INILAH, Bandung - Jelang pelaksanaan Pemilu 2019, semakin hari suhu politik Tanah Air terus menghangat. Guna menekan sesuatu yang tidak diinginkan, Jaringan Kerjasama Antar Umat Beragama (Jakatarub) mendeklarasikan Pemilu Damai.
Menanggapi itu, Setara Institute menilai hal tersebut sebagai aksi positif yang bisa dilakukan tataran grassroot. Koordinator Bandung Setara Institute Wawan Gunawan mengatakan, saat ini masyarakat seakan terpolarisasi menjadi dua kubu berlawanan. Ini diakuinya sebagai imbas dari kontestasi pemilihan presiden (Pilpres) yang hanya diikuti dua pasangan calon.
"Bukan sekadar simbol, Dekalarasi Damai ini sebagai upaya untuk megingatkan agar selalu hidup berdampingan antar-umat beragama dan meningkatkan toleransi. Deklarasi ini dinyatakan sekitar 150 orang dari seluruh umat dan tokoh agama yang ada dan hidup di Indonesia," kata Wawan usai Silaturahmi Lintas Agama di Javaretro Hotel Bandung, Kamis (21/3/2019) malam.
Menurutnya, pernyataan itu pun sebagai upaya untuk meredam aksi radikalime yang hingga saat ini kerap terjadi. Gencarnya sosialiasi dan diskusi dibutuhkan untuk memberikan pendidikan politik masyarakat awam.
"Untuk literasi politik, di Bandung ini saya kira dari skala 1-10 angkanya ada di antara 6-7. Masyarakat Bandung kebanyakan melek politik dan sudah memahami keyakinan beragama itu sebagai salah satu hak asasi manusia yang harus dihormati," sebut pria yang pernah menjadi Koordinator Jakatarub.
Sementara itu, pembicara Bambang Q-Anees menegaskan hal kondisi suhu politik yang menghangat ini para tokoh agama diharapkan bisa mendinginkan suasana dan umat keseluruhan. Dia menegaskan, polarisasi masyarakat yang saat ini terjadi diprediksi berlanjut pasca-Pilpres 2019.
"Setelah Pilpres ini bukannya mereda. Nmaun, saya perkirakan polarisasi itu semakin kuat terjadi. Makanya, para tokoh agama sebisa mungkin harus mendinginkan suasana," sebutnya.
Dia menyebutkan, salah satu yang bisa dilakukan yakni sesama umat beragama kudu memahami nilai dan hakikan dari sebuah keimanan. Sejatinya, agama apa pun itu tidak mengajarkan umat untuk saling membeenci.
"Jadi, intinya setiap orang itu harus memahami hakikat iman. Hal kecil tapi bermakna besar yang bisa dilakukan yakni selamatkan iman masing-masing. Toh, agama apa pun tidak ada yang mengajarkan saling membenci terhadap sesama," ujar Bambang.