KPK Tegaskan Kasus Dugaan Korupsi Proyek Whoosh Tetap Diselidiki Meski Prabowo Ambil Alih Utang
KPK menegaskan bahwa pihaknya akan tetap mengusut soal dugaan korupsi Whoosh.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan bahwa proses penyelidikan dugaan korupsi dalam proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh di lingkungan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) akan terus berlanjut, meskipun Presiden Prabowo Subianto telah menyatakan siap menanggung seluruh kewajiban utang proyek tersebut.
Wakil Ketua KPK, Johanis Tanak, menuturkan bahwa tidak ada alasan bagi lembaga antirasuah untuk menghentikan proses penyelidikan. Menurutnya, penyelidikan merupakan langkah awal untuk memastikan apakah benar terdapat unsur tindak pidana korupsi dalam proyek strategis nasional tersebut.
“Penyelidikan tidak ada larangan, tidak ada satu aturan pun yang menghalangi kami untuk mencari tahu apakah ada atau tidaknya unsur korupsi,” ujar Johanis di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (5/11/2025).
Tanak menambahkan, apabila dari hasil penyelidikan ditemukan indikasi kuat adanya tindak pidana, maka KPK akan melaporkan temuannya kepada Presiden. Namun, jika tidak ditemukan bukti pelanggaran hukum, maka kasus tersebut dinyatakan selesai.
“Kalau tidak ada, ya selesai. Tapi kalau ada, tentu kami sampaikan kepada Presiden bahwa ditemukan dugaan perbuatan yang termasuk tindak pidana korupsi,” lanjutnya.
Ketika ditanya mengenai pihak-pihak yang telah dimintai keterangan, Tanak meminta agar hal itu dikonfirmasi kepada Plt. Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, yang menangani langsung proses penyelidikan.
Dugaan Mark Up Biaya Proyek Whoosh Mencuat dari Pengakuan Mahfud MD
Sebelumnya, dugaan adanya praktik korupsi dalam proyek kereta cepat ini pertama kali diungkapkan oleh mantan Menko Polhukam Mahfud MD dalam video di kanal YouTube pribadinya, Mahfud MD Official, pada 14 Oktober 2025.
Mahfud mengungkapkan adanya perbedaan signifikan dalam biaya pembangunan per kilometer proyek tersebut dibandingkan dengan proyek serupa di Tiongkok.
“Di Indonesia, biaya per kilometer mencapai 52 juta dolar AS, sementara di China hanya sekitar 17–18 juta dolar AS. Itu berarti naik hampir tiga kali lipat,” ujar Mahfud.
Ia pun menilai selisih angka tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui siapa pihak yang bertanggung jawab dan ke mana aliran dana kelebihan biaya itu mengalir.
“Ini mark up. Harus diselidiki siapa yang menaikkan anggaran sebesar itu,” tegasnya.
Proyek Strategis Nasional dengan Sorotan Publik
Proyek kereta cepat Whoosh merupakan proyek transportasi berkecepatan tinggi pertama di Indonesia yang diresmikan pada 2023. Meski digadang-gadang sebagai simbol kemajuan transportasi modern, proyek ini terus menuai sorotan publik, mulai dari pembengkakan biaya hingga utang yang ditanggung negara.
Dengan KPK yang kini aktif melanjutkan penyelidikan, publik menantikan hasil penelusuran lembaga antirasuah tersebut untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam proyek bernilai puluhan triliun rupiah itu.
Editor : Firda Rachmawati

