Guru Kurang, Mahasiswa Datang

RUANG kelas membutuhkan lebih banyak pengajar. Kota Bogor pun menggandeng mahasiswa untuk ikut mengajar.

Guru Kurang, Mahasiswa Datang
MAHASISWA MENGAJAR: Wali Kota Bogor Dedie A Rachim saat bersama mahasiwa yang akan menjadi guru dalam program mahasiswa mengajar. Program mahasiswa mengajar ini diselenggarakan Pemkot Bogor bekerja sama dengan Universitas Pakuan dan Universitas Ibn Khaldun Bogor sebagai salah satu upaya merespons kekurangan guru mengajar. Saat ini, Kota Bogor masih membutuhkan sekitar 650 guru.

Oleh: Rizki Mauludi

Keterbatasan tenaga pengajar di sekolah negeri menjadi tantangan yang terus dicari solusinya oleh Pemerintah Kota Bogor. Di tengah proses pemenuhan kebutuhan guru yang memiliki mekanisme panjang, Pemkot Bogor memilih membuka jalan alternatif dengan melibatkan mahasiswa untuk ikut mengajar di ruang-ruang kelas.

Melalui Program Mahasiswa Mengajar, Pemkot Bogor menggandeng Universitas Pakuan dan Universitas Ibn Khaldun Bogor untuk membantu mengisi kekurangan tenaga pendidik di sejumlah sekolah.

Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan, program tersebut menjadi langkah cepat pemerintah daerah dalam merespons kebutuhan guru yang belum sepenuhnya terpenuhi.

"Program ini adalah salah satu solusi cepat dari Pemerintah Kota Bogor bekerja sama dengan perguruan tinggi yang ada di Kota Bogor, khususnya Universitas Pakuan dan Universitas Ibn Khaldun, dalam menyikapi atau merespon terjadinya kekurangan guru mengajar," kata Dedie, Selasa (21/7). 

Menurut Dedie, kebutuhan guru sebenarnya menjadi persoalan yang juga dihadapi banyak daerah di Indonesia. Namun, proses rekrutmen guru sekolah negeri harus mengikuti mekanisme pemerintah pusat melalui Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Sementara proses tersebut berjalan, kehadiran mahasiswa diharapkan dapat menjadi penguat pembelajaran di sekolah.

"Program Mahasiswa Mengajar tidak hanya menjadi katalisator bagi transformasi metode pembelajaran dan perluasan wawasan di jenjang pendidikan dasar hingga menengah," ujarnya.

Bagi para mahasiswa, program ini bukan sekadar kegiatan pengabdian. Mereka mendapatkan kesempatan merasakan langsung atmosfer pendidikan yang selama ini banyak dipelajari dalam teori.

"Jadi para mahasiswa ini dapat menimba ilmu langsung, karena jika biasanya ada di ranah teori, sekarang langsung praktik," kata Dedie.

Mereka akan belajar menghadapi karakter siswa, menyampaikan materi pelajaran, hingga menyusun strategi pembelajaran di kelas.

"Praktik bagaimana menghadapi siswa, bagaimana menghadapi mata pelajaran dan mempersiapkan. Saya pikir ini sesuatu hal yang sangat baik dan tentu dampaknya adalah anak-anak kita juga semakin menerima masukan yang lebih variatif," tambahnya.

Saat ini, Kota Bogor masih membutuhkan sekitar 650 guru untuk memenuhi kebutuhan di sekolah negeri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 135 mahasiswa yang mengikuti program ini akan membantu menutup sebagian kekurangan tenaga pengajar.

Para mahasiswa berasal dari berbagai latar belakang program studi, seperti Pendidikan Sekolah Dasar, Pendidikan Sekolah Menengah, Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika, hingga Bahasa. Sebelum diterjunkan ke sekolah, mereka akan menjalani pelatihan selama tiga hari.

Rektor Universitas Pakuan Prof. Didik Notosudjono mengatakan pihaknya mendukung kolaborasi tersebut sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan secara inovatif dan kreatif. (gin)


Editor : Inilahkoran