KPID Jabar: Penetrasi Media Internet Gen Z Capai 99,8 Persen, Literasi Diperkuat

KPID Jabar mencatat penetrasi media berbasis internet di kalangan Gen Z mencapai 99,8 persen. Literasi media dan regulasi dinilai perlu diperkuat.

KPID Jabar: Penetrasi Media Internet Gen Z Capai 99,8 Persen, Literasi Diperkuat
KPID Jabar mencatat penetrasi media berbasis internet di kalangan Gen Z mencapai 99,8 persen. Literasi media dan regulasi dinilai perlu diperkuat.

INILAHKORAN.ID– Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat menilai tingginya penetrasi media berbasis internet di kalangan Generasi Z (Gen Z) perlu diimbangi dengan penguatan Literasi Media dan regulasi.

KPID Jawa Barat mencatat penetrasi media berbasis internet di kalangan Gen Z telah mencapai 99,8 persen. Tingginya penggunaan media digital tersebut dinilai membawa sejumlah tantangan, mulai dari penyebaran informasi, sosial, ekonomi, budaya hingga kondisi psikologis.

Persoalan tersebut dibahas KPID Jabar bersama Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka Jawa Barat melalui program literasi media bertajuk Penyiaran Perspektif 5+1 di Bandung Creative Hub, Kota Bandung, Selasa (6/10/2026).

Ketua KPID Jawa Barat Adiyana Slamet mengatakan, pihaknya memetakan dampak media terhadap masyarakat melalui enam aspek, yakni ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan, serta psikologi.

Menurut Adiyana, pemetaan tersebut penting karena karakter media penyiaran seperti televisi dan radio berbeda dengan Media Sosial berbasis internet.

Televisi dan radio memiliki regulasi yang mengikat sehingga fungsi informasi dan edukasi lebih terkontrol.

"Televisi dan radio ini menyelamatkan aspek-aspek ideologi hingga psikologi karena regulasinya sudah ada dan punya andil menyuguhkan edukasi. Sementara di media berbasis internet, riset kami menunjukkan 62,3 persen Gen Z terganggu tingkat religiusitasnya akibat konten di media sosial," ujar Adiyana.

Media Sosial Dinilai Rawan Disinformasi

Adiyana mengatakan, media sosial saat ini telah berkembang menjadi arena perebutan informasi yang memiliki risiko disinformasi dan misinformasi.

Kondisi tersebut dinilai semakin kompleks dengan munculnya fenomena filter bubble, yakni kondisi ketika pengguna lebih sering mendapatkan informasi yang sesuai dengan pandangan atau preferensinya sehingga perspektif yang diterima dapat semakin sempit.

Menurut Adiyana, persoalan ruang digital tidak hanya berkaitan dengan informasi. Keamanan data, kondisi psikologis, budaya, hingga ketahanan ekonomi juga menjadi bagian dari tantangan yang perlu diperhatikan.

"Ancaman di media sosial sangat kompleks, mulai dari infiltrasi budaya asing yang masif, pencurian data atau phishing, hingga dampak psikologis seperti nomophobia, stres mental, dan social comparison. Bahkan dari sisi ekonomi, dominasi platform global sangat mengkhawatirkan putaran uang kita," ucapnya.

KPID Jabar Gandeng Pramuka Perkuat Literasi Media

Atas dasar tersebut, KPID Jawa Barat menggandeng Kwarda Pramuka Jawa Barat sebagai mitra untuk memperluas edukasi literasi media.

Jaringan Pramuka yang tersebar di 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat dinilai dapat menjadi jalur untuk menjangkau masyarakat, khususnya pelajar dan generasi muda.

KPID Jabar juga telah berkoordinasi dengan sejumlah perangkat daerah, di antaranya Kesbangpol, DP3AKB, dan Dinas Pendidikan Jawa Barat.

Hasil riset mengenai dampak media tersebut disiapkan sebagai salah satu bahan untuk mendorong kebijakan di tingkat daerah.

"Kami mengusulkan hasil riset ini menjadi inisiatif pemerintah provinsi untuk didorong ke legislatif demi terciptanya Perda di Jawa Barat. Regulasi nasional yang ada saat ini belum cukup menanggulangi bahaya media berbasis internet jika negara belum hadir secara penuh," katanya.

Literasi Media Didorong Sejak Usia Dini

Selain mendorong penguatan regulasi, KPID Jawa Barat juga menjalankan edukasi secara langsung dengan pendekatan storytelling.

Sasaran program literasi media tersebut diperluas hingga anak usia dini, termasuk siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar di berbagai wilayah Jawa Barat.

Langkah tersebut dilakukan untuk membangun kemampuan masyarakat dalam memilah informasi sejak dini.

Dengan penguatan literasi media, tingginya penggunaan media digital diharapkan dapat diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam mengenali informasi yang diterima serta memahami berbagai risiko di ruang digital.

KPID Jabar berharap edukasi tersebut dapat membantu generasi muda menghadapi perkembangan media digital dengan lebih bijak, sekaligus mengurangi risiko sosial, psikologis, budaya, dan ekonomi yang dapat muncul dari penggunaan media berbasis internet.***


Editor : JakaPermana