Jejak Abu dari Krakatau

Jejak Abu dari Krakatau
KENAKAN MASKER: Warga mengenakan masker di Tempat Pelelangan Ikan Pasauran, Serang, Banten.(Foto:ANTARA/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS)

Oleh: Yuliantono

INILAH, Bandung - Langit Jawa bagian barat perlahan membawa jejak dari Selat Sunda. Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau bergerak mengikuti angin, menyeberangi batas wilayah hingga mencapai Banten, DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Barat. 

Dari kawah yang terus bergolak, abu itu menjelma menjadi bayang-bayang yang mengusik perjalanan, kesehatan, dan aktivitas warga.

Pada Minggu (6/9), jejak tersebut tertangkap dalam citra satelit RGB Himawari-9 yang dianalisis Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II. Sekitar pukul 09.00 WIB, material vulkanik terlihat menyebar ke sejumlah wilayah di bagian barat Pulau Jawa.

Abu vulkanik tak mengenal batas administratif, bergerak mengikuti angin, menempuh jarak yang tak selalu dapat diperkirakan dengan mudah. Apa yang keluar dari tubuh gunung di tengah Selat Sunda, beberapa waktu kemudian dapat hadir sebagai lapisan tipis di tempat yang jauh dari kawah.

Bagi warga, kehadirannya membawa kewaspadaan baru. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat meminta masyarakat mengantisipasi kemungkinan hujan abu yang dapat mengganggu kesehatan, terutama saluran pernapasan dan penglihatan.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten Ali Mulku Engkun mengingatkan warga agar menggunakan perlengkapan pelindung ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

"Jika terjadi hujan abu vulkanik, masyarakat diimbau menggunakan masker untuk melindungi saluran pernapasan. Selain itu, gunakan kacamata atau pelindung mata saat beraktivitas di luar rumah," ujar Teten, Minggu (6/9). 

Anjuran berikutnya terdengar sederhana, tetapi penting: kurangi aktivitas di luar rumah ketika abu turun cukup pekat. "Kurangi aktivitas di luar rumah selama hujan abu berlangsung," katanya.

Rumah pun perlu ditutup rapat. Pintu, jendela, dan ventilasi udara disarankan tidak dibiarkan terbuka agar partikel abu tidak masuk dan mengendap di dalam ruangan.

Bagi mereka yang berada di jalan, kewaspadaan mengambil bentuk lain. Abu vulkanik berpotensi menurunkan jarak pandang sehingga perjalanan dengan kendaraan menjadi lebih berisiko. "Hindari mengemudi jika jarak pandang terganggu," kata Teten.

Endapan abu juga perlu dibersihkan dengan perlahan. Mengibaskannya justru dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup.

Di tengah perubahan yang dibawa abu itu, satu pesan terus diulang: masyarakat perlu mengikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG, dan BPBD mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Langit Mendadak Berubah

Abu yang mengambang di atmosfer tidak hanya mengubah cara orang bernapas atau berkendara, tetapi mengubah perjalanan di udara.

Sejumlah pesawat harus berhenti terbang. Bandara yang biasanya menjadi pintu masuk dan keluar jutaan penumpang mendadak kehilangan kesibukannya setelah sebaran abu vulkanik mempengaruhi keselamatan operasional penerbangan.

Kementerian Perhubungan semula menutup lima bandara, yakni Bandara Radin Inten Lampung, Soekarno-Hatta Jakarta, Halim Perdanakusuma Jakarta, Pondok Cabe Jakarta, dan Budiarto Curug Tangerang.

Pengujian lanjutan kemudian dilakukan. Pada pukul 12.00 WIB, Bandara Husein Sastranegara Bandung dinyatakan turut terdampak abu vulkanik. Operasional penerbangan di bandara itu pun dihentikan sementara.

Bandara Soekarno-Hatta sendiri sebelumnya ditutup sementara dari pukul 01.30 WIB hingga 05.30 WIB karena terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Operasional penerbangan kemudian dihentikan sementara hingga pukul 09.30 WIB.

