Guru yang Curhat Soal Penambahan Rombel di Reses Siti Muntamah Beri Klarifikasi Usai Direspons Dedi Mulyadi
Curhat salah seorang guru sekaligus dosen, Popon Sumarni dalam reses Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Siti Muntamah di Kota Bandung beberapa waktu lalu mendapat komentar dari Gubernur Jabar Dedi Mulyadi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Curhat salah seorang guru sekaligus dosen, Popon Sumarni dalam reses Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Siti Muntamah di Kota Bandung beberapa waktu lalu mendapat komentar dari Gubernur Jabar Dedi Mulyadi.
Kala itu, Popon mengeluhkan soal penambahan rombongan belajar (rombel) di kelas yang dimungkinkan menjadi 50 siswa kepada Siti Muntamah. Penambahan rombel dalam program Pencegahan Anak Putus Sekolah (PAPS) dikatakan Popon, menambah beban para guru.
Setelah itu, Dedi Mulyadi merespons melalui akun media sosialnya, dengan menyampaikan terima kasih atas kritik dan masukan yang disampaikan oleh Popon. Meski kata Dedi, Popon sejatinya adalah seorang dosen dan bukan guru.
“Saya mengucapkan terima kasih atas masukannya dan saya begitu kagum sama ibu yang mencintai dunia pendidikan dan setelah saya menganalisis wajah ibu, ternyata seingat saya dan sepengetahuan saya, ibu adalah seorang dosen, bukan seorang guru SMA," kata Dedi dalam stitch video di akun media sosialnya, dikutip Rabu 30 Juli 2025.
"Untuk itu semoga ibu nanti menyampaikannya dalam forum dosen, bukan dalam forum curhat dengan anggota DPRD. Tapi sebaiknya ibu menyampaikan, sebagai pengamat dan praktisi Pendidikan dalam bentuk narasi narasi ilmiah yang disampaikan dalam forum ilmiah, tidak dalam forum curhat seolah-olah ibu menggambarkan diri sebagai guru SMA, padahal ibu seorang dosen. Terimakasih ibu sudah mengingatkan saya semoga Pendidikan Jawa Barat jauh lebih baik,” imbuhnya.
Merespons komentar Dedi, Popon memberikan klarifikasi. Dia menerangkan bahwa dirinya sudah menjadi guru sejak 1990 hingga sekarang.
“Saya berterima kasih, ternyata bapak melihat Instagram Umi Oded (Siti Muntamah) dan terima kasih atas tanggapannya. Perlu bapak ketahui, saya lulusan PGA pak, tahun 89. Kemudian mengajar di dua tempat,” jelasnya, dikutip dari akun media sosial pribadi (tiktok) @sitimuntamah_oded, Rabu 30 Juli 2025.
“1991 saya kuliah pak. Tetap sambil mengajar dan sampai sekarang pun saya tetap menjadi guru di sebuah lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama. Jadi guru Aliyah, pak. Di sela-sela hari yang diberikan, ditugaskan kepala sekolah ada dua hari saya diberikan keleluasaan untuk berbakti di lembaga pendidikan yang sudah membesarkan saya. Saya dipercaya menjadi sekarang dosen dari tahun 1997, tapi menjadi guru dari mulai 90an sampai sekarang saya tetap menjadi guru dan saya merasakan bagaimana menjadi guru," sambungnya.
Dia berharap, kritik yang disampaikannya bisa membantu pendidikan Jawa Barat lebih baik kedepannya, dengan memerhatikan seluruh pihak, termasuk guru.
“Saya bersyukur ditakdirkan Allah diberikan berbagai macam keamanahan, tugas yang saya jalani dengan ikhlas. Artinya dinikmati menjadi dosen, guru. Apa perlu saya menyampaikan biodata saya, atau curiculum vitae saya? Kalau Bapak tidak percaya, silahkan cek di Kemenag. Kemenag Kota Bandung ada tidak Popon Sumarni dan saya mengajar di lembaga di mana yang sudah membesarkan saya yaitu sebuah perguruan tinggi,” lanjut Popon.
Dia pun berharap, Dedi tidak mempermasalahkan keluhannya tersebut di reses Siti Muntamah. Tujuannya lanjut dia, hanya ingin pendidikan di Jabar lebih baik.
“Saya mohon Bapak jangan marah, saya kan hanya memberikan curhatan ke Ibu Siti, dengan harapan pendidikan jauh lebih baik. Lebih baik itu memang ada indikatornya dan indikatornya tergantung bagi siapa dan bagaimana orang membuatnya dan siapa pejabatnya yang membuat. Nah, begitu pak. Itu, kan hanya sebuah curhatan, khususnya saya sebagai guru, tapi mungkin saja guru lain merasakan yang sama. Buktinya tanyakan saja ke Bu Siti, Umi Oded. Bagaimana respon dari teman-teman yang membaca dari postingan dari Ibu Oded?," ucapnya.
Editor : Doni Ramdhani

