Gubernur Dedi Mulyadi Kritik Balik Pihak yang Mengkritisi Program Pendidikan Karakter Panca Waluya
Perubahan signifikan secara positif, yang ditunjukkan 273 peserta pendidikan karakter Panca Waluya kian menguatkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - perubahan signifikan secara positif, yang ditunjukkan 273 peserta pendidikan karakter Panca Waluya kian menguatkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Para anak yang sebelumnya dianggap bermasalah, telah mengalami perbaikan dalam kedisiplinan setelah mengikuti pendidikan karakter panca waluya di Dodik Bela Negara Rindwam III/Siliwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) selama 18 hari.
Bahkan Dedi pun turut balik mengkritisi para pihak yang hanya mengemukakan teori, tapi tanpa pernah sekali pun bertindak.
Anak yang dianggap nakal oleh lingkungan, sejatinya mereka kata Dedi tengah mengungkapkan kegelisahan mereka.
"Ketika di sudut kota, anak kita minum oplosan, pulang ngamuk. Kita hanya bisa diam. Ketika anak menghabiskan waktu main game online, mengancam orangtua. Kita diam. Proses kita hanya dua, pidana dan penjara anak. Kita tidak pernah menyadari, seluruh lorong kegelisahan mereka. Rumah jadi neraka buat mereka. Mereka kehilangan tempat bermain, yang mereka rasakan kebisingan," ujar Dedi dalam sambutannya pada Upacara Hari Kebangkitan Nasional di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa 20 Mei 2025.
"Semua orang hanya bisa memberikan pengamatan, analisis, kajian tapi tidak ada yang berani mengambil solusi," imbuhnya.
Dia melanjutkan, kritikan mengenai hak asasi anak, pelibatan militer menurutnya adalah bentuk ketakutan oknum, bila nanti Indonesia maju.
"Pandangan buruk pada militer takut anak Indonesia bangkit. Takut bangsa kokoh, tegak," ucapnya.
Ketika anak melakukan pelanggaran, tidak ada yang bertindak. Semua diam kata Dedi, yang mana ini mengarahkan bangsa menuju kehancuran.
"Maka yang memegang kekuasaan harus mengubah kemungkaran ini menjadi kebajikan," kata dia.
Sebab itu, terbaik saat ini yang harus dilakukan adalah saling mendukung. Bersama-sama mengambik tindakan, berbuat melakukan perbaikan.
"Saat ini kita tidak saling menyalahkan, tidak ada salahnya mengambil tindakan. Ini semangat militer, bukan militerisasi. Kalau anak dibangunin jam 4 subuh dimana salahnya? Disuruh membereskan tempat tidur apa salahnya? Sholat subuh apa salahnya?," ujarnya.
Dia menilai, saat ini justru beragam hak sejati anak bisa didapati oleh mereka di barak militer, kala mengikuti pendidikan karakter.
"Hak anak didapat dibarak TNI, tidak didapat di rumah. Justru lingkungan kita hari ini bukan tempat lagi tempat yang ramah untuk anak," ucapnya.
Lantaran, kebutuhan anak yang harusnya ada di lingkungan mereka untuk membantu tumbuh kembang, sudah tidak lagi tersedia.
Seperti lapangan atau area bermain, sungai yang jernih, dimana semuanya sudah berubah seiring dengan perkembangan zaman.
"Kebijakan yang harus dilakukan, mindset harus diubah. Ekonomi bukan segalanya. Penting, tapi ekonomi tidak boleh membunuh ruang publik," kata dia.
Editor : Ahmad Sayuti

