Kenaikan BBM Non Subsidi Tekan DLH Kota Bandung, Anggaran Sampah Tak Lagi Cukup
Kenaikan harga bahan bakar minyak non subsidi jenis Dexlite, mulai menekan anggaran operasional pengangkutan sampah di Kota Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kenaikan harga bahan bakar minyak non subsidi jenis Dexlite, mulai menekan anggaran operasional pengangkutan sampah di Kota Bandung. Daya tahan anggaran yang sebelumnya cukup untuk satu tahun, kini diperkirakan hanya mampu bertahan hingga sembilan bulan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto menyampaikan, lonjakan harga Dexlite berdampak langsung pada perencanaan anggaran BBM armada persampahan. Kenaikan terjadi bertahap dari Rp14.200 menjadi Rp23.600, hingga kini mencapai Rp26.000 per liter.
“Kalau harga Dexlite sebelum ada kenaikan yaitu Rp14.200, semua itu akan cukup di 12 bulan. Yang kenaikan awal itu hanya cukup 10 bulan. Nah, dengan kenaikan yang kedua, kemungkinannya cukup sampai dengan 9 bulan,” kata Darto, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, armada pengangkut sampah memang tidak menggunakan BBM subsidi sehingga sepenuhnya bergantung pada harga pasar. Kondisi global yang mendorong kenaikan harga energi, disebut menjadi faktor utama tekanan tersebut.
“Angkutan persampahan tidak menggunakan BBM bersubsidi. Jadi kita menggunakan BBM non subsidi, Dexlite. Tentu ada kontraksi dengan adanya situasi global seperti ini, itu sangat berdampak,” ucapnya.
Meski begitu, Darto memastikan kondisi tersebut tidak akan mengganggu layanan pengangkutan sampah kepada masyarakat. Dampak yang terjadi hanya pada sisi pembiayaan, bukan operasional di lapangan. “Berdampak terhadap pembiayaan, tapi pengangkutan tidak boleh kena dampak. Harus normal,” ujar dia.
Menutup kekurangan akibat kenaikan harga BBM, DLH Kota Bandung akan mengandalkan skema perubahan anggaran melalui APBD Perubahan yang biasanya dilakukan pada Agustus hingga September. “Masih ada nanti momen APBD perubahan. Itu yang kita antisipasi untuk menutup kekurangan,” ucapnya.
Selain itu, pihaknya juga memiliki strategi cadangan BBM memastikan operasional tetap berjalan di awal tahun saat anggaran baru belum sepenuhnya bisa digunakan. “Kita biasanya memiliki cadangan sampai dengan Januari. Jadi dari Desember ke Januari itu tidak ada gangguan, meskipun anggaran belum berjalan normal,” ujar dia.
Dia menambahkan, penggunaan sistem kartu berbasis RFID dari Pertamina turut membantu menjaga stabilitas distribusi BBM bagi armada persampahan. “Sistem RFID itu membantu kita, jadi penggunaan BBM tetap terkontrol dan aman di masa transisi anggaran,” jelasnya.
Secara keseluruhan, beban anggaran operasional pengangkutan sampah di Kota Bandung disebut Darto mencapai puluhan miliar rupiah per tahun dengan total pengeluaran sekitar Rp90 miliar. "Meski tekanan anggaran kian terasa, kami memastikan pelayanan kebersihan kota tetap menjadi prioritas utama dan tidak akan dikorbankan akibat kenaikan harga BBM," tandas dia.***
Editor : JakaPermana

