Jalur Gunung Lio, Tanjakan Curam dan Mitos Larangan Melintas bagi Pengantin Baru

Gunung Lio, tanjakan tajam berbahaya dan mitos larangan pengantin baru melintas jika tak ingin terjadi kecelakaan

Jalur Gunung Lio, Tanjakan Curam dan Mitos Larangan Melintas bagi Pengantin Baru
Sebuah mobil terlibat kecelakaan di Jalan Gunung Lio, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah saat arus mudik Lebaran

INILAHKORAN,Brebes,- Warga di Kabupaten Brebes khususnya wilayah Tanjung, Banjarharjo dan Kecamatan Salem tentu tak asing lagi dengan Tanjakan Gunung Lio.

Jalur perlintasan Gunung Lio yang dikenal curam dan berbahaya tersebut selama ini menjadi jalan alternatif yang banyak digunakan warga sekitar meski kondisinya sangat berbahaya.

Gunung Lio merupakan jalur alternatif yang menghubungkan wilayah Banjarharjo dan Salem. Tak hanya tanjakan curam dan berkelok, jalan sempit dengan kanan kiri jurang juga menjadikan jalur tersebut sangat ditakuti.

Baca Juga: Bantu Pemudik di Jalur Curam Gunung Lio, Satkoryon Banser Salem Berjaga Siang Malam

Disamping jalan curam, di kalangan masyarakat setempat juga beredar mitos larangan melintas bagi mereka yang berstatus sebagai pengantin baru.

Kabarnya, jika pengantin baru nekat melintas di jalur Gunung Lio maka kebanyakan berujung petaka atau musibah kecelakaan. Mitos yang hingga kini masih dipercayai oleh tak sedikit warga sekitar.

Mitos seputar Gunung Lio tak hanya seputar larangan bagi pengantin, dulu karena seringnya kecelakaan tak jarang masyarakat bahkan mengait-ngatikannya dengan mahluk halus.

Baca Juga: RESMI! Kemenag Rilis Calon Jemaah Haji 2022 yang Berhak Berangkat

Kendati begitu seiring waktu, jalur Gunung Lio kini bahkan menjadi jalur yang ramai digunakan warga sekitar bahkan hingga malam hari.

Agus Kusworo, seorang warga Kecamatan Salem mengaku, kerap kali menggunakan jalan Gunung Lio untuk memangkas waktu perjalanan.

Menurutnya, meski jalan tersebut curam, namun karena sudah terbiasa dia mengaku lebih nyaman mengambil jalur Gunung Lio jika hendak menuju Brebes atau bahkan ke Jakarta.

Baca Juga: Anies Baswedan-Ridwan Kamil Bukan Boneka Oligarki!

"Sudah terbiasa. Warga sekitar sih menganggap memang jalan itu sudah umum," ungkapnya.

Senada diungkapkan Asep Cuwantoro. Pria yang tercatat bekerja sebagai Staf di Kantor Staf Presiden (KSP) ini mengaku, sebagai warga Kecamatan Salem dirinya memang kerap menggunakan jalan Gunung Lio jika mudik.

Tak hanya saat mudik Lebaran, Asep yang mengaku kerap pulang ke kampung halaman jika mendapat libur itupun kerap menggunakan jalan Gunung Lio.

Baca Juga: Cikampek ke Karawang Habiskan Tiga Jam Gara-gara Macet Parah di Jalan Arteri

"Medannya memang curam dan mengerikan. Tapi saya pikir melintas di Gunung Lio itu juga soal kemantapan hati. Jika memang yakin yang Insya Allah aman. Tapi kalau ragu-ragu atau takut sebaiknya jangan," ungkapnya.

Asep Cuwantoro juga mengapresiasi kegiatan Satkoryon Banser Kecamatan Salem yang mendirikan Posko Mudik Lebaran untuk membantu pemudik melintasi Gunung Lio.

Menurutnya, relawan-relawan tersebut sangat memberikan manfaat luar biasa bagi masyarakat dan tentu saja patut diapresiasi.

Baca Juga: Biar Gak Kena Macet, Ini 4 Rute Alternatif ke Bandung Saat Arus Balik mudik Lebaran 2022

"Saya sangat berterima kasih dan bangga dengan perjuangan teman-teman relawan dari Satkoryon Banser Kecamatan Salem yang dengan ikhlas membantu para pemudik. Semoga kegiatan tersebut tidak hanya saat mudik Lebaran tetapi juga hari-hari biasa atau di momen-momen libur panjang," ungkapnya.***


Editor : inilahkoran