Saat Api Nyaris Menelan Permukiman
RUMPUT kering dan angin kencang membuat kobaran api cepat membesar. Dalam hitungan menit, kebakaran mengancam permukiman warga di Cimahi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Agus Satia Negara
Sore itu, Minggu (19/7), angin musim kemarau berembus lebih kencang dari biasanya. Di lahan kosong Jalan Ibu Ganirah, Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan, kepulan asap perlahan berubah menjadi kobaran api.
Berawal dari pembakaran sampah, si jago merah dengan cepat menjalar ke hamparan rumput kering. Dalam hitungan menit, api membesar dan mengancam kawasan padat di sekitarnya.
Warga tak tinggal diam. Bersama Ketua RT setempat, Iman Bahtiar, mereka berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Namun, besarnya kobaran dan tiupan angin membuat usaha itu tak membuahkan hasil.
Alih-alih padam, api justru meluas hingga membakar sekitar 450 meter persegi lahan. Dalam upaya menahan kobaran, Iman Bahtiar mengalami luka ringan. Laporan kebakaran diterima Mako Damkar Kota Cimahi pada pukul 16.35 WIB.
Tak lama berselang, Regu 1 yang beranggotakan delapan personel meluncur ke lokasi dengan dua unit mobil pancar dan satu kendaraan penyelamatan.
"Kami tiba di lokasi sekitar delapan menit setelah berangkat," ujar Kepala Seksi Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP dan Damkar Kota Cimahi, Aep Mulyana, Senin (20/7).
Kecepatan menjadi penentu. Sebab, kobaran api saat itu sudah berada di ambang permukiman. Deretan rumah kos, kios, toko hingga sebuah gerai minimarket berada dalam jalur yang berpotensi dilalap api.
Beruntung, petugas berhasil mengendalikan kobaran sebelum merembet lebih jauh. Satu unit rumah kos senilai sekitar Rp1 miliar berhasil diselamatkan. Begitu pula sebuah gerai Alfamart, warung kelontong, sepuluh kios, serta berbagai barang dan aset milik warga. Nilai aset yang berhasil diamankan diperkirakan mencapai Rp2,1 miliar.
Di tengah proses pemadaman, petugas juga mengevakuasi sekitar 20 warga yang tinggal dan beraktivitas di sekitar lokasi agar terhindar dari bahaya. Tidak ada korban jiwa maupun korban luka berat dalam peristiwa tersebut.
Setelah hampir satu jam berjibaku dengan api, proses pemadaman dan pendinginan akhirnya dinyatakan selesai pada pukul 17.38 WIB. Peristiwa itu kembali menjadi pengingat, kebakaran besar kerap bermula dari kelalaian yang tampak sepele.
Pada musim kemarau, ketika rumput mengering dan angin bertiup kencang, membakar sampah di lahan terbuka bisa berubah menjadi ancaman bagi satu lingkungan.
Karena itu, Aep mengimbau masyarakat menghentikan kebiasaan membakar sampah sembarangan dan segera melapor ke petugas jika melihat tanda-tanda kebakaran, agar api tidak sempat berkembang menjadi bencana yang lebih besar. (gin)
Editor : Inilahkoran

