KPU KBB Berikan Edukasi Ratusan Pemilih Pemula Gen Z Terkait Pemilu 2024

Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Bandung Barat (KPU KBB) mencatat dari 1.317.866 Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 317.019 merupakan pemilih pemula dari Generasi Z (Gen Z) yang kali pertama bakal menyalurkan hak suaranya pada Pemilu 2024 ini.

KPU KBB Berikan Edukasi Ratusan Pemilih Pemula Gen Z Terkait Pemilu 2024
KPU KBB menilai tingginya angka pemilih pemula dari kalangan Gen Z itu dibarengi dengan kebingungan dengan banyaknya peserta pemilu yang notabene merupakan pendatang baru pada Pemilu 2024. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Bandung Barat (KPU KBB) mencatat dari 1.317.866 Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 317.019 merupakan pemilih pemula dari Generasi Z (Gen Z) yang kali pertama bakal menyalurkan hak suaranya pada Pemilu 2024 ini.

Kendati demikian, KPU KBB menilai tingginya angka pemilih pemula dari kalangan Gen Z itu dibarengi dengan kebingungan dengan banyaknya peserta pemilu yang notabene merupakan pendatang baru pada Pemilu 2024.

"Melihat tingginya partisipasi Pemilu 2024 dari Gen Z ini harus kita gaet untuk kemudian diberikan edukasi kepemiluan melalui sosialisasi pendidikan bagi pemilih pemula," kata Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU KBB Deni Firman Rosadi saat ditemui usai memberikan materi sosialisasi pendidikan kepada pemilih pemula di SMA dan SMK Fithrah Insani, Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, KBB.

Deni menyebut, bersama 350 siswa-siswi SMA dan SMK yang tergabung dalam Forum Osis Bandung Barat (FOBB) KPU KBB membuka secara luas berbagai pertanyaan yang menjadi kegelisahan Gen Z seputar kepemiluan.

"Mereka ini kritis dalam menyampaikan beragam pertanyaan seputar kepemiluan. Hal ini menjadi bukti betapa cerdas dan antusias untuk berpartisipasi dalam Pemilu 2024," sebutnya.

Pasalnya, walau bagaimanapun pun partisipasi mereka dalam Pemilu 2024 menentukan masa depan mereka dalam lima tahun ke depan.

"Dari tata cara pencoblosan hingga berbagai persoalan pelanggaran mereka tanyakan. Hal ini menjadi bukti betapa mereka sangat cerdas dan kritis menangkap berbagai hal terkait kepemiluan di lingkungannya," terangnya.

Selain itu, sambung Deni, mereka merupakan bibit-bibit pemimpin masa depan bangsa yang kelak menahkodai negara ini. Sehingga, perlu ditanamkan nilai-nilai luhur kejujuran dan prinsip yang kuat agar tidak terjerembab dalam politik praktis.

"Modal kecerdasan mereka harus dibentengi dengan nilai-nilai luhur kejujuran dan mentalitas yang kuat agar mampu membawa bangsa ini ke era keemasan," ucapnya.

Deni pun berpesan kepada 350 peserta sosialisasi agar berpartisipasi dalam Pemilu 2024 dan tidak perlu bingung dalam menentukan pilihan. Sebab, mereka bisa mencari, menganalisa dan mempertimbangkan peserta pemilu yang dirasa laik untuk memimpin bangsa selama lima tahun ke depan.

"Mereka ini siswa-siswi terbaik yang bisa dengan bijak menentukan pilihan meski baru pertama kali berpartisipasi dalam Pemilu 2024," ujarnya.

"Jadi, gak perlu ragu manfaatkan berbagai media informasi yang ada di KPU untuk mencari sosok yang laik untuk dipilih," tandasnya.

Salah seorang peserta Ayesha Khaira (17) mengakui sudah bisa menyalurkan hak suaranya pada Pemilu 2024 karena usianya sudah menginjak 17 tahun. Tak hanya itu, siswi kelas XII SMAI Al-Musyawarah Lembang ini pun sudah mengetahui lima jenis surat suara yang bakal dicoblos pada 14 Februari 2024 mendatang.

"Untuk Pemilu 2024 ini saya udah jadi pemilih pemula. Alhamdulillah, saya udah tahu juga lima jenis surat suara yang bakal dicoblos nanti," kata Ayesha.

"Surat suara warna hijau untuk DPRD kabupaten/kota, biru untuk DPRD provinsi, merah untuk DPD RI, kuning untuk DPR RI dan warna abu untuk presiden dan wakil presiden," sambungnya.

Ayesha menyebut dirinya bakal mencoblos di TPS Lembang. Namun, dirinya cukup kebingungan dengan surat suara DPD RI yang notabene tidak bisa melakukan skrining latarbelakang parpolnya.

"Kan kalau DPRD bisa diskrinning dulu partainya apa. Sementara DPD gak tahu, apalagi jumlah calonnya mencapai 50 orang lebih," sebutnya.

Dengan adanya sosialisasi dari KPU KBB ini, sambung Ayesha, tentunya sangat membantu mengingat dirinya sebagai pemilih pemula pasti kebingungan karena belum paham tahapan pencoblosan.

"Selain itu, banyaknya peserta pemilu juga bikin pusing. Itu sih sebenernya dan buat Gen Z jangan asal pilih pemimpin ya," tandasnya. (agus satia negara)


Editor : Doni Ramdhani