Kemunculan Kukang Jawa Hebohkan Warga Cigantang

Kemunculan Kukang Jawa Hebohkan Warga Cigantang
HEBOH: Seekor kukang Jawa yang masuk ke permukiman warga di Kecamatan Mangkubumi, bakal diserahkan kepada petugas konservasi.(Foto: INILAH/N NUROHMAN)

INILAH, Tasikmalaya- Kemunculan seekor kukang Jawa (Nycticebus Javanicus) mengejutkan warga Kampung Cigantang Girang, Kelurahan Cigantang, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.

Primata yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan malu-malu itu muncul di halaman rumah Ny Etih pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 19.00 WIB.

Saat itu, Etih bersama saudaranya tengah berbincang di teras rumah. Tiba-tiba, seorang warga bernama Didin berteriak sambil menunjuk ke arah seekor hewan yang tengah merayap di pohon alpukat di halaman rumah.

Etih mengaku terkejut sekaligus takut karena baru pertama kali melihat kukang secara langsung.

Warga kemudian berupaya mengamankan satwa tersebut agar tidak melarikan diri maupun mengalami cedera.

Setelah beberapa kali mencoba, kukang akhirnya berhasil ditangkap menggunakan sarung.

“Setelah berusaha keras, hewan itu bisa ditangkap dengan menggunakan sarung,” ujar Etih, Minggu (13/9).

Untuk sementara, kukang tersebut dirawat oleh salah seorang warga bernama Iding sebelum diserahkan kepada petugas konservasi.

Putri Etih, Lina, kemudian mengetahui bahwa kukang Jawa merupakan satwa yang dilindungi. Ia pun berinisiatif mencari informasi lebih lanjut dan menghubungi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.

“Saya baca jenis hewan itu dilindungi sehingga saya inisiatif menghubungi BKSDA dan rencananya besok akan dibawa petugas,” ujar Lina.

Kemunculan kukang di lingkungan permukiman tersebut menjadi perhatian sekaligus pengingat bagi masyarakat untuk tidak sembarangan menangkap, memelihara, menjual, maupun menyakiti satwa liar yang ditemukan di sekitar tempat tinggal.

Kukang Jawa merupakan satwa endemik Pulau Jawa yang menghadapi berbagai ancaman di alam. Karena itu, penanganan satwa liar yang masuk ke permukiman perlu dilakukan secara hati-hati dan, jika memungkinkan, dikoordinasikan dengan petugas konservasi.

(nunung nurohman)


Editor : Inilahkoran