Hadapi El Nino, Pemprov Jabar Siaga Ancaman Kekeringan
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai memperketat kesiapsiagaan, menghadapi ancaman El Nino yang berpotensi memicu kemarau panjang, kebakaran hutan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai memperketat kesiapsiagaan, menghadapi ancaman El Nino yang berpotensi memicu kemarau panjang, kebakaran hutan, hingga penurunan produksi pertanian.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar, Herman Suryatman menegaskan, strategi utama yang diusung adalah mitigasi berbasis deteksi dini dan partisipasi masyarakat. Herman menyebut, perubahan musim harus direspons dengan langkah cepat dan terukur.
“Masing-masing musim ada konsekuensi. Kalau kemarin potensinya adalah bencana hidrometeorologi, kita mitigasi, kita antisipasi. Demikian juga sekarang menghadapi musim kemarau, kita pun konsolidasi dengan berbagai pihak,” ujar Herman di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (27/4/2026).
Pemprov Jabar, kata dia, telah menggerakkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai leading sector untuk memperkuat koordinasi dengan 27 kabupaten/kota.
“Kita minta BPBD 27 kabupaten/kota konsolidasi dengan camat, kepala desa, dan lurah untuk mengedukasi masyarakat sekitar hutan, untuk melakukan deteksi dini,” katanya.
Ia menyoroti bahwa kebakaran hutan skala besar kerap terjadi akibat keterlambatan deteksi.
“Biasanya kebakaran yang cakupannya luas itu karena lambat mendeteksi. Jadi deteksi dini, lapor dini, cegah dini,” tegasnya.
Selain ancaman kebakaran hutan, kekeringan juga menjadi perhatian serius, karena berdampak langsung pada sektor pertanian. Herman mengingatkan potensi turunnya produktivitas, jika pengelolaan air tidak optimal.
“kekeringan ini kaitannya dengan potensi menurunnya produktivitas di sektor pertanian. Kita harapkan kabupaten/kota proaktif melalui Dinas Pertanian dan Dinas SDA agar irigasi dipelihara, kalau ada yang rusak diperbaiki,” ujarnya.
Sejumlah daerah lumbung padi seperti Karawang dan Indramayu menjadi prioritas perhatian. Pengalaman sebelumnya menunjukkan risiko gagal panen akibat terbatasnya suplai air masih membayangi.
Guna mengantisipasi hal itu, Pemprov Jabar mengandalkan optimalisasi bantuan pompa air yang telah disalurkan ke kelompok tani dalam beberapa tahun terakhir.
“Pompa ini bisa dimanfaatkan saat kemarau, terutama untuk lahan yang irigasinya terbatas. Air bisa dipompa dari sungai,” jelasnya.
Sisi lain, Herman juga menyoroti pentingnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam menghadapi potensi bencana. Menurutnya, kesiapan aparat hingga masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan mitigasi.
“Kuncinya di SDM. Sarana prasarana tanpa SDM yang mumpuni sulit. Tapi kalau SDM kuat, sarana terbatas pun bisa diatasi,” katanya.
Ia pun menegaskan bahwa sinergi lintas sektor, termasuk dengan TNI dan Polri, akan segera diperkuat melalui konsolidasi menyeluruh. Namun, peran masyarakat tetap menjadi garda terdepan.
“Yang paling penting adalah partisipasi masyarakat. Mudah-mudahan tidak terjadi bencana, dan kalaupun terjadi, kerugiannya bisa diminimalisasi,” pungkas Herman.***
Editor : JakaPermana

