Laut Menyimpan Nama, Daratan Menunggu Pulang
KABAR belum juga datang dari laut. Harapan keluarga belum ingin tenggelam.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Papan putih itu menjadi tempat berlabuhnya harapan.Di Posko Terpadu Kecelakaan KMP Virgo Transport 8 di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, sejumlah orang berdiri berdekatan. Mata mereka menyusuri sederet nama yang tertulis di atas kertas putih.
Ada yang mencari nama suami. Ada yang mencari adik.
Ada yang mencari kakek. Ada pula yang datang membawa satu nama dari kampung halaman, berharap nama itu segera berubah dari daftar pencarian menjadi kabar kepulangan.
Ruswi (25) memilih tetap berada di sana. Bukan sekadar untuk memperoleh informasi, melainkan membawa harapan keluarga agar Edi Sukamto segera ditemukan.
Edi merupakan warga Dusun Brak Sari, Kemuning, Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Dia bekerja sebagai oiler, kru kapal yang bertugas di bagian mesin KMP Virgo Transport 8.
Kapal itu berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin ketika kecelakaan terjadi di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9). Setelahnya, komunikasi dengan sejumlah penumpang dan awak kapal terputus.
Pesan terakhir Edi sampai kepada keluarga pada Sabtu (12/9), selepas magrib. Setelah itu, telepon dan pesan WhatsApp yang biasanya rutin datang mendadak sunyi.
“Lepas magrib, setelah itu tidak ada komunikasi sama sekali sampai hari ini,” kata Ruswi di pelabuhan, seperti dikutip dari ANTARA, Senin (14/9).
Keluarga mengetahui kabar kecelakaan itu dari media sosial.
Sejak saat itu, pencarian menjadi satu-satunya jalan yang bisa mereka ikuti.Sementara doa menjadi satu-satunya cara untuk menjaga hati tetap kuat.
Pasrah bukan berarti menyerah.
Ruswi dan keluarganya menerima segala kemungkinan, tetapi tetap menyimpan harapan agar Edi ditemukan.
“Semoga diberi kekuatan dan dalam laut itu, dasar laut kan, semoga yang terbaik saja,” ucapnya.
Jika Edi masih selamat, mereka ingin melihatnya pulang.
Jika kemungkinan terburuk terjadi, mereka tetap ingin jasadnya ditemukan agar keluarga dapat membawanya kembali ke rumah.
Harapan serupa hidup di wajah Umi. Matanya berkacakaca ketika bercerita tentang suaminya, Yusuf, dan adiknya, Adam. Yusuf bekerja sebagai sopir truk ekspedisi, sedangkan Adam menjadi kenek yang mendampinginya. Keduanya berada dalam perjalanan ketika kapal itu mengalami kecelakaan.
“Belum ditemukan sampai sekarang. Saya ini masih nunggu info dari Banjar (Banjarmasin),” ujar Umi. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain menunggu dan berdoa.
“Harapannya suami saya sama adik saya cepat ditemukan.
Pokoknya harus diupayakan selamat,” katanya.
Di sudut lain posko, Elvira datang mencari nama kakeknya, Imam Suparno, 66 tahun. Nama itu tercatat dalam manifes KMP Virgo Transport 8.
Ada cerita kecil yang terus terngiang di kepalanya. Sebelum keberangkatan, teman Imam sempat meminta agar dia menunda perjalanan dan memilih kapal berikutnya karena waktu keberangkatan terlalu mendesak. Namun Imam tetap memilih Virgo.
“Temannya minta agar naik kapal pada keberangkatan berikutnya, tapi kakek memaksa naik kapal Virgo ini.
Soalnya kebiasaan naik Virgo, katanya,” kata Elvira.
Kini, kebiasaan itu berubah menjadi penantian panjang.
Nama-nama di papan putih menjadi lebih dari sekadar daftar. Di belakang setiap nama ada rumah yang menunggu, keluarga yang menahan cemas, dan doa yang terus dipanjatkan.
Hingga Senin (14/9) pukul 09.00 WIB, Basarnas mencatat 114 korban telah dievakuasi.
Sebanyak 108 orang ditemukan selamat, enam orang meninggal dunia, sementara 124 lainnya masih dalam pencarian.
Angka-angka itu menjadi catatan bagi tim penyelamat.
Bagi keluarga, setiap angka menyimpan satu wajah yang mereka kenal dan satu nama yang ingin segera mendapatkan kepastian.
Harapan itu kemudian datang dari berbagai arah.
Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono mendatangi Posko Terpadu di Pelabuhan Tanjung Perak. Ia menyapa keluarga korban dan mendorong agar pencarian terus dilakukan secara maksimal.
Dia juga meminta PT Jasa Raharja segera memproses santunan bagi korban yang tercatat dalam manifes.
“Saya titipkan kepada asuransi Jasa Raharja, cepat bergerak untuk segera memberikan santunan. Penumpang yang tidak ditemukan sudah masuk dalam manifes harus mendapatkan penggantian dari asuransi ini,” katanya.
Santunan, dia menyadari, tidak akan pernah menggantikan orang yang hilang. Namun hak tersebut dinilai menjadi salah satu bentuk kehadiran negara ketika sebuah keluarga sedang menghadapi musibah.
Bambang juga mengingatkan, keselamatan transportasi laut bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Regulator, operator, pengelola pelabuhan, penumpang hingga tim penyelamat memiliki peran yang sama dalam memastikan perjalanan berlangsung aman.
Di Garut, penantian juga terasa sampai ke rumahrumah warga. Sebanyak 23 warga Garut tercatat menjadi bagian dari penumpang dan awak kapal tersebut. Sebanyak 11 orang ditemukan selamat, dua meninggal dunia, sementara lainnya masih dalam pencarian.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyatakan pemerintah daerah siap menjemput warga yang selamat maupun membawa korban meninggal dunia untuk dipulangkan kepada keluarga.
“Tentu saja kita akan coba kirim orang ke sana, nanti akan dijemput. Sambil menunggu kabar, kita ada yang berangkat ke sana,” katanya.
Sebagian besar korban berasal dari Desa Situsaeur, Kecamatan Karangpawitan.
Mereka pergi bukan untuk meninggalkan keluarga, melainkan mencari nafkah bagi orang-orang yang menunggu kepulangan mereka.
“Mereka berjihad untuk mencari pekerjaan,” ujar Abdusy.
Sementara bagi mereka yang selamat, pemerintah daerah menyiapkan penanganan dan pendampingan sebelum mereka dapat kembali ke Garut.
Di Kampung Panyingkiran, Desa Situsaeur, Kapolres Garut AKBP Niko N Adi Putra juga mendatangi keluarga korban.
Dia tidak hanya membawa ucapan duka dan bantuan sembako serta uang tunai.
Kepolisian juga menawarkan sesuatu yang mungkin tidak pernah terpikirkan keluarga di tengah musibah: pekerjaan.
“Polres Garut siap bantu carikan pekerjaan bagi warga sini,” kata Niko. (gin)
Editor : Inilahkoran