Bagi penumpang, perubahan itu berarti jadwal yang tertunda, penerbangan yang dibatalkan, atau perjalanan yang harus mencari jalur lain. Pemerintah memilih keselamatan sebagai pertimbangan utama. 

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah bandara alternatif untuk melayani penerbangan domestik maupun internasional selama bandara terdampak tidak dapat beroperasi.

Bandara Kertajati di Majalengka, Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang, dan Bandara Juanda Surabaya disiapkan sebagai lokasi pendaratan alternatif bagi penerbangan menuju Pulau Jawa.

"Mengingat masyarakat mungkin masih banyak yang menginginkan atau sesuai dengan kebutuhan masing-masing untuk dapat terbang khususnya ke Jakarta, kami menyiapkan alternatif seperti di Kertajati, kemudian Bandara Ahmad Yani Semarang, dan juga Bandara Juanda Surabaya," kata Dudy, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (6/9).

Kementerian Perhubungan juga memberikan kesempatan kepada maskapai untuk mengalihkan operasional ke tiga bandara tersebut apabila kondisi penerbangan memungkinkan.

"Kami sudah menyiapkan Bandara Kertajati, Bandara Ahmad Yani, dan Juanda sebagai bandara alternatif apabila airlines atau operator memungkinkan untuk menerbangkan pesawatnya ke ketiga bandara alternatif tersebut," ucapnya.

Bandara-bandara alternatif itu menjadi semacam jalan memutar bagi perjalanan yang mendadak kehilangan jalur utama.

Sementara itu, Kementerian Pariwisata ikut memantau dampak erupsi terhadap aktivitas wisata dan layanan penerbangan.

Juru Bicara Kementerian Pariwisata Apni Jaya Putra mengatakan jajarannya memantau pembatalan penerbangan, termasuk layanan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten.

"Menteri pariwisata sudah meminta jajaran untuk memantau pembatalan penerbangan," kata Apni saat dihubungi dari Jakarta.

Wisatawan yang berada di daerah terdampak diminta memahami apabila penerbangan mereka dibatalkan, ditunda, atau dijadwalkan kembali. Masker juga dianjurkan untuk mengurangi paparan abu vulkanik. Sebab, dalam keadaan seperti ini, perjalanan bisa menunggu. Keselamatan tidak.

Gunung Masih Bergerak

Jauh di tengah Selat Sunda, sumber dari semua perubahan itu masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi berulang sejak Juli 2026. Aktivitas vulkanik meningkat hingga Sabtu (5/9), memunculkan kembali ingatan masyarakat terhadap peristiwa besar yang pernah terjadi di kawasan tersebut.

Erupsi yang terus berlangsung menandakan masih adanya suplai magma dan gas di dalam tubuh gunung.Namun, peningkatan aktivitas itu tidak serta-merta berarti erupsi yang lebih besar akan terjadi.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan evaluasi aktivitas gunung dilakukan berdasarkan berbagai parameter. Jumlah erupsi maupun tinggi kolom abu bukan satu-satunya ukuran untuk membaca kondisi gunung.

"Bahwa aktivitas Gunung Krakatau saat ini memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya, ditandai oleh erupsi yang berulang dan berlangsung secara menerus. Kondisi tersebut menunjukkan adanya suplai magma dan gas dalam tubuh gunung yang masih berlangsung," ujar Lana dalam konferensi pers daring bertajuk Fenomena Erupsi Menerus Gunungapi Anak Krakatau, Minggu (6/9). 

Kegempaan berupa gempa frekuensi rendah, gempa hibrid, harmonik, dan tremor masih terekam. Semua itu menunjukkan adanya pergerakan fluida vulkanik di dalam sistem gunung api. Aktivitas tersebut masih dapat berubah. Waktu dan skala erupsi berikutnya, bagaimanapun, belum dapat dipastikan.

