Jangan Asal Menuduh Zina pada Perempuan Saleh!
"SESUNGGUHNYA orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena lanat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)." (QS. An-Nuur: 23-26)
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
"SESUNGGUHNYA orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena lanat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)." (QS. An-Nuur: 23-26)
Ada tiga sifat yang disebutkan dalam ayat ini:
- al-muhshanaat yaitu yang selalu menjaga kehormatan diri dari zina,
- al-ghafilaat yaitu yang tak pernah terbetik dalam hatinya keinginan untuk berzina,
- al-muminaat yaitu yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Hati-hati menuduh wanita yang memiliki sifat seperti di atas dengan tuduhan zina. Yang menuduh akan mendapatkan laknat. Laknat Allah bermakna jauh dari rahmat Allah. Laknat dalam kasus ini berlaku di dunia dan akhirat. Sedangkan kalau laknat tersebut datangnya dari selain Allah, maka maksudnya adalah dikutuk, dicela, dan dijauhi.
Pada hari kiamat nanti, lisan, tangan, dan kaki akan menjadi saksi atas apa yang diperbuat oleh manusia. Contoh, lisan yang menuduh yang lain berzina tanpa bukti (qadzaf), maka akan bersaksi pada lisannya sendiri bahwa orang ini telah melakukan qadzaf, menuduh yang tidak benar.
Bagaimana mengompromikan antara ayat yang dikaji saat ini dengan ayat, "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." (QS. Yasin: 65)?
Jawab Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah bahwa yang dimaksud kami tutup mulut mereka adalah mulut mereka tidak mengingkari perbuatan yang mereka lakukan. Lisan mereka bersaksi sesuai yang sebenarnya yang menyelisihi lisannya sendiri. Sehingga lisan itu ada dua macam, yaitu ada lisan syahid yang berbicara sesuai kenyataan dan inilah maksud ayat yang kita kaji saat ini dari surah An-Nuur. Lisan kedua adalah lisan mungkir, yaitu lisan yang mengingkari yang mendukung pembicaraan yang punya lisan. Ada hikmah, dalam surah An-Nuur didahulukan lisan daripada kaki dan tangan karena alur pembicaraan sedang membicarakan tentang qadzaf (menuduh zina) dan yang menuduh ini menggunakan lisan.
Diin dalam ayat ke-25 bermakna pembalasan. Karena diin kadang diartikan amal (agama) dan kadang diartikan dengan pembalasan amal. Pada surah Al-Maidah ayat ketiga disebutkan, "Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian." Yang dimaksud diin di sini adalah agama atau amal, bukan yang dimaksudkan adalah pembalasan terhadap amal. Sedangkan pada ayat,
"Maaliki yaumid diin" yang dimaksud adalah Allah Yang Menguasai Hari Pembalasan, yaitu diin diartikan pembalasan terhadap amal. Ringkasnya, pada ayat ke-25 dari surah An-Nuur ini, makna diin adalah pembalasan terhadap amal.
Allah menjelaskan sesuatu sesuai dengan hakikat sebenarnya. Di dalam ayat ke-25 digunakan tiga cara takid (penguatan makna),
"bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)", yaitu pertama dengan "inna", kedua dengan dhamir fashel (huwa), ketiga dengan jumlah mubtada-khabar yang kesemuanya menggunakan alif lam (isim marifah). Sedangkan kata mubin dalam ayat tersebut bermakna jelas dan menjelaskan (kata lazim dan mutaaddi). Makna mubin berarti kebenaran dari sisi Allah itu jelas dan di hari kiamat Allah akan menampakkan segala sesuatu dengan sejelas-jelasnya.
Pada ayat ke-26 disebutkan mengenai laki-laki yang baik-baik untuk perempuan yang baik-baik begitu pula sebaliknya. Kata khabits (jelek) ini merujuk kepada perkataan dan perbuatan. Dari sini kita simpulkan bahwa para nabi, terkhusus lagi nabi ulul azmi, terkhusus lagi Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang menjadi manusia terbaik secara mutlak, maka hanya mendapatkan istri yang baik-baik saja. Kalau ada yang menyatakan jelek kepada salah satu istri beliau seperti Aisyah, maka berarti menyatakan jelek kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam pula. Inilah inti bantahan tentang hadits ifki yang menuduh Aisyah radhiyallahu anha berselingkuh. Kalau kita sudah mengetahui ia adalah istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka kita sudah hukumi baiknya sebagaimana baiknya suaminya sebagai manusia terbaik.
Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan kita semakin mudah dipahamkan Al-Quran. [Referensi: Tafsir Al-Quran Al-Karim Surat An-Nuur; Tafsir As-Sadi; Artikel Kajian Muslimah Gunungkidul di Masjid Besar Al-Huda Playen/ Muhammad Abduh Tuasikal]
Editor : JakaPermana

