Konsep Perubahan Nama Baru Taman, Pemkot Bandung Libatkan Pakar dan Budayawan

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menargetkan, kajian perubahan nama taman kota rampung pada Januari ini sebelum diluncurkan secara resmi kepada publik. Proses tersebut, dilakukan melalui mekanisme dan prosedur yang melibatkan sejumlah pihak termasuk pakar dan budayawan.

Konsep Perubahan Nama Baru Taman, Pemkot Bandung Libatkan Pakar dan Budayawan
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menargetkan, kajian perubahan nama taman kota rampung pada Januari ini sebelum diluncurkan secara resmi kepada publik. Proses tersebut, dilakukan melalui mekanisme dan prosedur yang melibatkan sejumlah pihak termasuk pakar dan budayawan./INILAHKORAN-Yogo Triastopo

INILAHKORAN.ID - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menargetkan, kajian perubahan nama taman kota rampung pada Januari ini sebelum diluncurkan secara resmi kepada publik. Proses tersebut, dilakukan melalui mekanisme dan prosedur yang melibatkan sejumlah pihak termasuk pakar dan Budayawan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa menjelaskan, rencana perubahan nama taman kota berangkat dari keinginan wali kota agar taman-taman di Kota Bandung lebih dekat dan mudah dikenali masyarakat.

“Pada prinsipnya, pak wali kota menginginkan taman-taman di Kota Bandung lebih dekat dan lebih dikenal oleh masyarakat. Dari situ muncul gagasan untuk mengembalikan penamaan taman pada istilah toponimi atau nama-nama geografis,” kata Adi Junjunan Musatafa, Rabu 21 Januari 2026.

Ia menuturkan, hingga saat ini proses penamaan masih dalam tahap kajian dan belum bersifat final. Disbudpar telah menggelar sejumlah rapat pendahuluan, termasuk dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) serta melibatkan para pakar yang memahami kaidah penamaan toponimi.

“Kami sudah melakukan beberapa rapat pendahuluan, termasuk dengan Disarpus. Kami juga mengundang sejumlah pakar, karena sebelumnya pernah ada buku yang membahas toponimi. Dari diskusi itu, mulai muncul konsep dan usulan nama-nama taman,” ucapnya.

Menurut Adi, beberapa nama taman yang sudah lama digunakan menjadi pertimbangan khusus dalam kajian tersebut. Karena itu, hasil pembahasan tidak serta merta diputuskan melainkan akan dilaporkan terlebih dahulu kepada wali kota.

“Nantinya hasil kajian ini, akan kami laporkan kepada pak wali kota. Untuk penamaan resmi dan rilis ke publik, tentu akan disampaikan langsung oleh beliau karena ada prosedur yang harus dilalui. Jadi ini bukan sekadar ganti nama,” ujar dia.

Ia menyebutkan, usulan awal perubahan nama taman berasal dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) sebagai dinas yang mengurusi pertamanan. Usulan tersebut, kemudian dibahas bersama lintas dinas sebelum difinalkan.

“Pak wali kota berharap, pada Januari ini konsepnya sudah selesai. Setelah itu kami laporkan, lalu bisa masuk ke tahap peluncuran,” jelasnya.

Adi menegaskan, beberapa contoh usulan nama yang beredar di masyarakat masih sebatas ilustrasi dan belum ditetapkan. Misalnya Taman Superhero yang diusulkan menjadi Taman Bengawan, Taman Radio menjadi Taman Rangga Malela dan Taman Sister City menjadi Taman Seram karena berada di Jalan Seram.

“Contoh-contoh itu masih terus digodok oleh tim. Semuanya belum final dan masih dalam tahap kajian,” ujar dia.

Dalam proses kajian, Disbudpar melibatkan bidang kajian budaya, arsiparis, pustakawan dan pakar penamaan geografis. Masukan dari Budayawan, juga menjadi pertimbangan. Terutama terkait kesinambungan sejarah dan konteks wilayah.

“Kalau dikembalikan ke kaidah toponimi, harapannya masyarakat bisa lebih mengenal makna dan konteks wilayah tersebut,” tandasnya.***


Editor : JakaPermana