Jalan Menuju Fitri

Ramadan adalah tempat baik, tetapi belum tentu bisa secara otomatis berguna bagi perbaikan diri karena pada ujungnya kebaikan atau keburukan manusia juga ditentukan subjek (fail).

Jalan Menuju Fitri
Ilustrasi (Istimewa)

Ramadan adalah tempat baik, tetapi belum tentu bisa secara otomatis berguna bagi perbaikan diri karena pada ujungnya kebaikan atau keburukan manusia juga ditentukan subjek (fail).

Bahkan bisa jadi puasa tidak berdampak apa-apa selain lapar dan dahaga. Sebab puasa memang bukan tujuan, melainkan alat; kendaraan untuk mencapai tujuan, yakni ketakwaan.

Dari sini kita bisa menyimpulkan, puasa memang kewajiban yang tak bisa ditawar oleh umat Islam. Tetapi pada esensi peraihan tujuannya, kita dihadapkan pilihan: apakah memilih sekadar lapar dan dahaga, atau sungguh-sungguh untuk mencapai takwa.

Alquran memberikan kebebasan kepada manusia. Dengan modal akal itulah kita bisa menentukan pilihan-pilihan bebas untuk mengambil jalan lurus dan kita memilih menghindar jalan sesat.

"Jalan yang lurus" adalah jalan yang hendak ditempuh oleh setiap Muslim sebagai jalan yang akan membawa kita agar pada keberhasilan hidup di dunia serta-merta usaha untuk meraih keselamatan di akhirat.

Makna jalan lurus tentu saja tidak sekonkret yang kita pikirkan sebagai jalan yang tidak berkelok, tidak terjal, dan mudah dilewati. "Jalan lurus" ini adalah semacam isyarat tentang kebenaran. Apa yang benar dalam Islam?

Di sinilah pentingnya Ramadan harus dikelola secara baik sebagai tempat kendali yang benar. Agar kita bisa mencapai tujuan awal berkehidupan yaitu, Idul Fitri. Idul fitri adalah perayaan, karena secara harfiah berarti "hari raya kemenangan".

Tetapi aplikasi pestanya bukan berlebih-lebihan dan dimensinya bukan sebatas urusan kebahagiaan individual apalagi semata bersifat duniawi, melainkan untuk aplikasi rahmat kemanusiaan.

Karena itu, sebaik-baiknya Idul Fitri mestinya dimanfaatkan penuh untuk pengabdian kepada sesama. Kenikmatan bisa didapat secara personal. Tetapi kebahagiaan hanya bisa didapat dengan jalan solidaritas.

Itulah mengapa kita bisa berbahagia jika kita mampu berbagi. Berbagi materi, ilmu, berbagi kebaikan tegur-sapa melalui silaturahim dan seterusnya adalah anjuran Islam.

Melalui penyelesaian puasa sebulan penuh, memang kita telah menang melawan hawa nafsu. Minimal menang melawan nafsu konsumsi berlebihan. Karena itu pada Idul Fitri nanti kita usahakan teraplikasikan dalam "perayaan" kemanusiaan dengan kegiatan antara lain;

1) bermaaf-maafan dengan kerabat, teman, saudara. Saling memaafkan artinya bersolidaritas di antara sesama manusia (hablum min al-nas). Ini merupakan bentuk lanjutan tujuan dari puasa di mana Ramadan merupakan upaya "pembakaran dosa", dengan titik sentral persembahan kepada Allah Swt, kemudian Idul Fitri melanjutkan upaya penghapusan dosa pada sesama manusia.

Prinsip dalam Islam, jika kita sadar akan kesalahan seketika itu pula harus meminta maaf dan yang diminta juga harus berusaha memaafkan. Tetapi khusus untuk maaf-maafan Idul Fitri maksudnya adalah jika ada kesalahan yang tidak sengaja atau ada kekurangan selama berhubungan. Kemudian diperlukan saling memaafkan supaya tidak ada hutang dosa di antara sesama. 

Kedua, silaturahim sangat bermakna untuk merajut hubungan yang putus, atau menjauh. Dengan bersilaturahim kita bisa menyapa sanak-saudara dalam situasi yang akrab, menumbuhkan perhatian, mengembangkan solidaritas kemanusiaan pada kaum musta'afin, dan saling memberi makna atas kehidupan yang beragam.

Sebulan penuh berpuasa kita telah bersinggah; menyehatkan badan dengan kontrol makanan, memberi perhatian pada kaum lemah, menajamkan intuisi melalui kesabaran, memperbanyak ibadah, dan lebih penting lagi adalah mengenal kesejatian diri.

Melalui puasa dan Idul-Fitri, kita bisa menemukan diri. Sebab itulah yang penting karena filosofi kita adalah "man arafa nafsahu faqad arrafa rabbahu": barangsiapa mampu memahami dirinya, maka ia akan mampu memahami Tuhannya. Selamat Mudik. Selamat Ber-Idul-Fitri. Mohon maaf lahir batin. (Santri Daarut Tauhiid)


Editor : suroprapanca