Gerbong Wanita di KRL Diusulkan Pindah ke Tengah, Pengamat Sebut Bukan Solusi Tepat
Pemgamat menilai ususlan gerbong khusus wanita di KRL dipi dahkan ke tengah bukanlah solusi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Usai terjadinya kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL Commuter Line hingga gerbong khusu wanita di paling belakang hancur, ada salah satu usulan yang kini jadi sorotan.
Di mana Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan agar gerbong khusus wanita pada rangkaian KRL Commuter Line dipindah ke tengah pascainsiden kecelakaan di Bekasi Timur.
Usulan ini langsung menghebohkan publik yang dinilai bukan solusi dan menganggap nyawa laki-laki tidak lebih berharga dari nyawa perempuan.
Kini, pengamat Transportasi Deddy Herlambang angkat bicara terkait pernyataan Menteri PPPA terkait gerbong khsus wanita di KRL dipindahkan ke tengah.
Menurut Deddy, usulan tersebut bukan merupakan solusi yang baik. Dia menilai nyawa setiap orang sama berharga dan perlu dilindungi.
"Sama saja, nyawa laki-laki atau perempuan semua mahal. Justru lebih eksklusif bila KKW (kereta khusus wanita) diletakkan di ujung-ujung, seperti di Jepang," ujar Deddy.
Deddy menekankan perlunya langkah strategis dan menyeluruh untuk meningkatkan keselamatan perkeretaapian nasional, terutama pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur.
Deddy menilai kecelakaan tersebut mengungkap kerentanan pada lintas padat dengan pola mixed traffic antara KRL dan kereta jarak jauh, sistem pengendalian perjalanan kereta, serta mitigasi risiko tabrakan dari belakang (rear-end collision).
Untuk itu, dia mendorong percepatan pembangunan jalur double-double track di lintas Bekasi-Cikarang guna memisahkan jalur KRL dan kereta antarkota, serta melakukan audit terhadap sistem Pengendali Perjalanan Kereta Api Terpusat (PPKT) untuk memastikan efektivitas pengawasan lalu lintas.***
Editor : Irma Nurfajri

