IDUL ADHA: Kisah Teladan Keluarga Bapak Tauhid

Nabi Ibrahim as sudah terbiasa menyembelih hewan kurban. Dalam sebuah catatan sejarah dikatakan beliau pernah menyembelih sebanyak 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta.

IDUL ADHA: Kisah Teladan Keluarga Bapak Tauhid
Ilustrasi (Net)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.’” (al-Mumtahanah [60]: 4)

Nabi Ibrahim as sudah terbiasa menyembelih hewan kurban. Dalam sebuah catatan sejarah dikatakan beliau pernah menyembelih sebanyak 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta.

Jumlah yang fantastis sehingga kisah pengurbanan beliau menjadi “buah bibir” di masyarakat saat itu. Saat orang bertanya, beliau senantiasa menjawab dengan penuh semangat bahwa segala sesuatu harus siap dikorbankan demi Allah Swt, walau seorang anak sekali pun jika Allah memang memintanya. Saat itu beliau belum dikaruniai anak sama sekali.

Di masa tuanya, Allah Swt berkehendak mengaruniai Nabi Ibrahim as dua orang anak, salah satunya Ismail as. Ya, anak yang baru saja lahir namun Allah telah memerintahkannya agar ditempatkan di sebuah padang pasir tandus bernama Bakkah (Mekkah).

Dengan bermodalkan keyakinan yang kuat kepada Rabb-nya, Siti Hajar ra tidak hanya mampu membesarkan Ismail, namun juga mengubah padang pasir tandus menjadi perkotaan bahkan pusat pemerintahan.

Di saat Nabi Ibrahim mengunjungi Siti Hajar dan Ismail, Allah Swt memberikan wahyu melalui mimpi. Sebuah mimpi yang tidak lazim. Tampak Nabi Ibrahim sedang menyembelih Ismail. Beliau kaget dan akhirnya terbangun.

Saat itu, Ismail as baru menginjak usia antara 7-13 tahun. Dan hari itu bertepatan dengan malam 8 Zulhijah. Nabi Ibrahim pun berpikir, apakah gerangan maksud Allah Swt dengan mimpi ini?

Lalu, beliau memilih 100 domba terbaik untuk dikurbankan, berharap sesuai dengan maksud Allah memberikan mimpi tadi malam.

Namun di malam hari itu, beliau bermimpi kembali menandakan bahwa kehendak Allah Swt atasnya tidaklah demikian. Beliau pun merenung dan berpikir kembali lalu memutuskan untuk menyembelih 100 ekor domba terbaiknya kembali.

Mimpi yang sama kembali hadir di malam itu. Menyadarkannya kembali bahwa apa yang dimaksud Allah belum terlaksana. Maka beliau pun sadar bahwa kehendak Allah Swt terhadapnya belum terpenuhi sebagaimana mestinya. Beliau teringat dengan pernyataan yang pernah diucapkan bahwa ia siap mengurbankan anak seandainya Allah memintanya.

Nabi Ibrahim menangis dan memeluk Ismail. Lalu, beliau menemui Siti Hajar dan memintanya untuk mendandani dan memakaikan pakaian paling bagus baginya. Siti Hajar ra melaksanakannya. Ia memakaikan baju terbaik, menyisiri, dan memberinya minyak rambut. Kemudian Nabi Ibrahim as beserta Ismail as berangkat menuju Mina. Nabi Ibrahim membawa seutas tali dan sebilah pedang.

Pada saat itu nampak Iblis laknatullah sedang mondar-mandir. Ia tampak lebih sibuk dari biasanya. Ia menghasut Nabi Ibrahim melalui logikanya. Namun Nabi Ibrahim as tidak bergeming dan tetap menempatkan Allah Swt di atas segalanya. Iblis laknatullah kesal. Ia mengetahui betapa sulitnya mengganggu Nabi Allah.

Lalu, ia pun mencari sasaran selanjutnya. Menurutnya, Siti Hajar ra akan menjadi sasaran empuk menggunakan modus yang sama. Namun, apa yang disangkanya tidak terlaksana.

Siti Hajar memberikan jawaban yang luar biasa. Ia menyampaikan satu kalimat yang membuat “hati” Iblis laknatullah terluka, “Jangankan anak, jiwa sekali pun siap saya berikan bila Allah Swt memintanya.”

Iblis laknatullah semakin kesal. “Emosinya” tak terkendali. Hasutannya ia tumpah-ruahkan kepada sasaran terakhirnya, Ismail remaja. Dengan modus yang sama, ia menghasut Ismail remaja agar membangkang kepada ayahnya. Setiap celah ia masuki, berharap Ismail as murka terhadap ayahnya.

Namun sayang, harapan Iblis laknatullah harus punah. Dengan lantang, Ismail remaja menentang tidak hanya dengan kata-kata bahkan dengan sikap dan tindakannya.

Bak orang dewasa, Ismail remaja menyampaikan kalimat penuh keyakinan dari mulut mungilnya. Iblis laknatullah yang tidak mau kalah oleh seorang remaja, terus berusaha menaklukkan dan mengendalikan pola pikirnya.

Ismail as tidak tinggal diam. Di saat Iblis laknatullah hendak berkata-kata lagi, ia bersegera mengambil batu kerikil dan melemparinya sekuat tenaga hingga Iblis kehilangan (buta) sebelah “matanya”. Iblis laknatullah pun kewalahan lalu pergi meninggalkannya.

Subhanallah, demikianlah kisah keteguhan hati keluarga Nabi Ibrahim as. Mereka tidak hanya menginspirasi, bahkan Allah Swt tetapkan Nabi Ibrahim sebagai suri tauladan yang tidak hanya di masanya, melainkan berlaku sepanjang zaman. Wallahu a’lam. (Ustaz Edu)


Editor : suroprapanca