Jelang Ramadan, Lima Brand Fesyen Berkolaborasi di Friendship Festival

Jelang bulan Ramadan 2022 ini, lima brand fesyen berkolaborasi dalam Friendship Festival yang akan digelar selama tiga hari di Hotel Malaka

Jelang Ramadan, Lima Brand Fesyen Berkolaborasi di Friendship Festival
Jelang bulan Ramadan 2022 ini, lima brand fesyen berkolaborasi dalam Friendship Festival.

 

INILAHKORAN, Bandung - Jelang bulan Ramadan 2022 ini, lima brand fesyen berkolaborasi dalam Friendship Festival.

Pameran dan bazaar Friendship Festival yang diusung oleh lima brand fesyen tersebut digelar selama tiga hari di Hotel Malaka, Kota Bandung, dimulai pada Senin 28 Maret 2022

Kolaborasi lima brand fesyen pada Friendship Festival sendiri digelar seiring seiring pandemi sudah melandai dan vaksinasi terus meluas. Terlebih, sebagai salah satu upaya menyemangati pelaku industri busana terus tumbuh di masa pandemi.

Baca Juga: Spoiler Forecasting Love And Weather Episode 15: Hubungan Lee Shi Woo dan Ayahnya Membaik Berkat Jin Ha Kyung

Adapun lima brand fesyen yang terlibat adalah Deenay milik Trini Midiati Yuniar; Maima, milik Irma Sari Yudawinata dan Winda Mariska Aurora;  Jenna&Kaia milik Lira Krisnalisa.

Lalu, Monel milik Dessy Mayasari, Irma Mariam, Minna Mekkarina, R. Lina Rooslina, Tintin Sutiarsih dan Nadjani, Nadya Rizki Amatullah.

Trini Midiati Yuniar mengatakan Friendship Festival ini melanjutkan kegiatan yang sudah dilaksanakan pada tahun-tahun lalu sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Di mana acara ini terselenggara hasil dari diskusi dengan para pemilik brand. 

Baca Juga: Super Esport Series Season 2 Bergulir, Penyelenggara Tambah Satu Cabang dengan Hadiah Hampir Rp 1 Miliar

"Awal pandemi kami bikin bazaar kecil-kecilan, responnya baik. Dari bazaar itu kami sepakat melakukan event to the next level dan berkesinambungan makanya ada Friendship Festival," kata dia.

Ke depan, pihaknya ingin mensupport brand lain, sehingga owner bisa bertemu dengan dengan reseller, jastiper, maupun pecinta brand.

Mereka optimistis industri fashion bisa meningkat, terlebih pandemi sudah melandai seiring vaksinasi terus meluas.

"Dua tahun sebelumnya perekonomian menurun dan berpengaruh pada bisnis. Sekarang sudah membaik, bahkan pemerintah menyebut menuju endemi," ucap Irma Sari.

Baca Juga: Pamit Tinggalkan Persikabo 1973, Bobotoh Ucapkan Selamat Datang untuk Ciro Alves

Sementara itu, Irma Mariam menyatakan optimismenya jelang bulan Ramadhan tahun ini. Terlebih, pada penyelenggaraan event sebelumnya, transaksi melebihi ekspektasi.

"Harapannya ada peningkatan. Dua minggu sebelum lebaran peningkatannya mudah-mudahan 30 persen sampai 300 persen," kata dia.

Sementara itu, Funding and Transactional Business Deputi Regional 6 Bandung, Bank Syariah Indonesia (BSI) Silvia Permatasari,  menyatakan industri halal lifestyle berperan mendukung perkembangan perkonomian.

Baca Juga: 99 Seniman Alumni IKIP Ramaikan Pameran Bandung Lautan Art Dipamerkan di GPK

Data kementerian perdagangan, Industri fashion muslim pangsa pasar 11 miliar USD. Dari jumlah itu, Indonesia berperan di angka 500 juta USD.

Berdasarkan data Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (Ikatsi) potensi belanja produk fesyen di kalangan konsumen muslim mencapai 368 miliar dolar AS pada 2021 jika mengacu pada State of Global Islamic Economy. Namun karena pandemik, hingga Agustus 2021 angkanya baru mencapai 2,91 miliar dolar AS atau 0,81 persen.

Meski demikian dengan angka ini Indonesia sudah berada dalam tiga besar di dunia dalam industri fesyen muslim, setelah Uni Emirat Arab dan Turki. Guna meningkatkan angka ekonomi di sektor ini, BSI pun akan terus mendukung pelaku usaha dalam mengembangkan fesyen muslim.

Baca Juga: Spoiler Forecasting Love and Weather Episode 15: Hubungan Jin Ha Kyung dan Lee Shi Woo Dapat Restu?

"Peluangnya masih besar untuk bisa menjadi trend setter dan kiblat muslim di dunia. Potensi ini diproyeksikan bertumbuh dan ber kembang di tahun 2022. BSI bersinergi dengan brand lokal untuk meningkatkan ekosistem halal melalui transaksi," ucap dia.

Untuk meningkatkan sisi penjualan dan konsumsi prodyuk fesyen, BSI memberikan dukungan pada pelaku UMKM  dalam bentuk promosi maupun pembiayaan.

"Pemilik produk busana muslim bisa dikategorikan target segmen, karena ada yang masih dalam kategori UMKM dan bisa dapat 500 juta maksimal program KUR (kredit usaha rakyat). Ini bisa masuk dalam bantuan modal kerja," ungkap Silvia. (Riantonurdiansyah)


Editor : inilahkoran