Hanya Dua Kota di Jabar yang tak Masuk Rawan Pergerakan Tanah

Kepala BPBD Jabar Dicky Saromi mengatakan, dari 27 kota/kabupaten, hanya Kota Depok dan Bekasi yang tidak termasuk dalam rawan bencana pergerakan tanah. 

Hanya Dua Kota di Jabar yang tak Masuk Rawan Pergerakan Tanah
INILAH, Bandung - Kepala BPBD Jabar Dicky Saromi mengatakan, dari 27 kota/kabupaten, hanya Kota Depok dan Bekasi yang tidak termasuk dalam rawan bencana pergerakan tanah. Yang lainnya, memiliki potensi terjadinya bencana longsor dengan kategori tinggi.
 
Dia mengatakan, wilayah Selatan dan Tengah Jawa Barat termasuk daerah yang memiliki potensi bencana longsor dengan kategori tinggi. Hal tersebut mengacu pada peta zona kerentanan gerakan tanah 25 daerah di Jabar termasuk rawan bencana longsor. 
 
Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) November ini, 428 kecamatan di Jawa Barat (68,26 persen) berada dalam kategori menengah sampai tinggi gerakan tanah. 
 
"Hanya dua kota tidak rawan longsor yakni Depok dan Bekasi. Sisanya kategori sedang dan tinggi," ujar Dicky, di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (14/11/2018).
 
Selain bencana longsor, kata dia, ada 13 kabupaten/kota yang berpotensi tinggi terjadi banjir. Daerah tersebut yakni Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Cirebon, Majalengka, Sumedang, Indramayu, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Kota Bandung dan Kota Cirebon.
 
"Perlu kesiapsiagaan saat memasuki awal musim di Oktober-November dan saat puncak musim hujan di Januari 2018. Maret-April 2019 terkait potensi gerakan tanah, bencana banjir dan bandang," katanya.
 
Demi meningkatkan kewaspadaan, BPBD Jabar telah menetapkan status bencana banjir dan longsor sejak 1 November 2018 hingga 31 Mei 2019. Penetapan status tersebut berdasarkan SK Gubernur Jabar Nomor 362/Kep.1211-BPBD/2018. 


Editor : inilahkoran