Bahaya utama yang perlu diwaspadai saat ini berada di sekitar kawah, mulai dari lontaran material pijar, batuan vulkanik, abu vulkanik, gas berkonsentrasi tinggi, hingga aliran material erupsi.

"Lontaran material ini dapat merusak peralatan yang berada dekat dengan pusat aktivitas dan membahayakan siapa pun yang masuk zona terlarang," katanya.

Karena itu, zona terlarang bukan sekadar garis di atas peta, tetapi batas antara ruang yang boleh didekati dan ruang yang masih harus dibiarkan menjadi wilayah gunung.

Ingatan tentang 2018

Setiap kali Gunung Anak Krakatau kembali aktif, ingatan masyarakat mudah berbelok ke satu tanggal: 22 Desember 2018. Malam itu, tsunami menerjang kawasan pesisir Selat Sunda. Peristiwa tersebut terjadi setelah sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau runtuh ke laut dalam volume besar.

Ingatan terhadap bencana itu masih hidup. Karena itu, peningkatan aktivitas gunung kali ini kembali memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan tsunami.

Badan Geologi memastikan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan keadaan sebelum tsunami 2018.

"Tsunami Selat Sunda pada tanggal 22 Desember 2018 terutama ini berkaitan dengan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume yang besar, bukan semata-mata akibat kolom erupsi," jelas Lana, seperti dikutip dari ANTARA.

Hasil pemetaan morfologi terbaru menunjukkan bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utama relatif tidak mengalami perubahan signifikan. Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau setelah erupsi 2018 juga masih tergolong kecil.

"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," tegasnya.

Meski demikian, kewaspadaan tidak berarti dihentikan.Pemantauan terus dilakukan meski sejumlah kamera pengawas atau CCTV di sekitar kawah mengalami kerusakan. PVMBG tidak bergantung pada satu alat untuk membaca perilaku gunung.

Jaringan seismik, deformasi, pengamatan visual, emisi gas, citra satelit, dan informasi lapangan digunakan secara bersama-sama.

"Pemantauan yang dilakukan oleh Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM ini dilakukan secara multiparameter dan tidak hanya bergantung pada satu CCTV atau satu instrumen saja," ujarnya.

Begitu pula dengan abu. Arah geraknya tidak pernah sesederhana melihat dari mana dia berasal. Kecepatan angin, tinggi kolom erupsi, durasi erupsi, dan volume material yang dikeluarkan turut menentukan ke mana abu akan bergerak. Arah sebarannya bahkan dapat berubah dalam waktu singkat.

Informasi mengenai aktivitas vulkanik kemudian disampaikan melalui Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA), menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi otoritas penerbangan dalam menjaga keselamatan jalur udara.

"Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi resmi karena sebaran abu tidak dapat diproyeksikan berdasarkan satu kejadian erupsi," pungkas Lana.

Dari Jakarta, Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat di Jakarta, Banten, Lampung, dan kawasan sekitar Selat Sunda tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan.

Pemerintah terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui BNPB, BMKG, TNI, Polri, pemerintah daerah, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan, serta kementerian dan lembaga terkait.

Presiden meminta masyarakat tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dan mematuhi zona bahaya serta batas aman yang telah ditetapkan.

"Saudara-saudara kita yang berada di wilayah Jakarta, Banten, Lampung, dan kawasan sekitar Selat Sunda, untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti seluruh arahan pemerintah dan petugas di lapangan, dan tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dan patuhi sepenuhnya zona bahaya serta batas aman yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang," ujar Presiden Prabowo.

Bagi masyarakat yang terdampak abu, perlindungan dimulai dari hal-hal sederhana: masker atau pelindung pernapasan, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika abu cukup pekat, serta mengikuti petunjuk petugas kesehatan dan pemerintah daerah.

"Jaga kesehatan dengan menggunakan masker atau pelindung pernapasan, mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi abu cukup pekat, serta mengikuti petunjuk dari petugas kesehatan dan pemerintah daerah," katanya. (gin) 


Editor : Inilahkoran