Keluarga Korban Ponpes Al Khoziny Desak Usut Tuntas: Proses Hukum Tanpa Pandang Bulu!
Salah satu keluarga korban, Fauzi, warga asal Madura yang kini tinggal di Depok, Jawa Barat, menyampaikan kesedihan mendalam atas musibah yang merenggut nyawa empat keponakannya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Di tengah proses identifikasi jenazah korban ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, keluarga korban meminta agar aparat penegak hukum tetap menelusuri dugaan kelalaian dalam tragedi tersebut.
Salah satu keluarga korban, Fauzi, warga asal Madura yang kini tinggal di Depok, Jawa Barat, menyampaikan kesedihan mendalam atas musibah yang merenggut nyawa empat keponakannya.
“Untuk keluarga saat ini sangat terpukul sekali. Kami benar-benar kehilangan anak-anak kami,” ujarnya.
Fauzi mengatakan, anak kandungnya, Toharul Maulidi (16) yang duduk di bangku kelas 3 SMP, berhasil selamat dari insiden tersebut. Namun, empat keponakannya yakni Albi, Ubaidillah, Haikal Ridwan, dan Muzaki Yusuf yang menjadi korban meninggal dunia.
Fauzi juga mempertanyakan aktivitas pembangunan di lantai atas bangunan sebelum tragedi terjadi. Menurutnya, informasi yang diterima menyebutkan ada kegiatan pengecoran di lantai atas, sementara di bawahnya para santri tengah melaksanakan salat.
“Pada saat itu ada aktivitas ngecor di atas, dan di bawah ada santri yang salat. SOP-nya dari mana? Kalau memang ada pelanggaran atau kelalaian manusia, ya harus diproses hukum. Siapa pun itu, tanpa pandang bulu,” tegasnya.
Ia menambahkan, meski keluarga belum menempuh langkah hukum secara resmi, mereka berharap penyelidikan berjalan paralel dengan proses identifikasi korban.
“Untuk sementara kami masih berembuk dengan keluarga besar. Tapi kami yakin aparat penegak hukum sudah mulai menelusuri dan memeriksa pihak-pihak terkait,” ucapnya.
Fauzi juga mengingatkan agar publik tidak berspekulasi terkait penyebab ambruknya bangunan ponpes tersebut. Ia menegaskan pentingnya menunggu hasil investigasi resmi agar informasi yang beredar tidak menyesatkan.
“Kalau saya bicara, ya harus berdasarkan fakta. Jangan sampai ada bias,” tuturnya.
Sementara itu, pihak Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya melaporkan telah menerima 62 kantong jenazah korban runtuhnya bangunan Ponpes Al Khoziny hingga Selasa siang. Dari jumlah tersebut, 17 korban telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga masing-masing.
Proses identifikasi masih terus dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur bersama Basarnas dan BNPB.
Editor : Firda Rachmawati

