Harga Beras di KBB Terus Meroket, Pedagang Pasar Tradisional: Rata-rata Sudah di Atas Rp14 Ribu Per Kilogram
Meroketnya harga beras di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dikeluhkan warga sejak 10 hari terakhir. Pasalnya, saat ini warga sudah jarang menemukan harga beras di bawah Rp14 ribu per kilogram.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Meroketnya harga beras di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dikeluhkan warga sejak 10 hari terakhir. Pasalnya, saat ini warga sudah jarang menemukan harga beras di bawah Rp14 ribu per kilogram.
Di Pasar Tagog Padalarang KBB misalnya, harga beras di grosir termurah sudah di atas Rp13.500 per kilogram. Bahkan, saat ini beras dengan harga tersebut sudah tidak ada. Termurah, dibanderol Rp14 ribu per kilogram.
"Rata-rata berasnya sudah di atas Rp14 ribu per kilogram," ungkap Ela pedagang beras di Pasar Tagog Padalarang KBB, Kamis 1 Februari 2024.
Menyiasati hal itu, Ela pun mencoba mencari beras dengan harga tidak terlalu mahal ke grosir beras yang ada di daerah Ciburuy. Namun, stok beras di sana pun habis.
Begitu pun saat dirinya mencari ke grosir beras yang berada di Sudimampir, di mana stok beras dengan harga di bawah Rp14 ribu per kilogram juga habis.
"Saya sempat ke grosir di Ciroyom Kota Bandung, beras paling murah Rp14.500 per kilogram. Ya mau jual lagi berapa, enggak akan masuk. Belum dihitung ongkos transportasinya," ujarnya.
Kecewa lantaran tak membuahkan hasil, Ela pun lebih memilih membeli beras langsung ke penggilingan yang berada di daerah Kertamulya, Padalarang dengan jenis beras Ngamprah.
"Yang ada ya beras Ngamprah, itupun stoknya sangat terbatas. Saya jual lagi ke konsumen Rp15.500," ucapnya.
Ela mengaku, tingginya harga beras membuat masyarakat mengurangi pembelian. Mereka lebih banyak mencari beras yang harganya sekitar Rp14 ribu per kilogram.
"Saya jual beras Ngamprah, paling sehari laku 50 kilogram malah terkadang di bawah itu. Tapi kalau jual yang Rp14.000 bisa laku 125 kilogram atau lima karung ukuran 25 kilogram," ujarnya.
Pengakuan serupa juga diungkapkan Ujang Daryana, pedagang beras lainnya di Pasar Tagog Padalarang. Menurutnya, perdagangan beras saat ini menjadi yang tersulit selama berjualan komoditas pangan tersebut.
"Saya sudah puluhan tahun berjualan beras, tapi sekarang rasanya paling parah. Malah dibandingkan pada saat pandemi Covid-19 pun, masih parah sekarang," kata pria berusia 63 tahun ini.
Ujang menyebut, pada awal 2024 ini harga beras naik sampai 2 kali. Kenaikan harga mencapai Rp1.500-2.000 per kilogram.
"Seluruh harga beras naik, tanpa terkecuali. Harga beras Cianjur paling mahal, dari Kuningan dan Tasikmalaya juga naik tinggi," sebutnya .
Ujang pun menyebut kondisi ini jauh lebih parah dalam beberapa waktu terakhir, jika dibandingkan dengan akhir tahun 2023,
“Paling mahal beras Cianjur, itu premium. Sekarang beras dari Kuningan dan Tasik pun sama ikut naik,” sebutnya.
Tadinya Ujang berharap, digelontorkannya beras bantuan dan juga beras murah bisa menekan harga. Tapi malah sebaliknya, harga beras malah terus naik.
"Enggak tahu ini mengapa, pedagang juga berharap harga beras kembali normal. Kalau harganya terjangkau, masyarakat senang begitupun dengan kami para pedagang," tandasnya.
Sementara itu, pantauan di pasar tradisional Tagog Padalarang, dan Curug Agung Padalarang pada Kamis 1 Februari 2024 menunjukan kenaikan harga beras merata untuk semua jenis, mulai beras kelas bawah, medium, hingga premium.
Untuk beras kelas bawah yang sebelumnya seharga Rp13.500 per kilogram kini menjadi Rp14.000-14.500 per kilogram. Harga beras medium naik dari sebelumnya Rp14.000 per kilogram menjadi Rp15.000 per kilogram. Sementara beras premium dijual Rp Rp16.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp15.000. (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani

