Ketika Asap Menguji Rumah Adat Warisan Leluhur

KEBAKARAN merenggut rumah-rumah adat Kasepuhan Adat Ciptamulya, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Kini, harapan mulai dibangun kembali.

Ketika Asap Menguji Rumah Adat Warisan Leluhur
TERSISA PUING: Pemandangan di Kasepuhan Cipta Mulya, Sukabumi, Jawa Barat, setelah api menghanguskan 51 rumah dan merembet ke 49 lumbung padi. Kerugian ditaksir senilai Rp2,5 miliar. Kebakaran diduga dipicu korsleting listrik.

Oleh: Yuliantono/Cesar Yudistira

Asap mungkin telah hilang dari langit Ciptamulya. Namun aroma kayu yang hangus masih menggantung di udara, seolah enggan meninggalkan kampung adat yang selama puluhan tahun menjaga warisan leluhur itu.

Akhir pekan lalu, Sabtu (25/7) siang, api datang tanpa permisi. Dalam hitungan jam, rumah-rumah kayu yang berdiri rapat berubah menjadi bara. Atap ijuk yang selama ini menaungi keluarga demi keluarga justru menjadi jalan bagi kobaran untuk menjalar semakin cepat.

Di Kasepuhan Adat Ciptamulya, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, bukan hanya bangunan yang terbakar. Kenangan, lumbung padi, hingga ruang tempat tradisi diwariskan ikut dilalap api.

Sedikitnya 70 rumah terdampak. Sekitar 420 jiwa kehilangan tempat berteduh. Salah satu bangunan yang ikut hangus adalah Imah Gede milik Abah Hendrik, rumah adat yang selama ini menjadi pusat aktivitas masyarakat kasepuhan.

Namun, di tengah puing yang masih mengepulkan asap, secercah harapan datang. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan pemerintah provinsi akan membangun kembali 51 rumah yang ludes terbakar. Kepastian itu dia sampaikan setelah berbicara langsung dengan pimpinan Kasepuhan Adat Ciptamulya, Abah Asep.

"Dan saya sudah telepon Abah Asep dan saya sudah menyampaikan 51 rumah yang terbakar itu akan segera kembali dibangun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat," ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Minggu (26/7). 

Bagi Dedi, Kasepuhan Adat Ciptamulya bukan sekadar deretan rumah yang berdiri di kaki gunung. Kawasan itu adalah salah satu penyangga warisan budaya Sunda yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

"Karena itu merupakan kekayaan budaya yang kita miliki dan mereka adalah masyarakat adat yang selama ini mandiri, mampu membangun kehidupan yang rukun dan bersuasana depan," ucapnya.

Karena itu, yang hendak dibangun kembali bukan hanya rumah-rumah yang hangus, melainkan ruang hidup masyarakat adat agar tradisi yang diwariskan turun-temurun tetap berdiri.

Dedi pun meminta warga tidak larut dalam kesedihan. Pemerintah, katanya, akan segera hadir untuk memulai proses rehabilitasi.

"Semoga Abah dan seluruh warga tetap tenang, nanti dalam waktu tidak terlama kami akan segera turun dan kembali membangun Kasepuhan Ciptamulya. Haturnuhun, salam untuk semuanya," katanya.

Sementara itu, api memang telah padam. BPBD Jawa Barat memastikan kobaran yang menghanguskan permukiman adat tersebut berhasil dikendalikan. Fokus penanganan kini beralih kepada para penyintas.

Pranata Humas Ahli BPBD Jawa Barat Hadi Rahmat mengatakan pihaknya telah mengirim tim sekaligus menyalurkan bantuan logistik berupa sembako, air mineral, serta kebutuhan makan dan minum.

"Kita juga kirim tim ke sana, distribusi bantuan logistik. Sembako dan air mineral, kebutuhan makan minum keluarga," kata Hadi.

Di sisi lain, Kementerian Sosial turut mengirimkan bantuan logistik senilai sekitar Rp278 juta. Kasur, selimut, tenda keluarga, family kit, makanan siap saji, hingga beras didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan dasar para penyintas selama masa tanggap darurat.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan, prioritas utama pemerintah adalah memastikan warga tetap dapat menjalani hari-hari setelah musibah.

"Pada masa tanggap darurat, yang paling utama adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak terpenuhi. Oleh karena itu, Kemensos menyalurkan bantuan logistik dan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar pelayanan kepada para penyintas berjalan optimal," ujarnya, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (26/7).

Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan aparat. Dugaan awal mengarah pada korsleting listrik, namun kepastian penyebabnya masih menunggu hasil investigasi. (yuliantono/cesar yudistira/gin)


Editor : Inilahkoran