Hanya Bisa Menangis saat Sidang, HYBE Sebut Min Hee Jin Gagal jadi Pemimpin ADOR
HYBE menyebutkan bahwa Min Hee Jin telah gagal menjadi pemimpin atau CEO ADOR.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Min Hee Jin dikatakan Menangis saat persidangan dengan HYBE berlangsung baru-baru ini.
Mantan CEO ADOR Min Hee Jin dan HYBE berselisih sengit di pengadilan, dengan Min Hee Jin Menangis selama kesaksian panjang.
Sementara HYBE membingkai tindakannya sebagai upaya untuk menghindari tanggung jawab eksekutif.
Sidang yang digelar di Pengadilan Distrik Pusat Seoul (Divisi Perdata 31, dipimpin oleh Hakim Nam In-soo) pada hari Kamis, 27 November 2025, membahas gugatan HYBE untuk mengonfirmasi pemutusan perjanjian pemegang saham dan klaim pembayaran Min Hee Jin berdasarkan opsi jual.
Sidang ini menandai kelanjutan dari sidang bulan September, dengan kedua belah pihak saling berhadapan secara langsung.
Poin-poin utama pertentangan tersebut meliputi:
Kewajiban non-kompetisi dalam perjanjian pemegang saham; Kontak dengan investor eksternal dan potensi gangguan terhadap hak pengelolaan; Validitas pelaksanaan opsi put; Dugaan kebocoran dokumen perencanaan internal.
HYBE menekankan bahwa perselisihan tersebut bukanlah konflik pribadi atau organisasi yang sederhana, tetapi pelanggaran kontrak yang memengaruhi struktur perusahaan.
Perspektif HYBE: “Dia Seorang Eksekutif, Bukan Sekadar Kreator”. Tim hukum HYBE menekankan bahwa Min Hee Jin, selain seorang tenaga kreatif, juga memegang tanggung jawab eksekutif sebagai CEO ADOR.
"Kewajibannya sebagai perwakilan tidak dapat dihindari hanya karena desakan emosional. Ini termasuk pengawasan proyek-proyek seperti 'Project 1945', terlepas dari siapa yang memimpin perencanaannya."
HYBE menekankan bahwa masalahnya bukanlah gangguan produksi kecil tetapi tindakan yang berpotensi merusak kepercayaan pemegang saham dan tata kelola perusahaan.
Min Hee Jin juga melakukan pembelaan, dia berargumen bahwa beberapa dokumen internal merupakan hasil karya seorang wakil eksekutif dan membantah adanya niat untuk menyita hak manajemen.
HYBE membantah bahwa sebagai CEO, dia tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas tindakan di dalam organisasi.
HYBE juga mengklarifikasi bahwa perselisihan tersebut terpisah dari operasi NewJeans, dan memastikan bahwa aktivitas dan dukungan grup akan terus berlanjut tanpa gangguan.
Opsi jual, yang bernilai sekitar 28,7 miliar KRW, menjadi titik api lainnya. Min Hee Jin berpendapat bahwa opsi tersebut sah karena pemutusan kontrak yang melanggar hukum, sementara HYBE berpendapat bahwa pelaksanaan opsi terjadi setelah pemutusan kontrak dan oleh karena itu tidak sah.
Masalah ini berimplikasi pada kasus-kasus serupa di masa mendatang, menjadikannya masalah hukum berisiko tinggi.
Pertarungan hukum ini pada akhirnya menimbulkan pertanyaan: seberapa besar bobot dan tanggung jawab yang seharusnya diemban oleh jabatan CEO?
Pengadilan dijadwalkan untuk mengakhiri sidang pada 18 Desember 2025, dengan putusan tingkat pertama diperkirakan akan keluar pada awal 2026.***
Editor : Irma Nurfajri


