INILAH, Bogor - Tiga karyawan PT Sky Pacific Indonesia yang menjadi korban Pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di Tanjung Karawang, Kabupaten Karawang Jawa Barat Senin pagi (29/10) lalu sudah dikuburkan oleh keluarganya masing-masing di Tangerang maupun Bogor.
Hal ini menjadi titik balik buat Krisma Wijaya dalam memandang takdir Allah SWT. Mantan karyawan PT Sky Pacific Indonesia ini selamat dari kecelakaan karena tepat 3 hari sebelum keberangkatan warga Cimanggis, Kota Depok ini mengundurkan diri dari perusahaan.
Krisma yang ditemui INILAH usai pemakaman Arif Yustian (20 tahun) di TPU Karang Anyar, Bojonggede Kabupaten Bogor pun mengatakan perasaannya campur aduk antara syok, sedih dan takjub karena dirinya yang harusnya ikut menjadi korban, malah selamat.
"Senin pagi di rumah saya mendapatkan telepon dari pimpinan PT Sky Pacific Indonesia Teguh Pribadi (Tedi) bahwa Pesawat Lion Air JT 610 hilang kontak dan meminta bukti pembelian 4 tiket pesawat, lalu ketika tak lama kemudian Basarnas mengatakan kabar pesawat tersebut, ibu saya langsung menangis haru," kata Krisma.
Alumni Universitas Indraprasta Jakarta ini menerangkan saat tersiar kabar dirinya masuk dalam manifest Pesawat Lion Air yang tenggelam di Tanjung Karawang, keluarga dan teman sekolah, kuliah dan mantan rekan kerja di perusahaan sebelumnya banyak yang menghubunginya.
"Hari Senin itu saya sibuk menjawab pertanyaan keluarga dan teman bahwa saya selamat dari kecelakaan maut tersebut, saya juga dilarang keluar rumah oleh bapak dan saya sendiri juga takut karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," terangnya.
Khrisma yang masuk kerja di PT Sky Pacific Indonesia berbarengan dengan Iyus pun ikut dalam pendampingan keluarga karyawan PT Sky Pacific Indonesia di RS Polri Kramat Jati, Jakarta.
"Awalnya nama Iyus kan tidak masuk dalam manifest Pesawat Lion Air JT 610, saya pun ikut mengurusi data Iyus di RS Polri Kramat Jati Jakarta hingga nama Iyus masuk dalam daftar manifest," tutur Krisma.
Alumni SMA Pelita Harapan Jakarta ini bersama karyawan PT Sky Pacific Indonsia itu juga ikut menguburkan rekan-rekannya baik itu di Tangerang maupun Bogor.
"Saya sempat memakamkan Rohmanir Pandi Sagal di Tangerang dan Iyus di Bogor, kalau pak Darwin saya tidak ikut memakamkan karena baru mendengar jasadmya sudah teridentifikasi pada Sabtu pagi dari saudara sepupu yang kebetulan menonton berita di televisi," paparnya.
Krisma menyebut kejadian itu telah membawa hikmah buat dirinya, yang dulu kerap bolong-bolong dalam melaksanakan kewajiban salat lima waktu sekarang menjadi lebih rajin.
"Rasa sedih itu masih ada, namun saya mencoba mengambil hikmah dengan lebih rajin lagi melaksanakan salat lima waktu, saya terus mendoakan almarhum teman-teman saya sehabis salat dan beberapa kali ketika ada pengajian di lingkungan rumah saya titip nama-nama almarhum untuk ikut didoakan agar segala dosa mereka dimaafkan dan ditempatkan di tempat yang layak di sisiNya," tutur Khrisma.