Ini Tantangan Jabar Tekan Prevalensi Stunting

Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin mengakui, tidak mudah dalam menekan prevalensi stunting di Tatar Pasundan.

Ini Tantangan Jabar Tekan Prevalensi Stunting
Pj Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin

INILAHKORAN, Bandung - Penjabat (Pj) Gubernur jawa barat Bey Machmudin mengakui, tidak mudah dalam menekan prevalensi stunting di Tatar Pasundan.

Salah satu tantangannya kata Bey Machmudin, adalah menjangkau wilayah penduduk di pelosok Jabar. Dimana menurutnya, butuh usaha keras dan konsistensi.

Mengingat sambung dia, stunting harus ditangani secara berjenjang dan tidak dapat diselesaikan dalam satu waktu.

"Jumlah penduduk kita banyak, mungkin masih banyak yang belum dijangkau. Karena stunting ini harus dilakukan pengawasan dan pendampingan harian. Itu yang harus dilakukan kita semua. Harus lebih detail lagi. Tidak bisa, jangan dilepas begitu saja," ujar Bey Machmudin di Kota Bandung, Selasa 26 November 2024.

Belum lagi dalam rangka pencegahan, dimana dibutuhkan pengawasan terhadap pasangan yang akan menikah dan ibu hamil.

Edukasi harus terus dilakukan, supaya masyarakat juga dapat secara mandiri melakukan antisipasi terjadinya stunting. Mengingat salah satu penyebabnya adalah anemia atau kekurangan zat besi.

"Termasuk mereka akan menikah diberi pengetahuan, tentang bagaimana nanti ke depan. Jadi banyak hal yang harus diberi, diinformasi, diedukasi kepada masyarakat," ucapnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan jawa barat Vini Adiani Dewi mengaku optimistis, prevalensi stunting di Jabar dapat turun di 2024 ini.

Dari hasil data E-PPBGM sepanjang Januari-November ini sambung dia, didapati angka prevalensi stunting di Jabar sudah 7 persen. 

Turun cukup jauh dibandingkan pada 2023 silam, dimana prevalensi stunting Jabar di angka 21,7 persen.

Hanya saja ini belum dapat dijadikan patokan seutuhnya tambah dia, karena bergantung dari hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI).

"2024 harus 14 persen. Jadi kalau lihat semangat di kota/kabupaten, banyak sekali inovasi yang dibuat. Kurang dari 10 persen. 7 kalau tidak salah. Kalau lihat dari E-PPBGM. Tapi yang diakui data survei, jadi kita tunggu saja," ucapnya.

Meski demikian, Vini mengaku optimistis walaupun nantinya hasil E-PPBGM tidak sesuai dengan SSGI.

"Kita tunggu saja. Saya optimis karena banyak yang sudah dilakukan kabupaten/kota. Minimal target kita di bawah angka nasional. Syukur-syukur bisa 14 persen, walaupun berapapun hasilnya, tahun depan kita massifkan lagi," sambungnya.

Sementara mengenai kota/kabupaten yang masih tinggi angka prevalensi stunting, Vini mengungkap ada empat daerah lagi yang harus digenjot.

"Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, Bandung Barat dan Kabupaten Tasikmalaya," ungkapnya.

Dia berharap, melalui usaha bersama prevalensi stunting di empat kawasan tersebut juga wilayah lainnya dapat berkurang.

"Kita harus mengingat, berapa anak yang harus diselamatkan," tandasnya. ***


Editor : Ahmad Sayuti