Industri Padat Karya Tertekan, Dedi Siapkan Skema Penyelamatan Pekerja Terdampak
Perlambatan ekonomi global mulai berdampak pada sektor industri padat karya Jabar. PT Feng Tay Indonesia menerapkan penundaan hari kerja (suspend) bergilir.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Sinyal perlambatan ekonomi global mulai berdampak pada sektor industri padat karya di Jabar. Itu menjadi alarm bagi keberlangsungan tenaga kerja di tengah lesunya pasar ekspor.
Salah satunya PT Feng Tay Indonesia yang menerapkan penundaan hari kerja (suspend) secara bergilir akibat menurunnya pesanan.
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengatakan, fenomena yang terjadi di Feng Tay mencerminkan tantangan yang saat ini tengah dihadapi banyak perusahaan manufaktur yang bergantung pada permintaan pasar internasional.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, sejumlah industri terpaksa mengambil langkah efisiensi untuk menjaga keberlangsungan usaha. Salah satu opsi yang banyak ditempuh perusahaan adalah melakukan restrukturisasi tenaga kerja guna menyesuaikan kapasitas produksi dengan kondisi pasar.
"Iya, banyak industri yang memang karena tekanan ekonomi global dan kondisi pasar harus mencoba untuk survive. Caranya adalah restrukturisasi tenaga kerja," ujar Dedi di Kota Bandung, Senin (22/6/2026).
Meski mengakui tekanan ekonomi yang sedang dialami sektor industri, Dedi menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam menghadapi potensi bertambahnya jumlah pekerja terdampak.
Pemprov Jawa Barat kata dia, tengah menyiapkan mekanisme penyaluran tenaga kerja agar pekerja yang terkena dampak restrukturisasi tidak terjebak dalam pengangguran berkepanjangan.
Langkah tersebut akan dilakukan melalui koordinasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jabar, dengan berbagai perusahaan yang masih membuka kebutuhan tenaga kerja di wilayah Jawa Barat.
"Nanti saya minta Disnaker untuk berkoordinasi. Tenaga kerja yang terdampak restrukturisasi akan di-link and match dengan perusahaan yang sedang merekrut pekerja," katanya.
Skema itu diharapkan menjadi solusi cepat, dalam menjaga kesinambungan pekerjaan para buruh, terutama di sektor industri yang masih membutuhkan tambahan tenaga kerja meski sejumlah perusahaan lain sedang mengalami perlambatan produksi.
"Sehingga ketika berhenti dari sini bisa pindah ke perusahaan lain. Jadi tidak lagi menganggur," ucapnya.
Menurutnya, mobilitas tenaga kerja antarsektor industri menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga stabilitas ketenagakerjaan Jabar.
Selain menekan angka pengangguran, langkah tersebut juga berperan menjaga daya beli masyarakat, yang menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah.
Editor : Doni Ramdhani

