Lahan Masjid Cilodong Disulap Jadi Laboratorium Padi Gogo 'Buhun'

Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta turut berpartisipasi melakukan penghijauan di kawasan Tajug Gede Cilodong, Kecamatan Bungursari. 

Lahan Masjid Cilodong Disulap Jadi Laboratorium Padi Gogo 'Buhun'
INILAH, Purwakarta - Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta turut berpartisipasi melakukan penghijauan di kawasan Tajug Gede Cilodong, Kecamatan Bungursari. 
 
Dinas tersebut, menyulap 5.600 meter persegi lahan sisa pembangunan masjid besar itu menjadi area penanaman benih 'Buhun'. Yakni, benih padi yang usianya 58 tahun. 
 
Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan menuturkan, di kawasan Tajug Gede Cilodong ini dinasnya menebar 100 jenis benih padi gogo, yang salah satunya adalah benih 'buhun'. 
 
"Selain memanfaatkan sisa lahan di kawasan Tajug Gede Cilodong, tujuan kami tak lain untuk melestarikan plasma nutfah," ujar Agus kepada INILAH, Kamis (7/2/2019).
 
Agus menjelaskan, tanaman padi gogo ini pun kedepan diciptakan menjadi show window atau etalase pertanian di Kabupaten Purwakarta. Sebab, selain untuk melestarikan plasma nutfah, areal perkebunan padi ini akan menjadi laboratorium mini bagi petani milenial dan pelajar.
 
"Area ini, terbuka untuk siapa saja. Terutama, bagi generasi milenial yang tertarik di bidang pertanian," jelas dia.
 
Agus menuturkan, padi gogo ini ditanam di lahan seluas 5.600 meter. Masing-masing, varietas ditanam di lahan 20 meter. Dari 100 varietas ini, ada beberapa di antaranya varietas lokal yang ditangkar petani. Salah satunya, varietas seribu satu malam yang dilepas sejak 1961 yang lalu.
 
Varietas seribu satu malam ini, salah satu benih padi 'buhun' yang sudah sangat jarang diperoleh saat ini. Karena itu, pihaknya sengaja menyulap areal ini menjadi laboratorium mini untuk wilayah Purwakarta.
 
"Varietas yang ditanam di lahan ini, merupakan benih padi yang sudah sangat jarang diperoleh. Makanya, kedepan lokasi ini bisa menjadi laboratorium," tambah dia.
 
Dia menambahkan, untuk memudahkan informasi bagi pengungjung, pihaknya juga akan menyediakan papan nama di masing-masing petakan tanaman padi itu.
 
Secara terpisah, Ketua DKM Tajug Gede Cilodong, Dedi Mulyadi, mengatakan, padi gogo ini bukan hanya untuk kebutuhan konsumsi. Namun, memiliki nilai estetika. Mengingat, tradisi masyarakat sunda, dari dulu telah menanam padi gogo.
 
"Saat ini, kita kembangkan lagi supaya petani tertarik menanam padi gogo. Sebab, ini sudah jadi tradisi menanam yang diwariskan nenek moyang dahulu," ujar Dedi.
 
Menurutnya, dengan adanya areal perkebunan padi gogo ini, bisa menimbulkan harapan baru. Yaitu, dengan adanya perkebunan padi, maka akan tumbuh pepohonan lainnya. Bahkan, bisa menjadi hutan. Jadi, budidaya padi gogo ini akan melestarikan hutan dan lingkungan. 


Editor : inilahkoran