Kemenkominfo Gelar Nobar, Gencarkan Edukasi Perlindungan Anak di Dunia Online
Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, Kemenkominfo gelar nonton bareng (nobar), gencarkan edukasi perlindungan anak di dunia online, pada Sabtu 29 Juni 2024 kemarin.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, Kemenkominfo gelar nonton bareng (nobar), gencarkan edukasi perlindungan anak di Dunia Online, pada Sabtu 29 Juni 2024 kemarin.
Nobar bertajuk perlindungan anak di Dunia Online ini untuk mengingatkan orangtua, betapa pentingnya mereka dalam membimbing anak agar tidak terjebak oleh sisi negatif digitalisasi.
Melalui nobar yang dilaksanakan di sejumlah sekolah secara offline dan daring, diharapkan ribuan peserta dapat meningkatkan literasi mereka terhadap Dunia Online.
Fokus materi terkait etika dan cakap digital, aman serta etika digital, dapat menggenjot literasi digital 50 juta masyarakat Indonesia di 2024. Sesuai target Kemenkominfo 2024 menuju Indonesia #MakinCakapDigital.
Plh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi Herry Herlangga mengatakan, kegiatan ini sejalan dengan yang dilakukan pihaknya dalam optimalisasi program digitalisasi.
Walaupun diakuinya dalam prosesnya tidak mudah, karena transformasi teknologi ke digital masih menjadi hambatan bagi para orangtua.
"Karena anak seringkali hanya mengandalkan google untuk menjawab semua pertanyaan dari ujian sekolah itu sendiri. Akibatnya, anak-anak menjadi malas untuk menjawab ujian sekolah," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu 30 Juni 2024.
Sebab itu lanjut dia, harus ada pendekatan lebih mengenai digitalisasi pada orangtua. Mengingat kemajuan teknologi saat ini sudah tidak dapat dihindari dan harus bisa beradaptasi.
"Jika tidak ada literasi mengenai digitalisasi ini, akan ada banyak sekali hal negatif yang dilakukan oleh anak," ucapnya.
Psikiater Elvin Gunawan menambahkan, dunia digitalisasi dapat memengaruhi mental anak. Sehingga sisi negatif harus dihindari salah satunya insecurity dan adiksi atau kecanduan.
"Keluarga, tidak pernah bisa tergantikan oleh teknologi," imbuhnya.
Sementara Direktur PT Cipta Manusia Indonesia dan Founder Kaizen Montessori Ismita Putri mengungkapkan, parenting zaman sekarang dan dulu dapat dibedakan, antaranya dilarang menerima apapun dari orang asing. Sedangkan di dunia digital, dilarang memberi data pribadi.
Dia melanjutkan, berdasarkan data dari KPAI pada 2023 banyak terjadi kasus kekerasan dan perundungan. Dari kondisi tersebut, orangtua memiliki peran vital selain guru, masyarakat dan pemerintah.
"Jadilah orang tua paket lengkap, yakni sosok suri tauladan, sahabat dan teman. Caranya ialah tidak gaptek, tahu aplikasi yang tepat dan menjadi contoh. Hal terpenting dalam digital parenting ialah komunikasi. Bermainlah dengan aman, belajarlah dengan aman dan tetaplah memonitor aktivitas online anak-anak," paparnya.
Berdasarkan hasil survey, Indeks Literasi Digital Nasional pada 2022 naik sebesar 0,05 poin menjadi 3,54 dari capaian indeks di 2021. Ada tiga pilar yang meningkat, yaitu Pilar 1 (Digital Skill) naik sebesar 0,08 poin, Pilar 2 (Digital Ethics) naik sebesar 0,15 poin dan Pilar 3 (Digital Safety) naik 0,02 poin. Namun Pilar 4 (Digital Culture) menurun sebesar 0,06 poin.
Pola pada pilar ini tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya. Secara umum, urutan pada tiap indikator memiliki urutan yang sama walaupun terdapat kecenderungan penurunan pada tiap indikator pada indikator teratas.
Seperti penyesuaian cara berkomunikasi agar kedua pihak tidak tersinggung mengalami penurunan dari 3,82 pada 2021 menjadi 3,81 di 2022. Sedangkan indikator dengan nilai indeks terendah cenderung mengalami kenaikan. Seperti keterbiasaan mencari tahu apakah informasi yang ditemukan di website benar atau salah naik dari 3,05 pada 2021 menjadi 3,25 di 2022.
Walaupun secara umum terdapat kenaikan indikator, namun pengetahuan responden mengenai perangkat keras dan lunak mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Pengetahuan perangkat keras mengalami sedikit penurunan dari 49 persen menjawab benar, menjadi 42 persen. Begitu juga pengetahuan tentang perangkat lunak yang mengalami penurunan dari 48 persen menjawab benar, menjadi 45 persen.
Kegiatan Literasi Digital Sektor Pendidikan merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital, yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) untuk memberikan literasi digital kepada 50 juta orang masyarakat Indonesia hingga 2024.***
Editor : JakaPermana

