Kementerian HAM Turun Tangan, Kawal Kasus Dugaan Pelecehan oleh Dokter Kandungan di Garut
Menteri HAM Natalius Pigai menyatakan telah menginstruksikan tim dari kantor wilayah Jawa Barat untuk melakukan pemantauan kasus dokter kandungan di Garut yang lecehkan pasien.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) mulai turun tangan menangani kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang dokter spesialis kandungan di Garut, Jawa Barat.
Menteri HAM Natalius Pigai menyatakan telah menginstruksikan tim dari kantor wilayah Jawa Barat untuk melakukan pemantauan langsung ke lapangan.
Pernyataan tersebut disampaikan Pigai usai menerima informasi dari jurnalis mengenai kasus yang saat ini sedang menjadi sorotan publik. “Ini informasi yang penting buat saya. Saya langsung minta staf di Bandung untuk segera turun ke Garut,” kata Pigai saat ditemui di Gedung Kementerian HAM Jakarta.
Pigai menegaskan bahwa Kementerian HAM berkomitmen untuk memastikan bahwa seluruh proses hukum berjalan dengan adil serta menjamin perlindungan terhadap korban.
Ia juga menyinggung peran Kantor Wilayah Kementerian HAM di Bandung yang sebelumnya telah aktif menangani kasus serupa, termasuk kasus pemerkosaan oleh peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Padjadjaran di RS Hasan Sadikin.
“Saat itu juga tim kami langsung ke rumah sakit, bertemu korban dan juga pelaku,” ungkapnya.
Sementara itu, perkembangan terbaru dari aparat kepolisian menunjukkan bahwa dokter yang diduga melakukan pelecehan seksual di Garut telah diamankan. "Sudah diamankan dan saat ini ditangani oleh Polres Garut," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat, Kombes Pol Surawan.
Kasus ini mencuat ke publik setelah beredarnya rekaman CCTV di media sosial dan aplikasi percakapan. Video tersebut memperlihatkan proses pemeriksaan USG oleh seorang dokter terhadap pasien perempuan. Meski tidak secara eksplisit menunjukkan tindakan pelecehan, gerakan tangan sang dokter yang terekam kamera memunculkan dugaan karena mendekati area sensitif pasien.
Kasus ini mendapat perhatian luas dari masyarakat, memunculkan desakan agar sistem pengawasan etika profesi kedokteran diperkuat dan perlindungan terhadap pasien lebih ditingkatkan.
Editor : Firda Rachmawati
