Tanah yang Muncul Sebelum Air Kembali

TANAH yang lama ditelan air kembali terbuka. Di sanalah warga membaca musim, menanam harapan, dan menunggu air datang lagi.

Tanah yang Muncul Sebelum Air Kembali
MENCARI IKAN: Seorang warga menggunakan ban sebagai pelampung saat mencari ikan di Waduk Jatigede, Sumedang.Surutnya Waduk Jatigede membuka kesempatan warga untuk mencari penghidupan.(Foto:ANTARA/ILHAM NUGRAHA)

Pagi baru saja naik ketika Waduk Jatigede memperlihatkan wajah yang jarang terlihat. Matahari awal September menggantung perlahan di atas perairan. 

Cahayanya jatuh ke tepian waduk yang mulai mengering, menyapu tanah basah, retakan-retakan, dan rerumputan yang tumbuh di antara lumpur.  Di kejauhan, garis air mundur seperti seseorang yang sedang perlahan-lahan meninggalkan rumah. 

Satu per satu masa lalu muncul. Jalan yang bertahun-tahun berada di bawah air kembali terlihat.  Sisa-sisa bangunan rumah yang terdampak pembangunan waduk menampakkan tubuhnya. 

Dinding, tanah, dan bagian-bagian bangunan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan warga muncul kembali dari kedalaman. Seperti kenangan yang tak pernah benar-benar tenggelam.

Tetapi bagi warga yang tinggal di sekitar waduk, air yang surut bukan hanya tentang masa lalu. Ada sesuatu yang lain di balik daratan yang terbuka itu: kesempatan. Di kawasan Cibungur, Kecamatan Darmaraja, tanah bekas genangan mulai disentuh tangan-tangan warga. 

Cangkul menembus permukaan tanah. Benih ditanam. Padi dan mentimun mulai mengisi ruang yang beberapa waktu lalu masih menjadi bagian dari perairan. Warga tahu tanah itu tidak akan menjadi milik musim mereka selamanya. 

Ketika hujan datang, air akan kembali. Karena itu, tanah yang muncul hari ini harus memberi hasil sebelum kembali ditelan waduk. Acim (69) memahami betul batas waktu itu. Dia mengolah sebidang lahan bekas genangan untuk ditanami padi dan mentimun. 

Pada saat yang sama, dia tetap berjualan secara eceran. Bertani dan berdagang berjalan beriringan, seperti dua kaki yang harus terus melangkah agar dapur tetap menyala.

“Lumayan untuk menambah modal dagang. Daripada nganggur, tanahnya sedang surut, saya manfaatkan untuk menanam padi dan mentimun sambil berjualan eceran,” kata Acim seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (6/9). 

Sudah sekitar tiga bulan permukaan Waduk Jatigede menyusut. Kali ini, air mundur cukup jauh, meninggalkan daratan yang lebih luas. Acim tak tahu sampai kapan tanah itu akan terbuka.

Tak ada kepastian berapa lama tanaman bisa tumbuh sebelum air kembali mengambil tempatnya. Yang dia tahu, kesempatan tidak datang dua kali dengan bentuk yang sama. Maka dia menanam. Sebab hidup, seperti waduk, selalu berubah ketinggian.

“Kalau hanya mengandalkan dagang, ya begitu saja. Tapi kalau punya padi atau mentimun sendiri, setidaknya tidak perlu membeli untuk kebutuhan,” ujarnya.

Bagi Acim, tanah itu bukan tanah kosong, tapi jeda sebelum air kembali. Di dalam jeda yang pendek itulah, dia mencoba menanam sedikit harapan.

10 Kg dari Lumpur

Di tepian waduk, orang-orang datang dengan keperluannya masing-masing. Ada yang membawa cangkul. Ada yang membawa jaring. Ada pula yang datang hanya dengan tangan dan wadah untuk mengumpulkan sesuatu yang selama ini hidup di antara air dan lumpur.

Amun Lasim (51) termasuk di antaranya. Dia menyusuri tepian waduk bersama keluarganya. Langkah mereka mengikuti tanah yang terbuka, mencari tutut yang bersembunyi di kawasan dangkal.

“Ini lagi mencari tutut, dibawa ke Sumedang Kota, dibagi-bagi ke masyarakat dan dimasak sendiri, tidak dijual,” kata Amun.

