KPU Kota Cimahi Gelar Simulasi Pencoblosan, Warga Kesulitan Lipat Surat Suara
Masih kurangnya pengetahuan masyarakat terkait banyaknya jenis surat suara Pemilu 2024 mendatang menjadi kekhawatiran sejumlah pihak. Termasuk, KPU Kota Cimahi sebagai penyelenggara.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Masih kurangnya pengetahuan masyarakat terkait banyaknya jenis surat suara Pemilu 2024 mendatang menjadi kekhawatiran sejumlah pihak. Termasuk, KPU Kota Cimahi sebagai penyelenggara.
Menyikapi hal itu, KPU Kota Cimahi menggelar simulasi pencoblosan Pemilu 2024 di TPS 43 di Jalan Usman Dhomiri, Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.
Ketua KPU Kota Cimahi Anzhar Ishal Afryand mengatakan, simulasi tersebut digelar sebagai sarana sosialisasi ke masyarakat sekaligus memperlihatkan tata cara pencoblosan terhadap lima kertas suara pada Pemilu 2024 pada 14 Februari 2024.
"Ini menjadi gambaran buat kami terkait wawasan dan pengetahuan yang sudah didapatkan masyarakat, agar bagaimana menyalurkan hak suaranya di TPS dengan benar," katanya kepada wartawan.
Selain itu, ungkap Anzhar, pihaknya pun ingin mengetahui proses serta lamanya waktu pencoblosan dan penghitungan. Sehingga, dengan lima jenis surat suara ini tentunya harus diprediksi berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang mencoblos.
"Pada Pemilu nanti ada lima kertas suara yang harus dicoblos, yakni surat suara DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, DPD RI, dan surat suara untuk presiden dan wakil presiden," ungkapnya.
Tak hanya itu, pada Pemilu di tahun ini petugas KPPS nantinya bakal dibantu dengan sistem rekapitulasi suara melalui aplikasi Sirekap.
"Itulah alasannya kenapa diperlukan petugas KPPS yang bisa menggunakan teknologi dan menyediakan perangkat laptop di TPS," ucapnya.
Sementara itu, salah seorang warga yang mengikuti simulasi pencoblosan, Agi (23) mengaku cukup kesulitan untuk mencoblos lima surat suara dengan cepat.
Pasalnya ukuran surat suaranya berbeda-beda, bahkan ada yang seukuran kertas koran sehingga cukup sulit untuk membuka dan menutup lipatannya.
"Lumayan sulit, harus hati-hati, apalagi untuk surat suara yang buat DPRD ukuranya sangat besar," ungkapnya.
Agi menyebut, ini adalah pengalaman yang kedua kali bagi dirinya dalam menyalurkan hak suara. Untuk tahapan sudah tidak ada yang berbeda, hanya saja kali ini mesti meluangkan waktu lumayan lama di balik bilik suara buat membuka dan menutup surat suara agar tidak rusak.
"Yang bikin lama itu, buka sama nutup kertas suara. Kalau nyoblosnya sebentar, tapi lipat surat suara kan harus hati-hati, jangan sampai lipatannya salah," tandasnya. (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani
