Gedung Sate Model Pelestarian Budaya: Revitalisasi Tuai Apresiasi

REVITALISASI Gedung Sate mendapat apresiasi ahli cagar budaya nasional. Kawasannya kini lebih terbuka bagi publik.

Gedung Sate Model Pelestarian Budaya: Revitalisasi Tuai Apresiasi
BANGUNAN BERSEJARAH: Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (kanan) saat menerima Tim Ahli Cagar Budaya Nasional. Revitalisasi kawasan Gedung Sate di Kota Bandung mendapat pengakuan dari Tim Ahli Cagar Budaya Nasional. Penataan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dinilai mampu memadukan kepentingan pelestarian bangunan bersejarah.(INILAH/YULIANTONO)

Oleh : Yuliantono

Gedung Sate perlahan membuka wajah barunya. Pagar depan yang selama ini membatasi pandangan mulai disingkirkan, ruang terbuka ditata ulang, sementara lanskap dan fasilitas publik dibenahi. Kawasan yang menjadi ikon sekaligus pusat pemerintahan Jawa Barat itu kini diarahkan menjadi ruang yang lebih terbuka bagi masyarakat.

Perubahan tersebut bukan sekadar upaya mempercantik lingkungan bangunan bersejarah. Pemerintah Provinsi Jawa Barat ingin menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat untuk menikmati arsitektur Gedung Sate tanpa menghilangkan nilai historis yang melekat di dalamnya.

Langkah revitalisasi itu bahkan mendapat pengakuan dari Tim Ahli Cagar Budaya Nasional. Dalam evaluasi lapangan, penataan Gedung Sate dinilai mampu mempertemukan kepentingan pelestarian bangunan bersejarah dengan kebutuhan ruang publik.

Tim ahli menyebut revitalisasi tersebut sebagai best practice atau praktik terbaik dalam pengelolaan bangunan cagar budaya berperingkat nasional.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, salah satu tujuan utama penataan adalah membuka akses masyarakat agar dapat menikmati Gedung Sate secara lebih leluasa. Sebab, selama ini keberadaan pagar depan dan aktivitas kendaraan dinilai membatasi pandangan terhadap bangunan ikonik tersebut.

Menurut Dedi, secara historis Gedung Sate juga tidak memiliki pagar depan seperti yang selama ini berdiri. Karena itu, pembukaan kawasan dianggap sebagai upaya mengembalikan karakter ruang sekaligus mendekatkan bangunan bersejarah dengan masyarakat.

"Menikmati gedung ini dengan nilai-nilai spiritual kita itu enggak kena dan juga nilai sakral itu. Nah, kemudian dengan mobil tidak lewat sini dan muter, jauh lebih lancar dibanding lewat sini. Nah, ini kan kita bisa menikmati, orang bisa sore nongkrong di sini," ujar Dedi, Rabu (4/11/2026).

Perubahan desain pembatas kawasan sempat menuai kritik karena dianggap menyerupai bangunan zaman batu. Namun, Dedi menjelaskan rancangan tersebut justru mengambil inspirasi dari ornamen yang terdapat pada Gedung Sate.

"Padahal ini kan ngambil dari Gedung Sate, ornamen candi bentar dari Gedung Sate," ucapnya.

Untuk menjaga kelancaran akses, gerbang kawasan dirancang dapat digeser dan dibuka. Dengan begitu, pembatas tidak akan menghambat mobilitas masyarakat maupun akses ketika terjadi kondisi darurat.

Penataan tidak hanya menyentuh bangunan dan akses masuk. Lanskap halaman Gedung Sate juga menjadi perhatian Tim Ahli Cagar Budaya Nasional, terutama dalam pemilihan jenis tanaman yang dianggap sesuai dengan karakter kawasan.

Dedi secara khusus menyoroti keberadaan pohon kelapa sawit di halaman Gedung Sate. Menurutnya, tanaman tersebut tidak memiliki karakter yang selaras dengan lingkungan bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda.

"Saya waktu itu melihat pohon ini tidak punya karakter dalam pandangan saya," katanya.

Tim ahli kemudian memberikan masukan agar vegetasi di kawasan tersebut lebih mengutamakan pohon peneduh daripada pohon pengarah. Salah satu tanaman yang direkomendasikan adalah tabebuya. (gin)


Editor : Inilahkoran