Isu Adhitia Maju Pilwalkot Cimahi 2030 Terlalu Dini, Fokus Selesaikan Kinerja

Pengamat Unjani menilai isu pencalonan Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira pada Pilkada 2030 terlalu dini.

Isu Adhitia Maju Pilwalkot Cimahi 2030 Terlalu Dini, Fokus Selesaikan Kinerja
Wali dan Wakil Wali Kota Cimahi, Ngatiyana-Adhitia Yudisthira tengah diterpa isu keretakan.

INILAHKORAN.ID – Munculnya isu pencalonan Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira sebagai calon Wali Kota (C1) pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2030 dinilai terlalu dini. Di tengah masa pemerintahan yang baru berjalan, wacana tersebut dikhawatirkan mengganggu konsentrasi pembangunan dan soliditas kepemimpinan di Kota Cimahi.

pengamat Politik dan Pemerintahan Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Arlan Siddha, menilai secara etika maupun strategi politik, pembahasan mengenai kontestasi Pilkada 2030 belum menjadi prioritas.

Menurutnya, Wali Kota Cimahi Ngatiyana bersama Wakil Wali Kota Adhitia Yudisthira seharusnya memusatkan perhatian pada penyelesaian berbagai persoalan daerah dan memperkuat sinergi pemerintahan.

"Jika masing-masing sudah sibuk membangun citra demi persaingan elektoral, komunikasi antar pimpinan akan renggang, publik akan kehilangan kepercayaan, hingga birokrasi berpotensi terbelah karena keraguan arah kebijakan," kata Arlan saat dihubungi, Rabu (22/7/2026).

Arlan menilai, dari sisi strategi politik, upaya membangun popularitas Adhitia untuk Pilkada 2030 juga belum tepat dilakukan saat ini. Menurutnya, langkah tersebut justru berpotensi memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat.

"Justru berisiko memicu antipati masyarakat karena dianggap mendahulukan ambisi pribadi di atas kepentingan kota," ujarnya.

Ia juga menyoroti pernyataan "kenapa tidak" yang sempat dikaitkan dengan peluang pencalonan Adhitia. Menurut Arlan, narasi tersebut sebaiknya diganti dengan pernyataan yang lebih menyejukkan dan berorientasi pada peningkatan kinerja pemerintahan.

Meski mengakui dinamika politik di internal koalisi merupakan hal yang wajar, Arlan mengingatkan agar persaingan politik tidak mengganggu pelayanan publik maupun jalannya roda pemerintahan.

"Solusi yang paling mendesak, kedua pimpinan daerah duduk bersama untuk menyamakan persepsi, sementara partai politik diminta menahan diri agar tidak memanaskan suasana sebelum waktunya," tandasnya.

Arlan berharap seluruh energi pemerintah daerah saat ini difokuskan untuk menuntaskan program kerja dan menjawab berbagai persoalan masyarakat, sehingga kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Kota Cimahi tetap terjaga.***


Editor : JakaPermana