Kasus Dugaan Keracunan di Sidoarjo, 173 Santri Telah Diperbolehkan Pulang
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memprioritaskan penanganan korban dugaan keracunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Manba'ul Hikam, Sidoarjo.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Pemerintah Provinsi Jawa Timur memprioritaskan penanganan korban dugaan keracunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Manba'ul Hikam, Sidoarjo.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, seluruh pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit telah mendapatkan penanganan medis sesuai dengan kondisi masing-masing.
Hal itu disampaikan Emil setelah mengunjungi para korban di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Notopuro Sidoarjo pada Rabu dini hari.
"Seluruh pasien tidak ditangani secara seragam, tetapi mendapatkan penanganan khusus sesuai kondisi medis masing-masing pasien," kata Emil.
Hingga Rabu (2/9) pukul 00.30 WIB, sejumlah pasien telah diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka dinyatakan membaik oleh tim medis.
Sementara itu, rumah sakit tetap bersiaga untuk memberikan penanganan terhadap pasien yang masih membutuhkan perawatan.
424 Santri Diduga Jadi Korban
Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, menyebut jumlah korban dugaan keracunan dari Ponpes Manba'ul Hikam mencapai 424 santri hingga Rabu (2/9) pukul 00.45 WIB.
Selain dari lingkungan pesantren, terdapat 24 orang lainnya yang juga menjadi korban dugaan kejadian serupa dari luar ponpes.
Dari total korban tersebut, sebanyak 173 santri telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis.
Pemerintah daerah masih melakukan pemantauan terhadap pasien yang menjalani perawatan sekaligus memastikan seluruh korban mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya.
Kejadian Serupa Terjadi di Sejumlah Lokasi
Emil mengungkapkan, dugaan kejadian serupa pada hari yang sama juga terjadi di sejumlah lokasi lain.
Menurutnya, selain pesantren, terdapat sejumlah satuan pendidikan yang mengalami kejadian serupa. Kesamaan dari kejadian tersebut adalah para penerima manfaat mendapatkan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, pada Selasa (1/9).
"Selain pesantren, terdapat sejumlah satuan pendidikan lain yang mengalami kejadian serupa dan seluruhnya memiliki kesamaan yakni menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, pada Selasa (1/9)," ujar Emil.
Sebagai langkah penanganan, pemerintah menghentikan sementara operasional SPPG Kali Tengah.
Penghentian tersebut dilakukan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi lebih lanjut untuk mengetahui penyebab kejadian.
Pemprov Jatim Pastikan Biaya Perawatan Ditanggung
Emil mengatakan pemerintah daerah juga akan melakukan pemantauan terhadap seluruh satuan pendidikan penerima manfaat.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada siswa maupun santri yang mengalami gejala tetapi belum mendapatkan penanganan medis.
"Pemerintah daerah juga akan melakukan pemantauan terhadap seluruh satuan pendidikan penerima manfaat, untuk memastikan tidak ada siswa atau santri yang mengalami gejala tetapi belum mendapatkan penanganan medis," kata Emil.
Ia juga memastikan seluruh biaya penanganan medis korban ditanggung pemerintah daerah.
Penanganan tersebut berlaku bagi korban yang menjalani perawatan di rumah sakit milik pemerintah maupun rumah sakit swasta.
Emil menegaskan, pemerintah akan terus memantau perkembangan kondisi seluruh korban sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan tersebut.***
Editor : JakaPermana

