Kementerian Kelautan dan Perikanan akan Lakukan Pemulihan Ekosistem Laut Bersama WEF 2026
Menteri Kelautan dan Perikanan hadiri acara Velocity of the Blue Economy dengan tujuan pemulihan ekosistem laut bersama WEF 2026.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyerukan upaya bersama untuk memulihkan ekosistem laut.
Hal ini dilakuman agar ekosistem laut terjaga setelah terkena dampak dari perubahan iklim, pencemaran, hingga aktivitas penangkapan ilegal yang mengancam populasi perikanan saat ini.
Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan semua hal tersebut di Davos, Swiss, dalam acara Velocity of the Blue Economy, yang menjadi bagian dari World Economic Forum (WEF).
“Lautan kita menghadapi ancaman serius, pemanasan laut, meningkatnya keasaman, menurunnya stok ikan, dan pencemaran laut," kata sang Menteri.
Menteri Trenggono melanjutkan, "lautan kita memanggil kita semua untuk bertindak bersama menyelamatkan, dan mengelolanya dengan tanggung jawab."
Dengan program-program Ekonomi Biru yang selama ini diusung, Indonesia siap memimpin upaya bersama melindungi ekosistem laut dari kerusakan yang semakin masif.
Laut selama ini menjadi bagian dari sejarah, identitas, dan masa depan Indonesia yang dikenal dengan negara kepulauan.
Menteri Trenggono menuturkan, perlu tindakan cepat dan kolaboratif antara pemerintah, pelaku bisnis, hingga masyarakat.
Upaya yang sudah dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di antaranya secara terus menerus memperluas kawasan konservasi laut yang saat ini sudah lebih dari 30 juta hektare menuju 97,5 juta hektare di tahun 2045.
Sistem penangkapan ikan juga akan diatur melalui sistem kuota untuk meminimalisir penangkapan secara berlebih dan illegal fishing.
Budidaya perikanan juga terus dikembangkan secara inovatif, berkelanjutan dan inklusif sehingga memberi kesejahteraan bagi masyarakat dan menjaga ketahanan pangan.
Tak hanya itu, kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil juga dilindungi dari aktivitas ekonomi yang dapat mendegradasi kualitas ekosistem di sekitarnya.
Ini termasuk dalam persoalan sampah laut, pemerintah Indonesia juga terus melakukan berbagai upaya dengan mengintegrasikan aksi-aksi penanganan di darat dan laut.
“Indonesia memiliki salah satu cadangan karbon biru terbesar di dunia, menyimpan sekitar 17 persen karbon biru global," katanya.
"Ekosistem pesisir ini adalah penyerap karbon yang sangat penting, dan berperan mengatur iklim global serta menjaga kesehatan laut,” ujarnya.
“Apa yang tengah kami siapkan di Uni Eropa adalah Strategi Uni Eropa untuk Pelabuhan dan Sektor Maritim, yang akan menjawab seluruh tantangan saat ini, termasuk juga pengembangan ekonomi biru,” terangnya.
Menteri Trenggono juga mengumumkan Indonesia akan menjadi tuan rumah Ocean Impact Summit 2026 yang akan berlangsung Juni 2026 di Bali.
Pertemuan global itu mempertemukan para pemimpin dunia, pelaku bisnis, dan para ahli guna menghasilkan aksi nyata untuk tata kelola laut berkelanjutan.
Velocity of the Blue Economy sendiri dihadiri oleh perwakilan negara dan organisasi global yang menjadi peserta WEF 2026.
Isu kelautan menjadi salah satu fokus utama dalam WEF 2026 yang dibuktikan peluncuran inisiatif Blue Davos dan penetapan 2026 sebagai Year of Water sebagai upaya terintegrasi tata kelola laut dan perairan tawar untuk menjaga stabilitas ekonomi, ketahanan iklim dan pangan.***
Editor : Irma Nurfajri

