75% pada 2010 menjadi 90,83% pada 2017; pemberian zat besi dan kunjungan kontak minimal 4 kali selama kehamilan (K4) terhadap ibu hamil dari 77,80/86% pada 2010 menjadi 81,82/93,73% pada 2016; dan cakupan air susu ibu (ASI) ekslusif dari 43,3% pada 2010 menjadi 67,29% pada 2017.

Cakupan pemberian vitamin A bagi bayi usia 6-11 bulan dari 96,01% pada 2010 menjadi 90,69%, meski terdapat penurunan cakupan vitamin A bagi balita usia 12-59 bulan dari 97,77% pada 2010 menjadi 82% pada 2017.


Editor : DeryFG