Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif, Masuk 13 Terburuk Dunia

Kualitas udara Jakarta pada Sabtu pagi berada di level tidak sehat bagi kelompok sensitif dengan AQI 113, berdasarkan pemantauan IQAir.

Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif, Masuk 13 Terburuk Dunia
Suasana lanskap kota yang diselimuti polusi udara di Jakarta, Rabu (25/6/2025). ANTARA

INILAHKORAN.ID - kualitas udara jakarta pada Sabtu (5/9/2026) pagi berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.30 WIB.

Indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) jakarta tercatat di angka 113. Kondisi tersebut menempatkan jakarta sebagai kota dengan kualitas udara terburuk ke-13 di dunia pada waktu pemantauan.

Masyarakat, khususnya kelompok sensitif, dianjurkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan sebagai langkah untuk mengurangi paparan polusi udara.

Pada waktu yang sama, Kuching, Malaysia menjadi kota dengan kualitas udara terburuk di dunia dengan AQI 286. Posisi kedua ditempati Kinshasa, Kongo, dengan AQI 205, sedangkan Kampala, Uganda berada di urutan ketiga dengan AQI 159.

Untuk mengatasi persoalan polusi udara, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI jakarta menyiapkan sejumlah strategi, salah satunya memperluas jangkauan layanan transportasi publik.

Perluasan tersebut dilakukan melalui layanan bus Transjabodetabek, antara lain rute Blok M-Alam Sutera dan Blok M-PIK 2. Pemprov DKI jakarta juga menyiapkan rute baru yang menghubungkan Blok M dengan Bandara Soekarno-Hatta.

Gubernur DKI jakarta Pramono Anung mengajak masyarakat memanfaatkan transportasi publik yang telah disediakan Pemprov DKI jakarta untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Pemprov DKI jakarta juga telah menerbitkan aturan mengenai layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat.

Saat ini, konektivitas transportasi di jakarta disebut telah mencapai 92 persen. Capaian tersebut menempatkan jakarta di posisi ke-17 dunia dan peringkat kedua di ASEAN setelah Singapura.

Sektor transportasi menjadi salah satu perhatian utama karena menyumbang sekitar 50 persen emisi gas buang di jakarta. Karena itu, Pramono menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada 2030.

"Kalau itu bisa dilakukan, secara signifikan akan mengurangi kontribusi terhadap emisi itu," kata Pramono saat menghadiri Townhall Meeting yang membahas isu dan solusi mengatasi polusi udara di Melting Pop, M Bloc, Kebayoran Baru, Selasa (10/2).

Selain sektor transportasi, Pemprov DKI jakarta juga menaruh perhatian pada pengelolaan sampah sebagai bagian dari upaya menekan emisi.

Pemprov DKI jakarta mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah atau Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan jakarta Barat. Proyek tersebut ditargetkan mulai berjalan pada pertengahan tahun ini.

"Kalau itu bisa dilakukan, maka kontribusi yang signifikan akan mengurangi atau menurunkan kontribusi emisi yang ada di jakarta," tandas Pramono.


Editor : Ahmad Sayuti