INILAH, Purwakarta - Pemkab Purwakarta, selama ini menerapkan beberapa terobosan unik di sektor pendidikan. Tak heran, jika saat ini pendidikan di wilayah tersebut cenderung terlihat lebih berkarakter.
Sejak beberapa tahun terakhir, banyak program yang diterapkan dan mungkin tak pernah ada di daerah lain. Bahkan, terobosan ini terkadang terlihat nyeleneh namun brilian. Sebut saja salah satunya, kebijakan mengganti nama sekolah.
Ya, jika biasanya nama sekolah itu identik dengan nama kabupaten/kota atau wilayahnya. Misalnya, SMPN 1 Jakarta atau SMAN 23 Yogyakarta. Di kabupaten ini, nama sekolah justru bertema tokoh kesundaan.
Awal digulirkannya kebijakan ini, yakni pada jaman Dedi Mulyadi menjadi bupati. Tujuan digulirkannya kebijakan tersebut, tak lain untuk menghilangkan sekat dan anggapan tentang sekolah favorit dan yang tidak.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Purwakarta, Purwanto, beberapa waktu lalu juga menuturkan alasannya. Menurutnya, penggantian nama ini untuk menyetarakan status sekolah itu sendiri.
"Selama ini mindset masyarakat tentangan sekolah itu cenderung salah. Mereka beranggapan, jika anaknya bisa belajar di sekolah tertentu itu hebat dan yang lain tidak hebat," ujar Purwanto, Rabu (20/3/2019).
Untuk itu, sambung Purwanto, pemerintah mencoba mengubah paradigma tersebut. Jangan sampai, masyarakat menganggap jika sekolah dengan angka paling terakhir itu adalah yang paling jelek.
Misalnya, dia mencontohkan, masyarakat menganggap jika di sekolah 1, 2 dan 3 itu merupakan sekolah hebat dan unggulan. Sedangkan, sekolah yang
angkanya lebih besar itu tak hebat dan bukan sekolah unggulan.
"Semua sekolah itu sama, tergantung dari orangnya. Makanya, pemikiran seperti ini yang harus diubah," tegas dia.
Dia berpendapat, jika masih merujuk penamaan sekolah dengan gaya sekarang itu memungkinkan persaingan tak sehat antar sekolah. Makanya, sejak lama pemkab berupaya untuk menghilangkan imej tersebut.
Adapun penggantian nama sekolah yang dilakukan ini, lebih merujuk pada nama tokoh Sunda dan pemimpin terdahulu di Purwakarta dan di Jabar.
Dia menjelaskan, saat ini hampir seluruh sekolah telah berganti nama. Beberapa contoh sekolah yang diganti namanya, di antaranya SMAN 1 Purwakarta menjadi SMAN Sri Baduga Maharaja. SMAN 2 Purwakarta berganti menjadi SMAN Prabu Niskalawastu Kancana.
Kemudian, SMPN 1 Purwakarta menjadi SMPN Kahuripan Padjadajaran dan SMPN 3 Pasawahan menjadi SMPN Maharaja Ragamulya Luhur Prabhawa.
Dia menambahkan, sebelumnya mengganti nama sekolah, pemerintah terlebih dahulu berembuk dengan Tim sejarahwan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung untuk memastikan tokoh kerajaan Sunda ataupun pemimpin di Jabar itu.
"Dulu, kami menggandeng tim dari departemen sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Unpad. Supaya, penggantian nama ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah," kata dia.
Jadi, lanjut dia, pihaknya tidak hanya sebatas mengganti nama sekolah dengan tokoh kesundaan begitu saja. Karena, sebelumnya pun dicari dulu sejarah dan asal usul nama tokoh tersebut yang nantinya disesuaikan dengan kultur sekolahnya.