Melirik Ekosistem Pengelolaan Sampah yang Dikembangkan Warga di Sukamiskin
Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan membangun ekosistem pengolahan sampah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan membangun ekosistem pengolahan dari tingkat rumah tangga hingga kelurahan.
Berbagai metode telah berjalan, mulai dari pemilahan sampah di rumah, pengolahan sampah organik menggunakan maggot dan komposter, hingga pengolahan sampah nonorganik menjadi bahan bakar alternatif berupa briket.
Lurah Sukamiskin Sofian Ismail mengatakan, pengelolaan sampah di wilayahnya dilakukan secara bertahap dengan melibatkan masyarakat, RT, RW, serta berbagai unsur lembaga kemasyarakatan.
Salah satu pengolahan yang sudah berjalan adalah budidaya maggot untuk mengurai sampah organik. Saat ini, pengolahan tersebut memiliki kapasitas sekitar 400 hingga 500 kilogram sampah per hari, meski ke depan ditargetkan dapat mencapai satu ton per hari.
"Maggot kapasitasnya sekitar 400 sampai 500 kilogram sehari. Targetnya satu ton, tetapi karena maggot merupakan makhluk hidup, tentu dipengaruhi suhu dan faktor lainnya," ujar Sofian dalam keterangan resmi yang diterima INILAHKORAN.ID, Selasa (18/8/2026).
Selain pengolahan di tingkat kelurahan, Sukamiskin juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui program pemilahan sampah dari sumbernya.
Menurut Sofian, sekitar 500 rumah tangga telah mendapatkan sosialisasi dan edukasi mengenai pemilahan sampah menjadi organik, nonorganik, dan residu. Dari jumlah tersebut, sekitar separuhnya atau kurang lebih 250 rumah tangga mulai melakukan pemilahan dan pengolahan secara mandiri.
"Jadi kita sudah melakukan sosialisasi dan edukasi untuk pemilahan sampah organik, nonorganik dan residu. Sekitar 500 rumah tangga sudah mendapatkan sosialisasi, dan sekitar 250 rumah tangga sudah mulai memilah dan mengolah," katanya.
Upaya tersebut diperkuat dengan penyediaan sarana pengolahan di setiap RW. Dari total 17 RW, masing-masing minimal memiliki dua unit tempat pengolahan berbasis komposter, sementara sejumlah RW memiliki hingga lima unit.
Selain itu, Kelurahan Sukamiskin mengembangkan pengolahan sampah lainnya melalui peyeumisasi sampah. Fasilitas tersebut saat ini didukung enam unit mesin yang digunakan untuk mengolah sampah nonorganik menjadi briket.
Prosesnya dimulai dengan memasukkan sampah nonorganik ke dalam wadah pengolahan. sampah kemudian ditumpuk secara bertahap dengan ketebalan sekitar 20 sentimeter dan diberikan bioaktivator. Proses tersebut dilakukan berulang hingga tumpukan mencapai sekitar 1,2 meter.
Setelah dikeringkan selama sedikitnya tujuh hari, sampah kemudian digiling menggunakan mesin. Terdapat tahapan penggilingan kasar, penggilingan halus, hingga pencampuran bahan perekat berupa kanji sebelum dicetak menjadi briket.
Kelurahan Sukamiskin juga disiapkan sebagai laboratorium pengelolaan sampah, tempat komunitas, RT, RW, lembaga swadaya masyarakat, maupun daerah lain yang ingin melakukan studi tiru dapat melihat langsung proses pengelolaan sampah.
Pengembangan pengolahan briket juga direncanakan diperluas hingga tingkat RW. RW 13, kata Sofian, telah menyatakan kesiapan untuk menjadi lokasi produksi. Lahan sekitar 200 meter persegi telah disiapkan, dengan pembagian untuk mesin produksi, penjemuran, dan penyimpanan.
Rencananya, briket hasil produksi akan dikumpulkan dan diangkut untuk kemudian dimanfaatkan berbagai sektor industri seperti pabrik semen, pabrik genteng di Majalengka, maupun industri tekstil.
Selain pengolahan di tingkat kelurahan, Sukamiskin juga mengembangkan kerja sama dengan Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui teknologi plasma dingin untuk mengolah sampah nonorganik.
Fasilitas tersebut sebelumnya mampu mengolah sekitar 1,5 ton sampah nonorganik per hari dalam tahap awal pengoperasiannya. Namun, saat ini mesin sedang mengalami kendala dan masih menunggu komponen pengganti yang harus didatangkan dari luar negeri.
Sofian berharap, fasilitas tersebut dapat kembali beroperasi dalam waktu dekat sehingga kapasitas pengolahan sampah Sukamiskin semakin besar.
Jika seluruh fasilitas pengolahan berjalan, Sukamiskin bahkan berpotensi menerima sampah dari wilayah lain karena kapasitas pengolahannya diproyeksikan melampaui timbulan sampah yang dihasilkan masyarakat setempat.
Menariknya, pengelolaan sampah di Sukamiskin tidak berhenti pada pengurangan volume sampah. sampah organik yang diolah melalui maggot juga menghasilkan kasgot atau bekas media maggot yang dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman.
Hasilnya digunakan untuk mendukung kebun pangan di lingkungan kelurahan. Berbagai tanaman seperti bayam, pakcoy, kangkung, hingga ubi ungu dibudidayakan dan dipanen secara berkala.
ekosistem tersebut juga terintegrasi dengan peternakan ayam petelur. Saat ini, ayam menghasilkan sekitar 60 hingga 90 butir telur per hari.
Telur tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat, khususnya ibu hamil, balita, serta warga yang mengalami berat badan kurang.
"Telur yang dihasilkan sekitar 60 sampai 90 butir sehari. Itu dibagikan untuk ibu hamil dan balita, terutama yang kurus atau berat badannya kurang," tutur Sofian.
Sofian mengungkapkan, luas lahan yang tersedia menjadi salah satu keunggulan Kelurahan Sukamiskin dalam mengembangkan ekosistem tersebut. Dari sekitar 3.000 meter persegi lahan yang tersedia, bangunan yang digunakan baru sekitar 800 meter persegi sehingga masih terdapat area yang cukup luas untuk pengembangan.
"ekosistem ini menjadi kebanggaan Sukamiskin. Alhamdulillah, kita memiliki lahan yang cukup luas sehingga masih bisa dikembangkan," katanya.
Ke depan, Sofian berharap seluruh fasilitas pengolahan dapat beroperasi secara optimal. Dengan dukungan pemerintah provinsi dan berbagai pihak, fasilitas pengolahan baru diharapkan mulai berjalan pada akhir tahun ini atau paling lambat awal 2027.
Editor : Doni Ramdhani

