Krisis Air Tiada Akhir

MUSIM kemarau memuculkan ancama krisis air di berbagai wilayah Jawa Barat. Ironisnya, sejumlah warga seperti terbiasa dengan nelangsa tanpa solusi nyata.

Krisis Air Tiada Akhir
KRISIS: Warga Kampung Cidolog RT 04 RW 11, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya saat mengambil air di salah satu sumber air. Mereka kembali dihadapkan pada persoalan elama puluhan tahun, yakni sulitnya memperoleh air bersih saat kemarau.

Oleh: Nunung Nurohman 

Bagi warga Kampung Cidolog RT 04 RW 11, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, musim kemarau bukan sekadar pergantian musim. Setiap tahun, mereka kembali dihadapkan pada persoalan yang belum pernah benar-benar tuntas penanganannya.

Saat kemarau tiba, debit air di rumah-rumah warga menurun drastis. Sebagian dari mereka terpaksa mengandalkan satu sumber mata air yang kondisinya keruh dan jauh dari layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tak hanya itu, untuk mendapatkan air mereka harus mengantre sejak dini hari bersama warga lainnya.

Miroh (51), salah seorang warga, mengatakan air yang mengalir ke rumahnya kini hanya cukup untuk kebutuhan dasar.

"Sudah susah, air di rumah juga sudah sedikit keluarnya. Hanya cukup buat wudhu sama mandi," ujarnya, Senin, (20/7).

Menurutnya, antrean warga sudah dimulai sejak sekitar pukul 03.00 WIB. Sementara untuk mendapatkan air yang relatif lebih jernih untuk konsumsi, warga memilih mengambilnya pada malam hari.

"Dari jam 03.00 dini hari sudah pada berangkat bareng-bareng. Kalau untuk air konsumsi ngambilnya malam, karena agak lumayan bersih airnya," katanya.

Kondisi serupa dirasakan Nani (46). Ia mengaku warga kerap harus menunggu giliran, bahkan tidak sedikit yang pulang tanpa membawa air karena sumber air sudah habis.

"Susah kalau kesulitan air begini mah. Kadang harus nungguin dulu sama yang lain, malah ada yang enggak kebagian karena airnya sudah habis," ucapnya.

Tokoh setempat, Romdin (66), menuturkan persoalan kekurangan air bersih di wilayah tersebut bukanlah masalah baru. Menurutnya, warga sudah mengalami kondisi serupa sejak awal 1980-an.

"Dari tahun 1982 juga di sini sudah sulit air kalau masuk musim kemarau. Kalau tingkat keparahannya kurang lebih sudah 30 tahunan," katanya.

Harapan agar persoalan tersebut segera teratasi juga disampaikan tokoh pemuda setempat, Ustad Suryana (44).

Ia mengaku telah mengusulkan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) kepada pemerintah sejak sekitar empat tahun lalu, namun hingga kini belum terealisasi.

"Sudah dari empat tahun lalu saya menginginkan adanya air SPAM untuk warga, supaya setiap kemarau tidak terus seperti ini," ujarnya.

Menurut Suryana, sedikitnya sekitar 40 kepala keluarga masih bergantung pada sumber air tersebut. Bahkan jika persoalan pembangunan SPAM terkendala lahan, dirinya menyatakan siap mewakafkan tanah demi kepentingan masyarakat.

"Kalau terkendala lahan untuk bangun SPAM, saya siap mewakafkan tanah untuk kepentingan warga kami di sini. Yang paling penting warga kami tidak terus seperti ini setiap tahun," katanya.

Menanggapi kondisi tersebut, Camat Tamansari Gatot Setyobudi mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan lurah dan pengurus setempat.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai kekeringan di wilayah tersebut.

Ia menjelaskan sebelumnya pemerintah kecamatan telah meminta pendataan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan untuk dilaporkan kepada BPBD Kota Tasikmalaya.

Menurutnya, apabila terjadi kekeringan, BPBD akan memberikan bantuan pasokan air bersih.

"Manakala terjadi kekeringan akan di-support air bersih oleh BPBD Kota Tasikmalaya. Kalau dilihat dari dokumentasi, warga masih antre untuk mendapatkan air dan masih ada sumber air yang tersedia," kata Gatot. (bsf)


Editor : Inilahkoran