Mencari tutut bukan pekerjaan setiap hari. Biasanya, Amun datang sekitar sekali dalam sepekan. Ada hasil yang ingin dibawa pulang, tetapi ada alasan lain yang tak kalah penting: menghabiskan waktu bersama keluarga.

Hari itu, waduk memberi mereka sekitar 10 kilogram tutut. Sepuluh kilogram dari tepian air yang sedang menjauh. Jumlah yang mungkin sederhana, tetapi cukup untuk membuat perjalanan mereka pulang dengan tangan penuh.

“Saya tidak tiap hari, hanya satu minggu sekali. Sekalian refreshing. Alhamdulillah, surutnya Waduk Jatigede membawa berkah karena bisa dimanfaatkan untuk mencari tutut,” katanya.

Ada sesuatu yang sederhana dalam cara Amun memandang surutnya waduk. Dia tidak melihat air yang berkurang sebagai kehilangan. Dia melihat apa yang ditinggalkan air. Tutut di lumpur. Ikan di perairan. Daratan untuk diinjak. Ruang untuk berkumpul bersama keluarga.

Waduk sedang surut, tetapi kehidupan di sekitarnya justru menemukan banyak alasan untuk bergerak. Di bagian lain, jaring-jaring ditebar ke perairan. Adi Usep (44) menjadi salah seorang warga yang menggantungkan sebagian kebutuhan sehari-hari dari ikan. 

Sekali turun, hasil tangkapan bisa mencapai sekitar 10 hingga 15 kilogram. Pada kondisi tertentu, jumlahnya bahkan dapat menyentuh 30 kilogram untuk satu orang. Namun, ikan tidak pernah berjanji akan datang sebanyak yang diharapkan. 

Hasil tangkapan bergantung pada kondisi perairan dan musim. Seperti rezeki itu sendiri. Kadang datang banyak. Kadang hanya cukup untuk hari ini.

Perahu yang Menunggu Air

Setiap musim meninggalkan pekerjaan yang berbeda. Ketika hujan datang, air meninggi dan warga menyesuaikan diri. Ketika kemarau memanjangkan hari-hari kering, air mundur dan tepian waduk berubah menjadi ruang baru.

Perubahan itu terasa sampai ke sebuah tempat ketika kayu, paku, dan suara palu menjadi penanda kehidupan. Di sanalah Endan (55) bekerja membuat perahu.

Dia tahu perubahan permukaan waduk bukan hanya urusan nelayan. Ketika air surut, warga kembali ramai turun ke perairan. Ada yang memancing. Ada yang memasang jaring. Aktivitas yang kembali hidup itu ikut membawa pekerjaan kepadanya.

“Dulunya memang sepi. Sekarang mulai ramai. Kalau sudah mulai surut, biasanya aktivitas masyarakat juga mulai ramai,” kata Endan.

Perahu-perahu yang dibuatnya kelak akan kembali menyentuh air. Sebuah ironi kecil yang justru menjadi sumber penghidupan: air yang surut membuat perahunya lebih banyak dipesan.

Pada musim hujan, Endan biasanya hanya mampu menghasilkan sekitar empat perahu dalam sebulan. Ketika kemarau datang dan waduk mulai surut, produksinya meningkat menjadi sekitar tujuh perahu. Satu perahu membutuhkan waktu sekitar sepekan untuk diselesaikan.

Dalam setahun, sekitar 50 perahu bisa ia produksi, tergantung permintaan. Harganya beragam. Perahu tertentu dibanderol sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta. Ukuran yang lebih besar dapat mencapai Rp7 juta hingga Rp12 juta.

Tak semua orang datang untuk membeli perahu baru. Sebagian membawa perahu lama yang rusak. Endan memperbaiki, membongkar bagian tertentu, lalu memasangnya kembali agar perahu itu bisa digunakan lebih lama.

Kayu-kayu lama diberi kesempatan kedua, seperti tanah yang kembali muncul dari dasar waduk. Pesanan perahu pun tak hanya datang dari sekitar Jatigede. Ada pembeli dari daerah lain, termasuk Cianjur. Ukurannya dibuat mengikuti kebutuhan pemesan. (gin) 


Editor : Inilahkoran