Kekalahan Telak dari Korea Utara Jadi Cermin Kelemahan Timnas U-17, Pengamat Sepak Bola: Ini Saatnya Pembenahan Serius Jelang Piala Dunia 2025

Kekalahan menyakitkan yang dialami Timnas Indonesia U-17 saat menghadapi Korea Utara di babak perempat final Piala Asia U-17 2025 menjadi tamparan keras sekaligus pengingat penting bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum berlaga di pentas dunia.

Kekalahan Telak dari Korea Utara Jadi Cermin Kelemahan Timnas U-17, Pengamat Sepak Bola: Ini Saatnya Pembenahan Serius Jelang Piala Dunia 2025
Kekalahan Telak dari Korea Utara Jadi Cermin Kelemahan Timnas U-17, Pengamat Sepak Bola: Ini Saatnya Pembenahan Serius Jelang Piala Dunia 2025

INILAHKORAN, Bandung – Kekalahan menyakitkan yang dialami Timnas Indonesia U-17 saat menghadapi Korea Utara di babak perempat final Piala Asia U-17 2025 menjadi tamparan keras sekaligus pengingat penting bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum berlaga di pentas dunia.

Laga yang digelar di Stadion Kota Olahraga King Abdullah pada Senin (8/4) itu berakhir dengan skor mengejutkan: 6-0 untuk kemenangan Korea Utara. Hasil ini sangat bertolak belakang dengan performa Garuda Muda selama babak penyisihan, di mana mereka tampil perkasa sebagai juara grup tanpa kekalahan.

Pengamat Sepak Bola nasional, Mohamad Kusnaeni, menilai kekalahan tersebut membuka mata banyak pihak terkait kondisi riil tim asuhan Nova Arianto.

"Kekalahan dari Korea Utara menyadarkan kita bahwa Timnas U-17 masih banyak kekurangan," ujar Kusnaeni dikutip dari ANTARA.

Menurut Kusnaeni, meski timnas U-17 menunjukkan performa impresif di fase kualifikasi dan penyisihan, kenyataannya mereka belum siap menghadapi tim-tim kuat dengan karakter permainan agresif dan disiplin tinggi seperti Korea Utara.

"Korea Utara sudah menunjukkan kepada kita level permainan seperti apa yang akan dihadapi di Piala Dunia U-17 2025 nanti. Terlihat bahwa timnas U-17 kita masih kesulitan saat menghadapi tipe lawan yang mengandalkan kekuatan, stamina, dan kecepatan seperti Korea Utara," jelasnya.

Tak hanya dari segi fisik dan taktik, Kusnaeni juga menyoroti sisi mental pemain muda Indonesia yang dinilai masih belum stabil saat menghadapi tekanan tinggi.

"Pemain timnas U-17 juga terlihat masih mudah panik saat ditekan lawan. Mereka jadi mudah kehilangan bola, salah umpan, atau bahkan membuat kesalahan yang fatal," tambahnya.

Meski begitu, kekalahan telak ini tidak seharusnya menjadi akhir dari harapan. Sebaliknya, Kusnaeni mendorong agar kekalahan ini dijadikan sebagai momen evaluasi dan titik balik menuju peningkatan yang nyata.

"Kita masih punya waktu tujuh bulan untuk belajar dari kekalahan lawan Korea Utara ini. Jadikan kekalahan ini sebagai titik awal pembenahan tim secara serius agar di Piala Dunia U-17 nanti kita mampu bersaing, bukan sekadar ikut serta," tutup Kusnaeni.***


Editor : Yosep Saepul Ramadan