Krisis Timur Tengah Tekan Qatar, Defisit Anggaran Capai Rp102,4 Triliun
Defisit anggaran Qatar mencapai 21,2 miliar riyal atau sekitar Rp102,4 triliun pada kuartal II 2026 di tengah penurunan tajam ekspor LNG.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Defisit Anggaran Qatar mencapai lebih dari 21 miliar riyal atau sekitar Rp102,4 triliun pada kuartal II tahun 2026.
Lonjakan defisit tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi situasi di kawasan Timur Tengah serta penurunan tajam pendapatan Qatar dari ekspor Gas Alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Kementerian Keuangan Qatar pada Selasa (8/9/2026) menyatakan bahwa defisit pada kuartal kedua tahun ini mencapai angka tertinggi dalam hampir satu dekade.
“Pada kuartal II 2026, Defisit Anggaran negara mencapai 21,2 miliar riyal,” kata Kementerian Keuangan Qatar melalui akun media sosial X.
Jika dikonversikan, angka tersebut setara dengan sekitar Rp102,4 triliun.
Defisit Qatar Tertinggi Sejak 2016
Defisit Anggaran Qatar pada kuartal II 2026 tercatat sebagai yang tertinggi sejak akhir tahun 2016.
Jumlah tersebut juga hampir dua kali lipat dibandingkan defisit pada kuartal sebelumnya.
Pada kuartal I 2026, Defisit Anggaran Qatar tercatat sebesar 10,3 miliar riyal atau sekitar Rp49,7 triliun.
Dengan demikian, defisit pada kuartal II meningkat tajam menjadi 21,2 miliar riyal.
Peningkatan defisit tersebut menunjukkan tekanan besar yang dihadapi perekonomian Qatar, terutama akibat terganggunya sektor ekspor energi.
Ekspor LNG Qatar Merosot Tajam
Di tengah meningkatnya eskalasi di kawasan Timur Tengah, pasokan LNG Qatar menjadi salah satu sektor yang terdampak signifikan.
Qatar selama ini dikenal sebagai salah satu negara eksportir Gas Alam cair terbesar di dunia.
Namun, volume ekspor LNG Qatar mengalami penurunan drastis pada periode April hingga Juni 2026.
Qatar dilaporkan mengekspor kurang dari 2 juta ton LNG selama kuartal II 2026.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada kuartal II 2025, Qatar tercatat mengekspor sekitar 20 juta ton LNG.
Artinya, ekspor LNG Qatar mengalami penurunan yang sangat signifikan dalam satu tahun.
Pendapatan Energi Tertekan
Penurunan tajam volume ekspor LNG berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pendapatan negara.
Sektor energi, khususnya Gas Alam dan LNG, merupakan salah satu sumber utama perekonomian Qatar.
Ketika volume ekspor mengalami penurunan drastis, pendapatan negara dari sektor energi ikut tertekan.
Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketidakpastian keamanan dan ekonomi di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi konflik regional turut memengaruhi aktivitas perdagangan dan distribusi energi.
Defisit Hampir Dua Kali Lipat Dibanding Kuartal Sebelumnya
Data Kementerian Keuangan Qatar menunjukkan peningkatan defisit yang cukup tajam hanya dalam satu kuartal.
Pada kuartal I 2026, defisit berada di angka 10,3 miliar riyal.
Sementara pada kuartal II 2026, jumlah tersebut meningkat menjadi 21,2 miliar riyal.
Kenaikan ini membuat Defisit Anggaran Qatar hampir dua kali lipat dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Situasi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah Qatar dalam menjaga stabilitas fiskal di tengah tekanan terhadap sektor energi.
Eskalasi Timur Tengah Beri Tekanan pada Sektor Energi
Meningkatnya eskalasi di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memberikan dampak terhadap aktivitas energi di kawasan.
Gangguan terhadap pasokan dan distribusi LNG dapat berdampak langsung terhadap negara-negara produsen energi.
Bagi Qatar, sektor LNG memiliki peran strategis karena menjadi salah satu tulang punggung utama perekonomian nasional.
Penurunan ekspor secara tajam pada kuartal II 2026 menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian serius dalam menjaga pendapatan negara.
Pemerintah Qatar kini menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas anggaran sekaligus memastikan sektor energi dapat kembali beroperasi secara optimal di tengah situasi kawasan yang masih penuh ketidakpastian.***
Editor : JakaPermana

