Jelang Ramadan, Menag Nasaruddin Tekankan Empati dan Kedalaman Iman

Menteri Agama Nasaruddin Umar, berpesan agar umat Islam menyambut Ramadan dengan kesiapan rohani yang matang.

Jelang Ramadan, Menag Nasaruddin Tekankan Empati dan Kedalaman Iman
Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan dan kedalaman iman kepada umat Islam menjelang Bulan Suci Ramadan. (Foto: Dok Kemenag)

INILAHKORAN.ID - Ramadan tinggal hitungan hari. Kehadirannya menandakan mulainya kewajiban ibadah puasa dan kegiatan keagamaan massal lainnya. 

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar berpesan agar umat Islam menyambut Ramadan dengan kesiapan rohani yang matang.

Selama Ramadan, kata Nasaruddin, umat Islam diimbau lebih memfokuskan tujuan ibadah hanya kepada Allah SWT, bukan sekadar mengejar fenomena-fenomena spiritual semata.

Penguatan Aspek Spiritual

Menjelang Ramadan, Nasaruddin Umar menekankan peran penting penguatan aspek spiritual yang dibarengi dengan empati dan solidaritas sosial. 

Nasaruddin menjelaskan, Isra Mikraj yang diperingati sebelum Ramadan merupakan "prolog" atau persiapan mental bagi umat Islam. 

Menurutnya, ibadah di bulan Ramadan tidak boleh hanya berhenti pada ritual formal, melainkan harus menyentuh kedalaman batin dan kepedulian terhadap sesama.

"Menjelang mulai syukur Ramadan, Bapak-Ibu sekalian, ada prolog yang Allah berikan kepada kita semuanya sebagai shock therapy untuk menghadapi Ramadan, yaitu Isra' Mi'raj," ujar Nasaruddin, seperti dikutip dari laman resmi Kemenag, Rabu (11/2/2026). 

Jangan Hanya Mengejar Pahala Personal 

Menurut Nasaruddin, Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali "kesucian" dalam berinteraksi dengan sesama manusia dan alam semesta. 

Dia mengajak umat untuk mengalihkan fokus dari sekadar mengejar pahala personal menuju pencarian rida Allah melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi orang lain.

"Kita jangan mengejar Lailatul Qadr. Mana lebih penting kita mencari Lailatul Qadr atau mencari yang menurunkan Lailatul Qadr? Lailatul Qadr itu makhluk, surga itu makhluk. Yang kita butuhkan adalah siapa yang menurunkan Lailatul Qadr, Allah SWT," tegas Menag.

Dia menambahkan, semangat solidaritas sosial lahir dari rasa cinta yang tulus kepada Sang Pencipta. Mengutip filosofi Rabi’ah Adawiyah, Nasaruddin menekankan, ibadah yang didasari cinta (mahabbah) akan melahirkan rasa kasih sayang yang tulus kepada sesama tanpa sekat.

"Saya menyembah Tuhan karena I love you my God. Saya mencintaimu. Jadi kalau mahabbah yang berbicara, kecil itu surga, kecil itu neraka. Kita harus yakin betul bahwa Tuhan itu Maha Pengasih, Maha Penyayang," tambahnya.

Keberagaman Pendapat adalah Rahmat

Lebih lanjut Nasaruddin mengingatkan, keberagaman dan perbedaan pendapat di tengah masyarakat harus disikapi sebagai rahmat untuk memperkuat persaudaraan, sebagaimana tradisi yang diajarkan para sahabat Nabi. 

Strategi komunikasi Kementerian Agama dalam menyambut Ramadan tahun ini memang diarahkan untuk membangun narasi Islam yang damai, toleran, dan solutif terhadap problematika sosial.

"Perbedaan pendapat di antara umat itu adalah rahmat. Kita kadang-kadang mendebat orang tidak ada cinta. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, karena dengan menyandarkan segala sesuatu kepada Allah, maka beban seberat apa pun akan menjadi ringan," ujar Nasaruddin. **


Editor : Gin gin T Ginulur