Ibarat Makan Muntah Sendiri, Mengikhlaskan Utang tapi Tiba-tiba Menagihnya Lagi
Jangan sampai kita melakukan perbuatan tercela ketika menagih kembali utang yang sebelumnya sudah diikhlaskan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung- Ini salah satu adab penting dalam masalah utang-piutang. Jangan sampai, kita merasa rugi ketika telah mengikhlaskan utang kepada seseorang dan tiba-tiba menagihkannya kembali.
Menurut Ustaz Ammi nur Baits di konsultasisyariah.com, hukum untuk kasus di atas sama engan ketika seseorang mensedekahkan hartanya kepada orang lain dan dia dilarang untuk menariknya kembali. Artinya, sedekah yang sudah diikhlaskan ataupun utang yang sudah diputihkan, terlarang untuk kita tarik kembali.
Baca Juga: Mereka yang Membawa Mati Utang, di Akhirat Dihukumi Sebagai Pencuri
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Ù ÙØ«ÙÙ٠اÙÙÙØ°ÙÙ ÙÙÙÙØ¨Ù ÙÙÙÙØ±ÙØ¬ÙØ¹Ù ÙÙÙ ÙÙØ¨ÙتÙÙÙ ÙÙÙ ÙØ«ÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙØ¨Ù ÙÙØ£ÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙØ¡Ù Ø«ÙÙ ÙÙ ÙÙØ£ÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙØ¦ÙÙÙ
Perumpamaan orang yang memberikan harta, lalu dia menarik kembali pemberiannya, seperti anjing yang makan, lalu dia muntah, kemudian dia makan muntahannya. (HR. Nasai 3705 dan dishahihkan al-Albani)
Dalam riwayat lain, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ÙØ§Ù ÙÙØÙÙÙÙ ÙÙØ±ÙجÙÙ٠أÙÙÙ ÙÙØ¹ÙØ·ÙÙÙ Ø¹ÙØ·ÙÙÙÙØ©Ù Ø£ÙÙÙ ÙÙÙÙØ¨Ù ÙÙØ¨Ùة٠ÙÙÙÙØ±ÙØ¬ÙØ¹Ù ÙÙÙÙÙØ§ Ø¥ÙÙØ§Ù٠اÙÙÙÙØ§ÙÙØ¯Ù ÙÙÙÙ ÙØ§ ÙÙØ¹ÙØ·ÙÙ ÙÙÙÙØ¯ÙÙÙ ÙÙÙ ÙØ«ÙÙ٠اÙÙÙØ°ÙÙ ÙÙØ¹ÙØ·Ù٠اÙÙØ¹ÙØ·ÙÙÙÙØ©Ù Ø«ÙÙ ÙÙ ÙÙØ±ÙØ¬ÙØ¹Ù ÙÙÙÙÙØ§ ÙÙÙ ÙØ«ÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙØ¨Ù ÙÙØ£ÙÙÙÙÙ ÙÙØ¥ÙØ°ÙØ§ Ø´ÙØ¨Ùع٠ÙÙØ§Ø¡Ù Ø«ÙÙ ÙÙ Ø¹ÙØ§Ø¯Ù ÙÙÙ ÙÙÙÙØ¦ÙÙÙ
Tidak halal bagi seseorang yang memberikan atau menghibahkan sesuatu kemudian dia menarik kembali pemberiannya. Kecuali pemberian orang tua kepada anak. Orang yang memberikan harta kepada orang lain, kemudian dia menarik kembali, seperti anjing yang makan, setelah kenyang, dia muntah. Kemudian dia makan lagi muntahannya. (HR. Abu Daud 3541 dan dishahihkan al-Albani).
Mengikhlaskan dalam Hati
Lalu pertanyaannya, bagaimana andai seseorang mengikhlaskan utang tanpa memberi tahu si pengutang. Dia hanya berniat di dalam hati saja untuk merelakan utang itu. Tiba-tiba, si pengutang yang memang tidak tahu utangnya sudah direlakan, berniat untuk membayar. Haruskah si pengutang menerimanya?
Baca Juga: DIUMUMKAN HARI INI! Cek Terus Link Hasil Rekrutmen PT KAI 2021 Tahap 1 di Sini
Dan ternyata, ketika seseorang telah mengikhlaskan utang si A tanpa sepengetahuannya, kemudian suatu saat si A datang untuk melunasi utang itu, maka dia tidak boleh menerimanya. Karena dia telah mensedekahkan utang itu. Allahu'alam.***
Editor : inilahkoran

