Tahun Ini, Dinas Perkebunan Jabar Menargetkan Cetak 111 Petani Milenial

Kadis Perkebunan Jabar Jafar Ismail mengatakan, pihaknya menargetkan 111 petani milenial pada 2022 dan lebih banyak dibanding tahun lalu

Tahun Ini, Dinas Perkebunan Jabar Menargetkan Cetak 111 Petani Milenial
Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum saat Panen Raya Petani Milenial Komoditas Padi di Desa Gembongan, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang

 

INILAHKORAN, Bandung - Kepala Dinas Perkebunan Jabar Jafar Ismail mengatakan, pihaknya menargetkan 111 petani milenial pada 2022 ini. Jumlah tersebut lebih banyak disandingkan pada tahun lalu.

Jafar Ismail memastikan, pihaknya akan terus menjalankan program petani milenial dengan target yang lebih banyak di Jabar. 

"Pada 2021 kan baru jadi agak tersendat-sendat. Tapi 2022 ingin lebih banyak targetnya jadi 100 orang bahkan bisa sampai 111 orang (petani milenial)," ujar Jafar Ismail.

Baca Juga: TNI AU Siapkan 2.500 Personel Komcad Tahun Ini Untuk Memperkuat Komponen Utama 

Menurut Jafar, memang terdapat sejumlah masalah ketika proses mencetak petani milenial di antaranya saat perekrutan awal di mana  kurang melibatkan kabupaten/kota. Kondisi tersebut menjadikan pendaftar langsung mendaftar online ke Pemprov Jabar, petani milenial kebanyakan bersifat individu, kurang berlatar belakang pertanian dan kurang mengenal komoditas yang akan dikembangkan.

Adapun hal lainnya, pada umumnya petani milenial belum memiliki lahan atau tempat usaha khusus untuk pengolahan hasil. Sementara, lahan yang menganggur belum dimanfaatkan dengan baik karena terkendala lokasi.

"Karena misalnya petani yang berminat orang Bandung tapi lahannya ada di Karawang jadi susah untuk dikelola karena domisilinya," katanya.

Baca Juga: Masuk Zona Merah, Ini Kekhawatiran Satgas Covid-19 Desa Bojong Kulur

Adapun pada 2021 pihaknya telah menerima pendaftaran secara online sebanyak 52 orang. Yakni, yang sudah memiliki rintisan usaha sebanyak 5 orang, sudah memiliki rintisan usaha secara mandiri sebanyak 12 orang, belum memiliki dan memulai rintisan usaha sebanyak 9 orang dan 26 orang mengundurkan diri.

Para petani milenial yang mengikuti program ini, kata dia, sudah memperlihatkan perkembangan yang cukup baik. Yakni, terlihat dari meningkatnya volume penjualan.

"Jadi pada program petani milenial ini yang kita sentuh pada pengolahan pasca panen. Kita ada pendaftaran online minatnya ke apa, kita sesuaikan program kita. Karena minatny ada yang ke komoditas kopi, gula aren dan vanili," katanya.

Baca Juga: Sunnah Rasulullah SAW Hadapi Kecemburuan Istri, Buya Yahya: Jangan Dimarahi!

Untuk tahun 2022 ini, pihaknya masih melaksanakan secara online belum off line. Tapi, tetap bekerja sama dengan bjb memberikan pembinaan.

Berkaca pada 2011, kata dia, program petani milenial di lingkungan Dinas Perkebunan yang mengikuti secara online ada 12 orang. Tapi, Petani Milenial yang dibina bjb mencapai 500 orang. 

"Mereka dapat kredit untuk komoditas teh dan kopi. Kalau sudah dengan bjb kan  ada off taker, petani milenial ini dinilai sudah layak karena diberikan KUR," katanya.

Baca Juga: Jangan Lakukan Ini Saat Sholat Ustadz Abdul Somad: Cara Khusuk Tidak Seperti itu!

Sementara untuk membantu pemasaran petani milenial, kata dia, Dinas Perkebunan menghubungkan langsung dengan off taker. Bulan ini, ada forum offtaker di dinasnya. 

"Kami menggelar forum off taker agar tahu bagaimana hasil produk petani milenial ini, akan bisa diterima atau tidak. Produk Vanili dari Sumedang sudah kami hubungkan dengan offtaker," katanya.

Hingga saat ini, kata dia, ada 5 orang petani milenial yang dibantu oleh perbankan yang sudah sukses. Selain itu, ada 12 orang petani milenial mandiri dan tak menggunakan dana perbankan. 

"Pendapatan para petani milenial yang sudah berhasil itu bervariasi ada yang 4 juta seperti yang diharapkan bahkan ada yang lebih tapi ada juga yang kurang. Yang kurang, kami bina terus agar bisa punya pendapatab Rp 4 juta," pungkasnya. (Riantonurdiansyah)

 

 


Editor : inilahkoran