Genjot Literasi Masyarakat, Disperindag Jabar Sosialisasikan Konsumen Cerdas Langsung ke Ritel di 27 Kabupaten/Kota
Guna menggenjot literasi masyarakat, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat menyosialisasikan konsumen cerdas (Koncer) secara langsung dan serentak ke retail di 27 kabupaten/kota.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Kepala Disperindag Jabar Noneng Komara Nengsih mengatakan, sosialisasi ini merupakan bagian dari Festival Koncer, rangkaian West Java Festival (WJF) 2024 untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait produk yang layak dibeli oleh masyarakat.
Bersama Dinas Indag kabupaten/kota, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) dan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), Disperindag melakukan sosialisasi menyasar masyarakat konsumen ritel.
"Konsumen cerdas ini kampanye kepada seluruh masyarakat Jabar, karena pada dasarnya kita semua ini konsumen, supaya konsumen kita cerdas," ujar Noneng, seusai sosialisasi Konsumen Cerdas di Jalan Riau, Kota Bandung, Jumat 23 Agustus 2024.
Menurutnya, semakin cerdas konsumen maka produk yang dihasilkan industri juga akan semakin berkualitas dan memiliki daya saing.
"Alhamdulillah, kita diposisi mampu. Memang belum banyak provinsi yang berada diposisi mampu, tetapi belum ke kritis, ada nilai dan tahapan-tahapannya. Negara-negara maju biasanya yang konsumennya sudah kritis, Jabar juga mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah mencapai posisi itu," ucapnya.
Dalam sosialisasi ini lanjut Noneng, masyarakat atau konsumen diedukasi berbagai produk mulai dari makanan, pakaian hingga peralatan rumah tangga.
"Sosialisasinya kepada pengunjung di ritel modern itu, misalnya makanan pasti harus ada label halal, PIRT-nya, komposisi dan kadaluarsanya, untuk baju harus dilihat labelnya, kemudian produk-produk seperti piring, harus dilihat SNI nya," ucapnya.
Sosialisasi ini, kata dia, harus terus dilakukan dan berkolaborasi dengan dinas lainnya seperti Dinas Pendidikan dan Dinas Pemberdayaan perempuan.
"Dulu hanya sosialisasi ke dua, tiga kelas dalam satu tahun, menurut saya itu sangat kurang, sehingga kita gebyarkan dalam dua tahun ini, walaupun pekerjaan rumahnya sangat banyak, karena penduduknya juga banyak," pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani
