Inggris 2-3 Spanyol: Euforia La Roja
ADA alasan mengapa Spanyol saat ini menyandang status sebagai penguasa sepak bola dunia. Mental baja mereka sulit tergoyahkan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Bsafaat
Di Stadion Wembley, Minggu (27/9) dini hari WIB, mentalitas La Furia Roja kembali diuji. Menghadapi Inggris dalam laga klasik penuh drama, Spanyol membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tim bertabur bintang, melainkan sebuah keluarga yang tahu cara bertarung bersama.
Laga baru berjalan dua menit ketika Lamine Yamal membungkam publik tuan rumah lewat gol kilatnya. Namun, Wembley bukanlah tempat yang mudah ditaklukkan.
Menjelang turun minum, Inggris mengamuk. Anthony Gordon dan Harry Kane bergantian membobol gawang Spanyol, membalikkan keadaan menjadi 2-1.
Keadaan sempat mencekam bagi Spanyol, terutama saat Inggris mendapat hadiah penalti. Beruntung bagi Spanyol, eksekusi Kane hanya membentur mistar gawang—sebuah momentum kecil yang mengubah segalanya.
Di sinilah kejelian Luis de la Fuente berbicara. Dari bangku cadangan, ia memasukkan Alex Baena dan Mikel Oyarzabal. Keputusan ini mengubah takdir pertandingan. Kedua pemain pengganti ini tampil sebagai pahlawan, mencetak gol beruntangan yang membalikkan keadaan menjadi 3-2 untuk kemenangan Spanyol.
Bagi Alex Baena, kemenangan ini bukan sekadar soal tiga poin, melainkan tentang jiwa dari tim ini.
"Sangat sulit mengalahkan kami karena kami adalah tim yang menyerang dan bertahan bersama-sama. Kami akan menikmati seluruh petualangan ini," ungkap gelandang Atletico Madrid itu dengan mata berbinar usai laga.
Baena menceritakan bagaimana situasi dari pinggir lapangan sebelum ia masuk. "Kami memerlukan sedikit ketenangan. Dari bangku cadangan, kami bisa melihat situasinya sempat kacau; kami kehilangan banyak bola. Pemain yang masuk mencoba membawa ketenangan itu kembali, mengembalikan karakter permainan kami ke lapangan. Sangat penting memiliki bangku cadangan yang bisa berkontribusi besar seperti itu." Kemenangan dramatis ini memperpanjang napas rekor tak terkalahkan Spanyol menjadi 39 pertandingan. Lebih dari sekadar statistik, laga di Wembley ini menegaskan satu hal: Spanyol tidak pernah tahu cara untuk menyerah.
Sementara itu Inggris harus gigit jari di depan pendukungnya karena keteledoran mereka. Apalagi dari delapan pertandingan terakhir di kandang, Inggris sudah tiga kali kalah.
Ditambah lagi lini pertahanan Inggris lagi bolong karena kebobolan tiga gol dalam dua partai terakhirnya.
Sebelum ini mereka kebobolan empat gol saat mengalahkan Prancis di perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026.
Sementara itu dua dari empat bek mereka punya andil dalam terciptanya gol Spanyol, yakni Marc Guehi dan Nico O'Reilly.
Belum lagi performa Ezri Konsa, Jarell Quansah, dan kiper James Trafford juga di bawah standar.
"Kami mengawali laga dengan sangat buruk, mungkin start terburuk kami - kami menyulitkan diri sendiri dengan kebobolan duluan menghadapi tim seperti ini. Reaksinya sangat bagus - kami masih saja bikin kesalahan-kesalahan fatal dan kebobolan dari peluang-peluang berbahaya lawan, tapi secara keseluruhan kami lebih baik serta mendominasi," ujar pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, di ITV.
Sementara itu sang penyerang Anthony Gordon merasa mereka tak sejauh itu dari Spanyol secara permainan. Inggris bisa meladeni sang juara Eropa dan dunia itu, namun rusak karena kesalahan-kesalahan sendiri.
Eror-eror itu yang dianggap satu-satunya pembeda dan jadi pekerjaan rumah. Tapi mantan pemain Manchester United Roy Keane melihatnya berbeda.
Spanyol selalu punya sesuatu yang ekstra dibandingkan Inggris. La Furia Roja tenang saat laga berjalan 'kacau', lalu merebut kendali lagi dan jauh lebih mengontrol di babak kedua.
Lamine Yamal dkk terasa senantiasa punya solusi atas dinamika yang terjadi di lapangan. Inggris memang cukup merepotkan dengan keunggulan fisiknya, tapi bahkan saat repot pun Spanyol masih bisa mendapatkan kembali kenyamanan memainkan bola.
"Menurut saya sih ada gap. Mereka itu juara dunia dan juara Eropa," kata Keane. (bsf)
INGGRIS 2-3 SPANYOL Alex Baena/Man of the Match Menit Main: 36 Gol: 1 Assist: 1 Shots: 2 On Goal: 2 Umpan Kunci: 2 Akurasi Umpan: 90,9% Sentuh Bola: 15
DATA FAKTA Waktu: Minggu (27/9) ; Kick Off Pukul 01.45 WIB Tempat: Stadion Wembley, London Wasit: D Massa Man of the Match: Alex Baena Pencetak Gol: Inggris (Gordon 36', Kane 40') ; Spanyol (Yamal 2', Baena 60', Oyarzabal 74') Kartu Kuning: Inggris (O'Reilly, Guehi, Bellingham) ; Spanyol (-) Kartu Merah: -
SUSUNAN PEMAIN Inggris: James Trafford; Jarell Quansah, Ezri Konsa, Marc Guehi (Jarrad Branthwaite 89'), Nico O'Reilly; Elliot Anderson, Myles Lewis-Skelly (James Garner 70'); Bukayo Saka (Morgan Gibbs-White 83'), Jude Bellingham, Anthony Gordon (Morgan Rogers 70'); Harry Kane (Dominic Calvert-Lewin 83').
Spanyol: Unai Simon; Eric Garcia, Pau Cubarsi, Aymeric Laporte, Marc Cucurella; Rodri, Fabian Ruiz (Pedri 70'); Lamine Yamal, Dani Olmo (Mikel Merino 80'), Nico Williams (Alex Baena 55'); Ferran Torres (Mikel Oyarzabal 55').
Editor : Inilahkoran

